Mengikuti Pola Yesus

Derek Prince
*First Published: 2025
*Last Updated: April 2026
6 min read
This teaching is not currently available in Bahasa Indonesia.
Kewajiban Gereja di zaman modern ini adalah untuk menyampaikan Injil kepada seluruh dunia—sebuah tugas yang tampaknya mustahil. Dalam Surat Warisan Pengajaran yang diambil dari buklet dengan judul Perintah Terakhir Kristus (Christ’s Last Order), Derek Prince membandingkan tugas itu dengan mukjizat Yesus memberi makan orang banyak. Apakah maksudnya? Kita hanya akan berhasil jika kita meneladani Tuhan kita, "Mengikuti Pola Yesus."
Lalu Yesus menyuruh orang banyak itu duduk di tanah. Sesudah itu Ia mengambil ketujuh roti dan ikan-ikan itu, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya memberikannya pula kepada orang banyak. Dan mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, tujuh bakul penuh. Yang ikut makan ialah empat ribu laki-laki, tidak termasuk perempuan dan anak-anak. — Matius 15:32–39 TB
Pelajaran apa yang bisa kita petik dari kisah memberi makan lima ribu orang dan memberi makan empat ribu orang?
Secara sederhana, saya ingin mengambil tantangan memberi makan sepuluh ribu dan/atau delapan ribu orang, dengan nyaris tanpa makanan, sebagai pola bagi kita. Pada intinya, hal ini sama dengan tantangan untuk memberitakan Injil kepada dunia yang berpenduduk sekitar tujuh miliar orang.
Tugas yang Mustahil?
Jelaslah kita harus mengakui bahwa apa yang Yesus minta para muridNya lakukan adalah benar-benar mustahil. Mereka tidak memiliki kemampuan alamiah atau sarana untuk melakukan apa yang Dia minta. Namun, Dia menuntut mereka untuk melakukannya.
Dalam istilah matematika, jika saya harus membandingkan kemustahilan memberi makan sepuluh ribu orang dengan lima roti dan dua ikan dengan kemustahilan memberitakan Injil kepada seluruh dunia hari ini, saya harus mengatakan bahwa hal yang pertama adalah kemustahilan yang lebih besar di antara keduanya.
Berdasarkan situasi dunia saat ini, dengan sarana komunikasi dan transportasi modern, serta sumber daya yang tersedia bagi gereja, sebenarnya tidaklah mustahil untuk memberitakan Injil ke seluruh dunia. Namun, ini jelas merupakan tugas yang sangat besar.
Dalam pelajaran ini, saya ingin membuat dua perbandingan dan menerapkan beberapa pelajaran yang sangat sederhana dan bermanfaat bagi kita. Pelajaran-pelajaran ini akan berkaitan dengan tugas kita dalam memberitakan Injil kepada seluruh dunia—kepada setiap bangsa, kepada setiap makhluk, sampai ke ujung bumi. Dari dua kisah penyediaan yang ajaib ini, saya ingin mengambil lima prinsip sederhana.
1. Jangan Menghindari Tanggung Jawab
Pertama-tama, ketika kita membaca kisah pemberian makan lima ribu orang dalam Injil Matius, sangat jelas bahwa para murid tidak mau memikul tanggung jawab untuk memberi makan orang banyak itu.
Namun, mari kita cermati bagaimana Yesus memandang tanggung jawab itu. Inilah yang Yesus katakan kepada murid-murid-Nya: "Kamu harus memberi mereka makan." Saya percaya prinsip yang sama benar-benar berlaku bagi gereja saat ini. Kita mungkin juga ingin menghindar dari tanggung jawab memberitakan Injil kepada seluruh dunia. Namun Yesus pada intinya berkata, "Itu adalah tugasmu. Itu adalah tanggung jawabmu. Aku telah memerintahkanmu untuk melakukannya. Dan Aku tidak pernah menarik kembali perintah itu."
2. Gunakan yang Alami dan yang Supernatural
Kedua, ada dua komponen penting yang ingin saya soroti sebagai ilustrasi dari peristiwa pemberian makan lima ribu orang dan empat ribu orang. Mukjizat-mukjizat itu menunjukkan hubungan yang sangat penting antara dua konsep yang cenderung dianggap oleh sebagian orang Kristen sebagai hampir bertolak belakang. Yang satu adalah apa yang saya sebut keteraturan atau disiplin. Yang satunya lagi adalah kuasa supranatural Allah.
Beberapa kelompok gereja cenderung hanya menekankan pada salah satu hal saja. Ada kelompok yang berfokus pada ketertiban dan disiplin. Setiap orang berbaris rapi; setiap orang dengan pemimpinnya masing-masing; setiap orang bertanggung jawab; setiap orang melakukan persis apa yang seharusnya mereka lakukan; setiap orang di tempat yang semestinya.
