Mengambil Bagian Dalam Kekudusan-Nya

Teaching Legacy Letter
*First Published: 2009
*Last Updated: Januari 2026
15 min read
Kekudusan adalah sifat unik Allah.
Allah mempunyai banyak sifat lainnya—seperti kasih, bijaksana dan kuasa—yang sampai pada batas tertentu masih dapat kita pahami dengan mengacu pada orang atau benda di dunia alamiah yang menunjukkan sifat-sifat tersebut. Namun kekudusan tidak ada bandingannya di dunia alamiah; kekudusan merupakan kombinasi dari kebenaran dan kasih Allah. Kasih mengundang Anda untuk datang; kebenaran mengatakan bahwa kamu tidak layak untuk datang. Ada ketegangan yang tertanam dalam kekudusan.
Sebuah Karakteristik Umat Allah
Firman Allah memberitahu kita bahwa kekudusan harus menjadi karakteristik umat Allah. Perhatikan kitab Ibrani 12:9–10:
“Selanjutnya: dari ayah kita yang sebenarnya kita beroleh ganjaran, dan mereka kita hormati; kalau demikian bukankah kita harus lebih taat kepada Bapa segala roh, supaya kita boleh hidup? Sebab mereka mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya.” (TB)
Keinginan Allah adalah agar kita dapat mengambil bagian dalam kekudusan-Nya. Kitab Ibrani pasal 12 ayat 14 menambahkan:
“Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan.” (TB)
Pertama, kita harus mengejar kekudusan—kita harus menjadikannya sebuah tujuan.
Kedua, untuk mencapai kekudusan, kita harus mengupayakan perdamaian dengan semua orang. Kita harus berusaha untuk hidup damai, tidak membiarkan pertengkaran atau perselisihan selama masih ada dalam kuasa kita untuk menghindarinya. Penulis kitab Ibrani di sini juga memberikan peringatan yang sangat serius. Dia mengatakan kita tidak akan melihat Tuhan kecuali kita mengambil bagian dalam kekudusan-Nya.
Ayat yang mengungkapkan kerinduan Allah akan kekudusan umat-Nya adalah 1 Tesalonika 4:3: “Karena inilah kehendak Allah: pengudusanmu." Apa sebenarnya pengudusan itu?
Sampai pada batas tertentu, bahasa Inggris mengaburkan arti sebenarnya dari kata ini. Kata kerja apa pun dalam bahasa Inggris yang diakhiri dengan akhiran -ify berarti “menyebabkan menjadi” kata yang ada sebelumnya. Misalnya, membersihkan (purify) berarti “menjadikan bersih”, memperjelas (clarify) berarti “menjadikan jelas”, memperbaiki (rectify) berarti “menjadikan baik”. Secara analogi, menguduskan berarti “menjadikan kudus.” Secara penurunan kata, kata kudus (sanct) sama dengan orang kudus (saint); dan orang kudus (saint), pada akhirnya, sama dengan kudus (holy). Ketiga kata tersebut—menguduskan, orang kudus, kudus—berasal dari satu kata dasar Yunani, hagios, yang berarti kudus. Oleh karena itu, secara sederhana pengudusan adalah "proses untuk menjadikan kudus".
Dengan demikian, kita dapat dengan tepat menerjemahkan kitab 1 Tesalonika 4:3, “Karena inilah kehendak Allah: supaya kamu dijadikan kudus... supaya kamu masing-masing mengetahui cara mengelola bejananya sendiri dalam pengudusan [keadaan yang kudus] dan kehormatan.” Ayat ini mengandung ungkapan umum dalam bahasa Inggris modern: “know how” (mengetahui/pengetahuan). Dibutuhkan pengetahuan kitab suci untuk mencapai keadaan yang kudus.
Bejana seseorang adalah tubuhnya—bejana tanah liat dari jiwa manusia. Banyak orang Kristen berbicara seolah-olah tubuh adalah sesuatu yang jahat—sesuatu yang membuat malu. Tubuh tidaklah jahat, tubuh itu baik adanya. Tubuh adalah salah satu pencapaian tertinggi dari kejeniusan Allah yang kreatif. Daud berkata, “Kejadianku dahsyat dan ajaib” (Mazmur 139:14). Dia memandang tubuhnya dengan rasa kagum dan heran.
