Menjelajahi Tanah Perjanjian Allah (Bagian 6)

Derek Prince
Published: 2016
Last Updated: Oktober 2026
Read Time: 11
Keputusan! Keputusan! Anda dan saya menghadapi ratusan pilihan setiap hari. Cara kita memutuskan dapat membuat perbedaan yang mengubah hidup. Syukurlah, Tuhan berjanji untuk menunjukkan jalan kepada kita! Inilah bagaimana Derek mendefinisikan topik bimbingan dalam surat ini: "Bagaimana menemukan jalan yang benar melalui setiap situasi dan keadaan dalam hidup kita." Bahkan definisi singkat itu menawarkan harapan saat kita merenungkan semua keputusan di depan kita.
Panduan
Selama bertahun-tahun dalam pelayanan, saya telah memberikan konseling kepada ribuan orang Kristen yang menghadapi berbagai masalah dan tantangan. Satu kebenaran yang konsisten saya temukan adalah ini: Allah, dalam firman-Nya, telah memberikan kepada kita janji-janji yang besar dan dahsyat yang dapat digunakan untuk menghadapi dan mengatasi setiap masalah dalam kehidupan. Meskipun masalah kita mungkin berbeda-beda, namun akar permasalahan dasarnya tidak berubah: seperti realitas dosa, kebutuhan akan keselamatan total, masalah penderitaan mental, dan kebutuhan akan hikmat praktis dari waktu ke waktu. Inilah beberapa topik yang telah kita bahas dalam seri ini, "Menjelajahi Tanah Perjanjian Allah."
Inti dari Permasalahan
Dalam pengajaran-pengajaran ini, tujuan saya adalah untuk menunjukkan kepada Anda bagaimana menemukan dan mengklaim janji-janji spesifik Allah untuk setiap situasi yang akan Anda hadapi. Ini adalah penerapan praktis dari salah satu prinsip terbesar dalam Alkitab, dan juga merupakan dasar dari seri ini: bahwa penyediaan Allah bagi kita ada di dalam janji-janji-Nya, dan janji-janji itu adalah warisan kita.
Dalam surat pengajaran saya sebelumnya, kita melihat janji Allah untuk memberikan hikmat kepada semua orang yang memohon kepada-Nya dengan iman. Saya telah menjelaskan bahwa hikmat yang disampaikan dalam Alkitab bukanlah hikmat yang "super-spiritual" atau bergantung pada pemahaman akan istilah-istilah teologis yang rumit. Sebaliknya, hikmat itu sederhana, praktis, dan apa adanya.
Dalam pengajaran kali ini, kita akan berfokus pada satu bidang khusus di mana kita sering membutuhkan kebijaksanaan praktis semacam ini. Topik yang saya bahas dapat diringkas dalam satu kata: panduan. Faktanya adalah, untuk menemukan jalan yang benar dalam setiap situasi dan kondisi dalam hidup kita, kita membutuhkan panduan. Janji-janji Allah mencakup kebutuhan tersebut.
Mari kita mulai bagian ini dengan melihat janji-janji yang terdapat dalam Mazmur 37:4-5:
"dan bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu. Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak.” (TB)
Mungkin Anda memperhatikan sesuatu yang menarik dari ayat ini: ayat pertama menjelaskan orang seperti apa yang memenuhi syarat untuk mendapatkan janji di ayat kedua. Janjinya adalah, "Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak."
Tetapi sebelum kita berfokus pada janji tersebut, mari kita lihat orang seperti apakah yang dapat menerima janji ini. Allah berkata, "Bergembiralah karena TUHAN, maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu." Namun, apa maksud dari perkataan itu sebenarnya?