Nah, itu tidak salah. Bahkan, itu ditunjukkan dengan sangat jelas dalam peristiwa pemberian makan lima ribu orang.
"Suruhlah mereka duduk berkelompok-kelompok, kira-kira lima puluh orang sekelompok." (Lukas 9:14b TB)
Jika Dia tidak melakukan itu, sebagian orang mungkin tidak akan pernah kebagian makan. Jadi, sangatlah penting bagi para murid untuk memulai dengan menertibkan—memisahkan semua orang ke dalam kelompok berukuran masuk akal agar dapat dilayani.
Namun, perlu saya tekankan di sini bahwa mereka bisa saja mengatur semua orang dengan rapi dalam kelompok lima puluh orang dan membiarkan mereka kelaparan! Apa gunanya itu? Ketertiban, dengan sendirinya, tidaklah cukup. Agar ketertiban itu efektif, kasih karunia dan kuasa Allah yang supranatural harus dilepaskan. Kuasa supranatural dalam melayani Tuhan bukanlah suatu pilihan. Itu adalah suatu keharusan.
Berikut adalah prinsip kedua yang ingin saya sarankan bagi kita. Untuk melakukan mukjizat, keteraturan dan disiplin harus seimbang dan dilengkapi oleh kuasa supranatural Allah.
3. Bagikan Berkat
Prinsip ketiga dari mukjizat memberi makan orang banyak adalah bahwa mukjizat melipatgandakan itu tidak semata-mata bergantung pada Yesus. Sebaliknya, itu bergantung pada para murid dalam meneruskan apa yang telah mereka terima dari Yesus. Jika para murid tidak meneruskan apa yang telah mereka terima, mukjizat itu tidak akan pernah terwujud.
Sekali lagi, saya percaya hal yang sama berlaku bagi Anda dan saya mengenai anugerah Allah. Hal itu tidak hanya bergantung pada Yesus. Mukjizat itu berasal dari Yesus—tetapi harus disempurnakan dengan kerja sama dan aktivitas kita.
4. Melangkah ke dalam Kelimpahan
Prinsip keempat yang saya lihat dalam mukjizat pemberian makan ini adalah bahwa pelipatgandaan terus berlanjut sampai semua kebutuhan terpenuhi—dan bahkan lebih dari itu.
Jelaslah, semua orang diberi makan. Namun lebih dari itu, setelah semua orang diberi makan, mereka memiliki banyak sisa. Sisa makanan yang dikumpulkan lebih banyak pada akhirnya daripada di awal. Itu bukanlah suatu kebetulan.
Dalam mukjizat-mukjizat ini, saya percaya Yesus sedang menunjukkan bahwa sumber daya Allah tidak terbatas. Dia tidak pernah terbatas hanya untuk memenuhi kebutuhan, Dia selalu memberi dalam kelimpahan.
Allah selalu memiliki lebih dari cukup. Sesuai pemahaman saya akan Kitab Suci, Ia selalu bersedia menyediakan bagi kita lebih dari cukup.
5. Mengalami Kelimpahan yang Lebih Besar
Prinsip terakhir yang ingin saya ambil dari mukjizat-mukjizat ini adalah ini: semakin besar kebutuhan dan semakin minim sumber dayanya, maka semakin besar kelimpahan yang akan Anda alami.
Berikut statistiknya. Dalam mukjizat yang pertama, jumlah orang yang akan diberi makan lebih banyak, namun persediaan yang mereka miliki pada awalnya lebih sedikit.
Dalam mukjizat yang pertama, mereka memiliki dua belas keranjang sisa makanan. Dalam mukjizat yang kedua, mereka memiliki tujuh keranjang sisa makanan.
Mengapa Yesus begitu bersikeras [mengenai mengumpulkan sisa-sisa makanan itu]? Saya yakin Ia sedang menekankan prinsip kelima ini dari mukjizat-mukjizat tersebut. Mari kita nyatakan sekali lagi: Semakin besar kebutuhan dan semakin sedikit sumber dayanya, maka semakin besar kelimpahannya. Allah akan selalu memastikan agar kita menyadari bahwa tidak ada kekurangan pada-Nya.
Meminta Mukjizat
Mengingat akan contoh ajaib yang telah Yesus teladankan bagi kita, dan harapan-Nya agar kita menggenapi tanggung jawab yang sangat besar untuk menyebarkan Injil ke seluruh dunia, satu-satunya tanggapan kita adalah untuk berdoa. Mari kita akhiri dengan doa sederhana berikut ini:
*Prayer Response
Dear Lord Jesus, we want to obey Your command to spread the Gospel throughout the world. We know it will take a miracle, and we step by faith into Your miraculous answer for that challenge. Amen.
Kode: TL-L163-100-IND