Sudut Pandang Kekekalan

Teaching Legacy Letter
*First Published: 2025
*Last Updated: April 2026
6 min read
This teaching is not currently available in Bahasa Indonesia.
Mengapa Hal-hal Buruk Terjadi pada Umat Allah. Ini bukan hanya judul dari sebuah buku yang sangat membantu karangan Derek Prince. Ini juga merupakan sebuah topik yang menjadi pergumulan setiap orang Kristen (dan setiap manusia) di sepanjang hidup ini. Pengertian mengenai pertanyaan yang sulit untuk dimengerti ini adalah tema surat pengajaran bulan ini.
Edisi Pengajaran Warisan Derek Prince ini didedikasikan untuk pertanyaan umum mengapa hal-hal buruk terjadi. Seperti yang mungkin telah Anda ketahui, topik ini diambil dari buku Derek yang berjudul Mengapa Hal-Hal Buruk Menimpa Umat Allah (Why Bad Things Happen to God’s People), yang didasarkan hampir seluruhnya dari kehidupan dan pengalaman Ayub.
Memandang Dari Kekekalan
Ketika kita mempelajari bagaimana perlakuan Allah terhadap Ayub, kita mulai menyadari bahwa prioritas Allah bagi kita mungkin berbeda dari prioritas kita bagi diri sendiri. Kita mungkin menganggap sesuatu itu penting, tetapi Allah mungkin memandang segala sesuatu dengan sangat berbeda.
Pertama, Allah menempatkan yang rohani di atas yang jasmani; dan kedua, Dia menempatkan yang kekal di atas yang fana. Allah tidak akan pernah mengorbankan sesuatu yang kekal demi sesuatu yang fana. Dia selalu bekerja dengan memandang kepada kekekalan. Hanya ketika masuk ke dalam kekekalan, kita akan dapat melihat ke belakang dan mengerti apa yang Allah lakukan bagi kita. Kita tidak dapat melihat semuanya sekarang. Kita harus berjalan dengan iman dan kepercayaan.
Saya selalu terkesan dengan kutipan indah yang ditulis oleh Hudson Taylor. Ia adalah salah satu misionaris besar abad kesembilan belas, pendiri China Inland Mission, dan seorang hamba Allah yang memiliki visi untuk China. Menjelang akhir hidupnya, ia menulis, “Dulu saya memiliki visi yang jelas tentang apa yang akan saya lakukan bagi Allah. Namun sekarang tidak lagi—saya hanya bergerak dalam kepercayaan.” Itulah kedewasaan. Kedewasaan bukanlah menjadi lebih pintar. Kedewasaan adalah menjadi lebih percaya.
Allah Berkenan Akan Kesetiaan Kita
Kita bisa melihat dari kisah Ayub bahwa Allah dapat merasa bangga akan hamba-hamba-Nya yang setia. Saya menggunakan kata ini dengan hati-hati karena Allah tidaklah bersalah karena kesombongan. Namun, Allah sangat antusias kepada orang-orang yang melakukan kehendak-Nya. Pertimbangkan lagi apa yang Dia katakan kepada Iblis dalam Ayub 1:8:
"Lalu bertanyalah TUHAN kepada Iblis: "Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku Ayub? Sebab tiada seorang pun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan." TB
Allah sangat berkenan dengan Ayub sehingga Ia menunjukkannya kepada Iblis. Allah pada dasarnya berkata, "Iblis, engkau belum berhasil dengannya; ia mengikuti-Ku." Kita tahu apa yang Iblis katakan: "Baiklah, ambil saja apa yang ia miliki dan mari kita lihat apa yang akan terjadi nanti."
Kejadian itu terulang saat Iblis muncul untuk kedua kalinya:
Firman TUHAN kepada Iblis: "Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku Ayub? Sebab tiada seorang pun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan. Ia tetap tekun dalam kesalehannya, meskipun engkau telah membujuk Aku melawan dia untuk mencelakakannya tanpa alasan." (Ayub 2:3 TB)
Sadarkah Anda saat membaca ayat ini bahwa Allah mungkin sedang menunjuk kepada Anda? Ia mungkin sedang berkata kepada Iblis mengenai Anda, "Iblis, sudahkah engkau memperhatikan yang satu itu? Mereka setia. Mereka telah melewati masa sulit. Mereka tidak pernah menyerah. Mereka tidak pernah menyangkal Aku. Dan mereka tetap setia pada komitmen awal mereka." Memikirkan bahwa Allah bisa membanggakan kita adalah sungguh menggembirakan!