Ketika saya baru percaya, saya memahami ayat tersebut dengan cara ini: jika saya melakukan apa yang Allah inginkan, maka Dia akan memberikan apa yang saya inginkan. Namun, ketika saya menjadi lebih dewasa secara rohani, saya melihat bahwa janji dalam ayat ini ternyata lebih dalam dari itu. Sekarang saya memahami ayat ini sebagai berikut: jika saya bersukacita di dalam Tuhan - jika saya benar-benar ingin untuk menyenangkan Tuhan dan menemukan kepuasan saya di dalam Dia - maka Dia akan memberikan kepada saya keinginan-keinginan hati saya. Dan inilah cara Dia melakukannya: melalui Roh Kudus, Dia akan menanamkan di dalam hati saya keinginan-keinginan yang Dia sendiri ingin penuhi. Keinginan saya akan berpusat pada Allah dan menyenangkan Allah, bukan berpusat pada diri sendiri dan menyenangkan diri sendiri.
Jadi, bersukacita di dalam Tuhan akan membawa perubahan dalam keinginan hati Anda. Alih-alih mementingkan diri sendiri dan berpusat pada diri sendiri, Anda akan menerima dari Allah-melalui Roh Kudus-keinginan, motif, dan ambisi yang ilahi dan berpusat pada Nya. Lebih jauh lagi, ketika Allah menjawab keinginan-keinginan itu dan memenuhi ambisi-ambisi itu, Dia akan memuliakan diri-Nya dan memperluas kerajaan-Nya. Izinkan saya menambahkan bahwa keinginan Allah selalu jauh lebih baik bagi kita dan jauh lebih menguntungkan daripada keinginan dan ambisi kita yang egois, yang sering kali merugikan diri kita sendiri dan orang lain.
Tiga Tahapan Janji
Mari kita lihat janji dalam Mazmur 37:5, yang merupakan bagian kedua dari pelajaran ini.
"Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak." (TB)
Seperti yang saya lihat, ada tiga tahap yang berurutan untuk janji ini. Yang pertama adalah sebuah tindakan: "Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN." Berserah adalah satu tindakan yang harus dilakukan sekali saja. Apa yang kita serahkan? "hidup" kita - yang mencakup beban-beban yang kita pikul dan keputusan-keputusan yang telah kita ambil.
Menariknya, di mana dikatakan dalam ayat ini "serahkanlah hidupmu," bahasa Ibrani aslinya secara harfiah mengatakan, "gulingkanlah jalanmu pada Tuhan." Menurut Anda, mengapa pemazmur mengatakan, "Gulingkanlah jalanmu pada Tuhan"? Saya punya jawaban khusus untuk pertanyaan itu, berdasarkan pengalaman pribadi saya.
Dilema Seorang Guru
Pada suatu waktu dalam hidup saya, saya pernah menjadi kepala sekolah sebuah perguruan tinggi di Afrika Timur untuk melatih para guru di Afrika. Tidak seperti sekolah-sekolah kami di Barat, seorang kepala sekolah di Afrika Timur adalah pelayan semua orang. Dia harus melakukan segalanya. Jika ada keran air yang bocor, dia harus memperbaikinya. Jika ada kekurangan makanan, dia harus memenuhinya. Di sekolah kami, nasi adalah menu favorit para siswa. Jadi, saya sering harus pergi ke kota setempat dan membeli berkarung-karung beras, yang masing-masing beratnya 112 pon. Saya harus membawa karung-karung beras tersebut dengan mobil station wagon kecil saya ke gudang tempat penyimpanan makanan.
Orang-orang Afrika yang sedang menempuh pendidikan tersebut memiliki sikap bahwa karena mereka berada di perguruan tinggi, maka bekerja dengan tangan adalah hal yang tidak bermartabat. Jadi saya memberikan contoh dengan membantu menurunkan karung-karung beras dari bagian belakang mobil. Saya menemukan bahwa jika karung beras berada dalam posisi berdiri di bagian belakang mobil, akan jauh lebih mudah bagi saya untuk menggotongnya di punggung dan membawanya ke gudang. Tetapi kesulitan yang sesungguhnya adalah untuk menurunkan karung beras itu tanpa mencederai punggung saya. Saat itulah saya belajar tentang menggulingkan beban saya kepada Tuhan. Saya menemukan bahwa alih-alih menurunkan karung secara perlahan, jika saya memberikan sedikit sentakan cepat dan menggulingkan karung itu dari punggung saya dalam satu gerakan, karung itu akan berdiri di satu sisi di lantai sebelah saya. Saya menjadi cukup terampil dalam melakukan hal itu.