Mengapa orang percaya harus mengetahui cara menjaga tubuhnya dalam keadaan yang kudus? Kita dapat menjawabnya dengan menggabungkan dua ayat Kitab Suci: “Tetapi Yang Maha Tinggi tidak diam di dalam apa yang dibuat oleh tangan manusia” (Kisah Para Rasul 7:48); dan “ Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu?” (1 Korintus 6:19). Allah telah menetapkan satu bait suci di bumi untuk ditinggali. Bait suci ini bukanlah dibuat dengan tangan manusia, melainkan merupakan tubuh orang percaya. Oleh karena itu, kita masing-masing perlu mengetahui bagaimana menjaga tubuhnya dalam kondisi yang layak untuk ditinggali Allah.
Alat-alat Yang Digunakan Dalam Pengudusan
Bagaimana Alkitab menggambarkan proses pengudusan, dan peran apa yang kita ambil di dalamnya? Sepengetahuan saya, ada lima alat yang digunakan dalam pengudusan.
Roh Kudus
Tanpa Roh Kudus—atau Roh Kekudusan, sebagaimana Dia disebut dalam bahasa Ibrani—tidak ada harapan bagi kita untuk menjadi kudus.
Akan tetapi kami harus selalu mengucap syukur kepada Allah karena kamu, saudara-saudara, yang dikasihi Tuhan, sebab Allah dari mulanya telah memilih kamu untuk diselamatkan dalam Roh yang menguduskan kamu dan dalam kebenaran yang kamu percayai (2 Tesalonika 2:13). Dalam pengudusan, seperti dalam setiap proses penebusan, inisiatifnya ada pada Allah. Hal ini dimulai dengan Allah memilih kita, yang ditetapkan dalam kekekalan. Selanjutnya urutan kejadian menurut waktunya adalah sebagai berikut.
- Roh Kudus mulai mempengaruhi kita.
- Dia menjauhkan kita dari jalan lebar yang menuju kepada kebinasaan (Matius 7:13).
- Dia membawa kita berhadapan langsung dengan kebenaran (pada akhirnya, Yesus sendiri adalah Kebenaran).
- Dia memberi kita iman untuk mempercayai kebenaran.
- Dengan mempercayai kebenaran kita masuk ke dalam keselamatan.
Dalam kitab Efesus 2:8 Rasul Paulus mengatakan bahwa kita “diselamatkan oleh iman,” dan kemudian mengingatkan bahwa iman ini tidak datang dari hasil usaha sendiri, tetapi diberikan kepada kita sebagai anugerah dari Allah.
Dalam pengertian ini, kita dikuduskan sebagaimana halnya "dikhususkan bagi Allah." Dalam banyak kasus, proses pengudusan dimulai jauh sebelum kita secara pribadi mengenal Allah. Rasul Paulus berkata bahwa ia telah dipilih sejak kandungan ibunya (Galatia 1:15); dan Allah memberi tahu Nabi Yeremia bahwa Dia telah menguduskannya di dalam kandungan ibunya (Yeremia 1:5). Allah mulai memisahkan kita bagi diri-Nya jauh sebelum kita mengetahuinya.
Kitab 1 Petrus 1:2 menyajikan gambaran proses serupa:
“Yaitu orang-orang yang dipilih, sesuai dengan rencana Allah, Bapa kita,dan yang dikuduskan oleh Roh, supaya taat kepada Yesus Kristus dan menerima percikan darah-Nya.” (TB)
Pilihan Allah, yang ditetapkan dalam kekekalan, didasarkan pada pengetahuan Allah sebelum hal itu terjadi—tidak pernah sembarangan, tidak pernah acak. Pengudusan adalah suatu proses yang melaluinya Roh Kudus membawa kita ke tempat yang berhadapan langsung dengan apa yang dituntut oleh Kristus. Roh Kudus memberi kita rahmat untuk menaati Injil dan ketika kita menaatinya, darah Yesus dipercikkan atas kita.