Sudut Pandang Surgawi
Kitab Ayub juga memberi kita sudut pandang surgawi tentang peristiwa-peristiwa di bumi, yang hanya terdapat di Alkitab. Ketika kita membaca kisah Ayub, kita membaca apa yang terjadi di Surga sebelum kisah itu bahkan dimulai di bumi. Kita melihat skenario di mana Allah menunjuk Ayub kepada Iblis dan berkata, “Iblis, kamu belum berhasil melawannya. Dia masih berpegang teguh pada integritasnya. Aku bangga padanya.”
Sudah bertahun-tahun saya membiasakan diri untuk memproklamasikan Firman Allah dengan suara lantang. Saya mendapati bahwa ketika saya menerima suatu proklamasi baru dari Allah dan mulai memproklamasikannya, hampir seketika sesuatu akan terjadi untuk menghalangi saya. Akan muncul beberapa gangguan atau rintangan yang bertujuan untuk mengesampingkan proklamasi itu. Atau akan ada upaya oleh musuh untuk membuktikan bahwa hal itu tidak benar, atau mencoba meyakinkan saya bahwa saya tidak bisa memproklamasikannya sebagai kebenaran.
Pada titik itu, saya selalu diperhadapkan dengan sebuah keputusan—apakah saya akan terus memproklamasikannya atau membiarkan keadaan mendikte saya? Setiap kali itu terjadi, saya menganggapnya sebagai pertanda baik, karena salah satu indikasi bahwa sesuatu itu sesuai dengan kehendak Allah adalah ada pertentangan dari Iblis. Ketika kita menghadapi perlawanan dari musuh, itu berarti kita sedang membahayakan Iblis.
Mengungkapkan Takdir Kita
Allah memiliki rencana dan takdir bagi Ayub, dan demikian juga Allah memiliki takdir yang tinggi bagi kita di dalam Kristus. Takdir Allah begitu menakjubkan. Hampir tidak dapat dipercaya apa yang telah Allah rencanakan bagi kita. Rasul Paulus menulis dalam kitab Efesus 2:4-6:
“Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita, telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita — oleh kasih karunia kamu diselamatkan – dan di dalam Kristus Yesus Ia telah membangkitkan kita juga dan memberikan tempat bersama-sama dengan Dia di sorga.” TB
Terjemahan Weymouth berbunyi, “mendudukkan kita di atastakhta.” Kita telah dihidupkan kembali. Kita telahdibangkitkan. Kita telah didudukkan di atas takhta. Semuanyaitu sudah terjadi di masa lalu, bukan di masa depan. Pauluskemudian memberikan kita alasannya dalam ayat 7:
“supaya pada masa yang akan datang Ia menunjukkan kepada kita kekayaan kasih karunia-Nya yang melimpah-limpah sesuai dengan kebaikan-Nya terhadap kita dalam Kristus Yesus.” TB
Sungguh suatu pemikiran yang mencengangkan! Allahberfirman, "Orang-orang berdosa ini yang dulunyapemberontak, najis, dan terhilang—Aku akan menyelamatkanmereka, menguduskan mereka, dan mengangkat mereka.Sepanjang kekekalan, mereka akan menjadi demonstrasianugerah-Ku bagi seluruh alam semesta." Jika ini adalahtujuan kita, maka tidak heran kita melewati beberapa ujian.
Ketika kita memandang pelajaran-pelajaran dari Ayub darisudut pandang kekekalan, kita memahami mengapa kitaharus bersikeras maju untuk menggenapi tujuan-tujuan-Nyabagi kita.
Percaya kepada-Nya
Mungkin, seperti Ayub, Anda tengah mengalami musimpenderitaan, bertanya-tanya mengapa Anda mengalamikesulitan demi kesulitan yang menimpa Anda. Seperti yangDerek tunjukkan dalam kutipan dari Hudson Taylor, hal itumungkin adalah masalah kepercayaan.
Mengapa kita tidak meluangkan waktu sejenak sekarang diakhir surat pengajaran ini untuk mendekat kepada Tuhan danmenyatakan kepercayaan kita sepenuhnya dalamrencana-Nya yang mutlak?
*Prayer Response
Tuhan yang terkasih, aku tidak tahu alasan penderitaan yangaku dan keluarga alami. Dengan iman, aku menyatakanbahwa aku tidak perlu mengetahuinya. Bagaimanapun juga,aku percaya itu adalah bagian dari menggenapi rencana-Mudalam hidupku. Aku percaya kepada-Mu, Tuhan.
Satu-satunya kenyataan yang aku butuhkan di tengahpenderitaanku adalah kepastian bahwa Engkau besertaku,dan bahwa semua yang telah terjadi tidak di luarrencana-Mu yang berdaulat atas hidupku.
Dengan doa ini, saya menyerahkan kepercayaanku,kehidupanku, dan masa depanku ke dalam tangan-Mu.Amin.
Kode: TL-L165-100-IND