Ketika pemazmur berkata, "gulingkanlah jalanmu pada Tuhan," bagaimana kita memilih untuk menjalani hidup kita adalah seperti sebuah karung seberat 112 pon. Terlalu berat untuk kita pikul sendiri; itu adalah keputusan dan tanggung jawab yang terlalu besar. Pemazmur berkata kepada kita, "Jangan coba-coba memikul karung itu. Gulingkan saja karung itu dari punggungmu dan letakkan di kaki Tuhan. Dia akan mengurusnya." Jadi itu adalah tahap pertama: "Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN," atau "Gulingkanlah jalanmu kepada Tuhan."
Kepercayaan Sederhana
Fase kedua dari janji kami adalah sikap-kepercayaan. Berkomitmen adalah tindakan satu kali; kepercayaan adalah sikap yang berkelanjutan. Sekali kita berkomitmen, kita tidak akan terus berkomitmen. Sebaliknya, kita mengambil sikap bahwa kita sudah berkomitmen, dan yang harus kita lakukan sekarang adalah terus percaya. Berkomitmen adalah tindakan; kepercayaan adalah sikap.
Allah Sedang Melakukannya
Tahap ketiga adalah, dalam terjemahan bahasa Inggris, "Allah akan melakukannya." Namun, dalam bahasa Ibrani secara harfiah dikatakan, "Allah sedang melakukannya." Saya memahaminya dengan cara ini: Pertama, kita menyerahkan jalan kita kepada Tuhan; kemudian kita mempertahankan sikap percaya yang teguh dan terus menerus. Masalahnya ada di tangan Allah dan selama kita terus percaya, Allah yang melakukannya. Dengan kata lain, Dia mengerjakan apa pun yang telah kita serahkan kepada-Nya. Apapun keputusannya, apapun jalan yang harus kita tempuh, Allah sedang mengerjakannya.
Bagi saya, ini seperti pergi ke bank dan menyimpan uang di rekening tabungan. Menyetorkan uang adalah tindakan komitmen. Setelah itu, Anda tidak perlu kembali ke bank setiap hari untuk mengecek apakah uang Anda mendapatkan bunga. Anda yakin bahwa bank akan menambahkan bunga pada uang Anda dari hari ke hari. Itu adalah sikap kepercayaan yang berkelanjutan. Selama Anda membiarkan uang Anda disimpan dengan aman di bank dan mempertahankan sikap percaya tersebut, bank akan terus melakukannya. Sama halnya dengan Allah. "Serahkanlah hidupmu kepada-Nya, percayalah kepada-Nya, dan Dia akan melakukannya."
Mengarahkan Jalan Kita
Sekarang kita melihat janji lain tentang petunjuk dari Tuhan. Hal ini ditemukan dalam Amsal 3 ayat 5-6:
"Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.” (TB)
Sebuah terjemahan alternatif dan sah adalah, "Dia akan menunjukkan jalanmu." Allah akan mengarahkan jalanmu; Dia akan menunjukkan jalan yang benar dalam hidupmu. Itu adalah janji yang kita butuhkan untuk setiap situasi saat ini.
Apa saja syarat-syaratnya? Sedikit banyak, syarat-syarat itu mirip dengan yang terdapat di Mazmur 37. Syarat pertama adalah, "Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu." Pertahankan sikap percaya yang terus menerus dan Anda akan menemukan bahwa dengan percaya, selalu ada kedamaian. Ketika Anda menjadi resah dan cemas, itu adalah indikasi bahwa Anda telah berhenti percaya.
Kondisi kedua adalah negatif: "Janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri." Jangan kembali mempercayai penilaian Anda sendiri dan mencoba mencari jalan keluar sendiri. Salah satu halangan terbesar untuk menerima jawaban Allah atas doa-doa kita adalah ketika kita mencoba merancang bagaimana seharusnya Allah menjawab doa kita!