Dalam kedua ayat di atas —2 Tesalonika dan 1 Petrus—inisiatif dalam proses pengudusan ada di tangan Allah, bukan manusia, dan alat pertama dalam proses tersebut adalah Roh Kudus.
Firman
Dalam kitab Efesus 5:25–26, kita menemukan alat pengudusan yang kedua:
“Sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman.” (TB)
Dalam Perjanjian Lama, setelah darah ditumpahkan, setiap korban harus dibasuh dengan air murni. Dalam Perjanjian Baru kitab 1 Yohanes 5:6 mengatakan bahwa Yesus datang “dengan air dan darah.” Darah adalah darah penebusan Kristus yang ditumpahkan di kayu salib, dan air adalah air murni dari Firman. Kristus menebus kita dengan darah-Nya; kemudian Dia menyucikan dan membersihkan kita melalui pembasuhan air dengan Firman.
Yesus berdoa kepada Bapa bagi murid-murid-Nya: “Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran” (Yohanes 17:17). Salah satu cara utama Firman Allah menguduskan kita adalah dengan mengubah cara berpikir kita. Pengudusan berlangsung dari dalam, ke luar; bukan dari luar, ke dalam. Cara pengudusan secara religius adalah dengan mengenakan gaun yang panjang, memotong rambut, dan tidak mengenakan lipstik. Namun Rasul Paulus berkata, “tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna” (Roma 12:2) dan, “supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu” (Efesus 4:23). Roh Kuduslah yang memperbaharui pikiran kita. Dia melakukannya melalui kebenaran, yaitu Firman Allah.
Kita sering menggunakan istilah “cuci otak” dalam artian yang buruk. Namun, kata tersebut tepat untuk menggambarkan cara Roh Kudus memperbaharui pikiran kita, yaitu membasuhnya hingga bersih dengan air murni Firman Allah.
Iman
Inilah amanat besar Rasul Paulus dari Tuhan Yesus Kristus ketika ia diutus kepada bangsa-bangsa bukan Yahudi:
“Untuk membuka mata mereka, supaya mereka berbalik dari kegelapan kepada terang dan dari kuasa Iblis kepada Allah, supaya mereka oleh iman mereka kepada-Ku memperoleh pengampunan dosa dan mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang yang dikuduskan.” (Kisah Para Rasul 26:18 TB)
Elemen yang sangat penting dalam pengudusan adalah iman kita. Roh Allah dan Firman Allah tidak pernah berubah, namun iman kitalah yang memampukan kita menerima apa yang Allah tawarkan melalui alat-alat ini. Proses pengudusan hanya akan efektif jika iman kita mengizinkannya.
Lebih jauh lagi, ada hubungan langsung antara Firman Allah dan iman kita, karena “Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus” (Roma 10:17). Semakin kita mengindahkan Firman Allah, semakin bertambahlah iman kita, sehingga memampukan kita untuk memanfaatkan seluruh persediaan yang telah Allah ciptakan untuk kekudusan kita.
Darah Yesus
Kitab Ibrani 13:12 menyatakan:
“Itu jugalah sebabnya Yesus telah menderita di luar pintu gerbang untuk menguduskan umat-Nya dengan darah-Nya sendiri.” (TB)
Yesus menumpahkan darah-Nya untuk berbagai tujuan. Salah satunya adalah untuk menebus kita. Tujuan lainnya adalah untuk menguduskan atau memisahkan kita bagi Allah dan menjadikan kita kudus.
Adalah mungkin untuk tinggal di tempat di mana dosa dan iblis tidak dapat menyentuh kita karena kita dilindungi dan dikuduskan oleh darah Yesus.
“Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa” (1 Yohanes 1:7 TB)
Kata keterangan waktu yang digunakan dalam ayat ini adalah waktu sekarang yang masih terus berlangsung: Jika kita terus-menerus berjalan dalam terang, kita terus-menerus mempunyai persekutuan, dan darah Yesus terus-menerus menjaga kita tetap bersih. Kita tetap terjaga murni dan tidak tercemar, karena kita hidup dalam elemen yang berbeda. Kita tidak hidup dalam pencemaran dan keburukan dunia yang jahat ini. Kita telah dipisahkan untuk Allah, dikuduskan, dikhususkan oleh darah Yesus.
Ini membawa kita ke ayat penting lainnya:
“Kita tahu, bahwa setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa; tetapi Dia yang lahir dari Allah melindunginya, dan si jahat tidak dapat menjamahnya.” (1 Yohanes 5:18 TB)
Ayat ini menimbulkan pertanyaan—yang sedikit menakutkan. Apakah yang Rasul Yohanes maksudkan adalah bahwa orang yang sudah dilahirkan kembali tidak akan berbuat dosa lagi setelahnya? Bagian-bagian lain dalam Kitab Suci, bersama dengan pengalaman kita sendiri, membuat penafsiran ini tidak mungkin terjadi. Saya yakin, kunci untuk memahami ayat ini adalah dengan melihat bahwa Rasul Yohanes di sini tidak berbicara tentang seseorang secara individu, tetapi tentang suatu sifat. Bukan tentang Saudara David atau Saudari Mary yang tidak dapat berbuat dosa; namun tentang sifat baru yang diterima setiap orang percaya melalui kelahiran kembali, itulah yang tidak bisa berbuat dosa lagi.
Kitab 1 Petrus 1:23 memberi tahu kita bahwa sifat baru ini “lahir…bukan dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana, oleh firman Allah, yang hidup dan yang kekal.” Dalam segala bentuk kehidupan ada satu prinsip yang tidak pernah berubah. Sifat benih menentukan sifat kehidupan yang berasal dari benih tersebut. Biji apel menghasilkan apel, bukan jeruk. Benih Firman Allah yang tidak dapat rusak menghasilkan sifat yang, seperti benih tersebut, tidak dapat rusak. Sifat ini adalah “manusia baru”. Dia tidak dapat rusak. Dia tidak berbuat dosa. Hal ini tidak berlaku bagi setiap orang percaya secara individu, yang dipandang sebagai kepribadian secara keseluruhan, namun berlaku bagi “manusia baru” dalam diri setiap orang percaya.
Ini sesuai dengan kitab 1 Yohanes 3:9:
“Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa lagi; sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah.” (TB)
Bahasa Rasul Yohanes di sini bahkan lebih kuat. Ia tidak hanya mengatakan bahwa orang seperti itu tidak berbuat dosa, tetapi ia tidak dapat berbuat dosa. Mengapa tidak? Karena benih Firman Allah yang tidak dapat binasa, yang tinggal di dalam dia, telah menghasilkan sifat yang sama dengan benih tersebut—tidak dapat rusak. Manusia baru tidak bisa dirusak oleh dosa.
Penafsiran ini ditegaskan dengan membandingkan tiga bagian berbeda dalam kitab-kitab yang ditulis oleh Yohanes. Kitab 1 Yohanes 3:9 mengatakan, “Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa lagi.” Kitab Yohanes 3:6 mengatakan, “Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh.” Terakhir, kitab 1 Yohanes 5:4 mengatakan, “sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia.” Dengan menggabungkan ketiga ayat ini, kita menemukan siapa, itu, dan apa. Yang dibicarakan bukanlah pribadi individu, melainkan sifat yang dihasilkan oleh kelahiran kembali dalam setiap orang percaya. Sifat baru ini tidak dapat rusak dan tidak dapat dikalahkan. Tidak berbuat dosa dan tidak bisa berbuat dosa.
Ketika dilahirkan kembali, jalan hidup saya bergantung pada sifat mana yang mengendalikan saya—manusia baru atau manusia lama. Jika saya terkalahkan, itu karena saya tidak menyelesaikan masalah dengan sifat baru. Sifat baru tidak terkalahkan. Seorang wanita tua yang meraih kemenangan nyata dalam hidupnya pernah ditanya bagaimana dia dapat mengatasi pencobaan. Dia menjawab, “Ketika iblis mengetuk pintu, saya membiarkan Yesus yang menjawab.” Inilah manusia baru—Kristus di dalam diri kita.