Terus terang, Allah tidak berkomitmen untuk menjawab doa kita seperti yang kita pikirkan. Ketika kita mulai mencoba mengusahakannya, kita sebenarnya tergelincir ke dalam sikap pikiran dan roh yang bekerja melawan kita. Sikap tersebut membuat kita sulit untuk menerima jawaban yang sedang Allah kerjakan bagi kita. Jadi, janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.
Mengakui Allah
Syarat ketiga dalam Amsal pasal 3 adalah, "Akuilah Dia dalam segala lakumu." Apa maksudnya? Izinkan saya menjelaskan apa yang saya pahami tentang mengakui Allah. Artinya, setiap saat, dalam setiap situasi, waktu, atau tempat, Anda berhenti dan berkata, "Ya Allah, aku bersyukur atas kesetiaan-Mu kepadaku. Aku berterima kasih atas semua kebaikan yang telah Engkau lakukan untukku. Aku berterima kasih atas cara Engkau membuktikan diri-Mu dalam begitu banyak situasi dan keadaan dalam hidupku. Engkau telah membawaku sejauh ini dan aku percaya Engkau akan terus memimpinku." Itulah cara untuk mengakui Allah dalam segala lakumu.
Saya ingat pada tahun 1964 ketika saya mengundurkan diri dari jabatan pendeta di sebuah kota di daerah Pasifik Barat Laut. Langkah saya selanjutnya adalah berkomitmen untuk menjadi seorang pendeta keliling tanpa gaji tetap, atau tempat tinggal tetap. Tidak ada modal - bahkan tidak ada mobil sendiri. Saya memiliki seorang istri dan seorang anak yang harus saya tanggung, namun saya tahu bahwa Allah mendorong saya untuk melakukan pelayanan yang baru ini. Ketika saya menantikan Allah dan mencari-Nya untuk mendapatkan jaminan keamanan dalam pelayanan yang baru ini, Allah memberikan saya ayat-ayat Alkitab yang saya kutip di atas: "Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu."Saya ingin bersaksi bahwa saya telah membuktikan kebenarannya dalam tahun-tahun yang telah berlalu. Saya telah membuktikan bahwa ayat yang indah tersebut dapat dipercaya. "Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu."
Bersyukurlah Kepada-Nya
Setiap kali Anda sampai pada titik balik atau pilihan dalam jalan hidup Anda, berhentilah sejenak dan mulailah mengakui Allah. Bersyukurlah kepada-Nya atas semua yang telah Dia lakukan untuk Anda. Berterima kasihlah kepada-Nya atas semua kesetiaan-Nya, atas cara Dia menjawab begitu banyak doa dan menyelesaikan begitu banyak masalah di masa lalu. Kemudian, setelah mengakui Dia, teruslah mempercayai Dia untuk tetap setia di masa depan seperti yang Dia lakukan di masa lalu. Ketahuilah bahwa Dia akan mengarahkan jalan Anda.
Tindakan yang saya sarankan untuk mengakui Allah akan menjadi cara yang luar biasa bagi kita untuk mengakhiri surat Warisan Pengajaran bulan ini. Maukah Anda bergabung bersama saya dalam doa?
*Prayer Response
Tuhan, Engkau telah begitu baik kepadaku-jauh melampaui apa pun yang dapat kuminta atau layak kudapat. Engkau telah setia di setiap langkahku-menuntunku, menolongku, dan menyediakan kebutuhanku.
Engkau telah menolongku melalui tantangan dan kesulitan yang aku hadapi sejauh ini, dan aku tahu dan percaya bahwa pertolongan-Mu akan terus berlanjut. Terima kasih atas kasih dan kesetiaan-Mu kepadaku.
Bersama dengan pemazmur aku menyatakan: "Dalam segala jalanku, aku mengakui Engkau. Aku tahu Engkau akan terus mengarahkan jalanku." Untuk semua ini, Tuhan, aku memberikan pujian dan syukur kepada-Mu. Dalam nama Yesus, Amin.

Unduh Gratis
Surat Pengajaran ini tersedia untuk diunduh, dicetak, dan dibagikan bagi keperluan pribadi atau gerejawi.
Unduh PDFKode: TL-L113-100-IND