Iblis hanya dapat menjamah manusia lama. Allah menciptakan sifat kedagingan manusia dari debu, dan ketika manusia berdosa, Allah memberi tahu ular bahwa sejak saat itu ia akan memakan debu. Sifat kedagingan adalah mangsa iblis yang sah, namun ia tidak dapat menyentuh sifat baru. Manusia baru tidak berbuat dosa, tidak bisa rusak, tidak bisa dikalahkan, tidak bisa dijamah iblis.
Mari kita kembali sekilas ke kitab 1 Yohanes 5:18:
“Kita tahu, bahwa setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa; tetapi Dia yang lahir dari Allah melindunginya, dan si jahat tidak dapat menjamahnya.” (TB)
Ayat ini menempatkan tanggung jawab kepada kita masing-masing yang telah dilahirkan kembali. Kita dituntut untuk menjaga diri kita sendiri. Bagaimana caranya? Dengan darah Yesus. Dan kita melakukan ini dengan berjalan dalam terang, karena kitab 1 Yohanes 1:7 mengatakan:
Tetapi jika kita hidup [terus-menerus] di dalam terang...darah Yesus, anak-Nya itu, [terus-menerus] menyucikan kita dari pada segala dosa.” (TB)
Berjalan dalam terang, menjaga diri kita dengan darah Yesus, manusia baru hidup di dunia di mana iblis tidak dapat menjangkaunya. Dia tidak dapat binasa, tidak dapat dikalahkan, dipisahkan dari segala kuasa dan pencemaran kejahatan oleh darah Kristus.
Mezbah
Alat pengudusan yang kelima di satu sisi adalah kunci praktis—tempat dimana pengudusan dilakukan. Dalam kitab Matius 23:16–17, Yesus menegur ajaran ahli-ahli Taurat:
“Celakalah kamu, hai pemimpin-pemimpin buta, yang berkata: Bersumpah demi Bait Suci, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi emas Bait Suci, sumpah itu mengikat. Hai kamu orang-orang bodoh dan orang-orang buta, apakah yang lebih penting, emas atau Bait Suci yang menguduskan emas itu?” (TB)
Yesus mengatakan bahwa emas itu sendiri tidak kudus; itu hanyalah logam. Namun ketika dibangun menjadi Bait Allah, logam tersebut menjadi kudus. Bait Allah menjadikannya kudus.
Dalam ayat 18 dan 19 Ia melanjutkan,
“Bersumpah demi mezbah, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi persembahan yang ada di atasnya, sumpah itu mengikat. Hai kamu orang-orang buta, apakah yang lebih penting, persembahan atau mezbah yang menguduskan persembahan itu?” (TB)
Persembahan tidak menguduskan mezbah, tetapi mezbah yang menguduskan persembahan yang diletakkan di atasnya.
Dalam Perjanjian Lama, sampai persembahan diletakkan di atas mezbah, yang ada hanyalah tubuh seekor binatang. Tetapi ketika ditempatkan di atas mezbah dan diikatkan padanya, maka persembahan tersebut menjadi kudus, dikhususkan bagi Allah. Hal ini juga berlaku bagi orang percaya dalam Perjanjian Baru. Rasul Paulus berkata:
”Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” (Roma 12:1 TB)
Saya percaya satu-satunya perbedaan antara persembahan dalam Perjanjian Lama dan persembahan dalam Perjanjian Baru adalah bahwa tubuh kita tetap hidup ketika kita menempatkannya di atas mezbah. Namun dalam setiap perkara, prinsip pengudusan adalah sama. Mezbah itulah yang menguduskan persembahan yang diletakkan di atasnya.
Perhatikan betapa eratnya tindakan mempersembahkan tubuh kita kepada Allah dengan proses pengudusan dalam pikiran kita. Dalam ayat 2 Rasul Paulus melanjutkan:
“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” (TB)
Perubahan dalam pikiran dan alasan dalam bertindak tidak dapat dicapai sampai kita melepaskan semua hak atas tubuh kita sendiri dan menempatkannya tanpa syarat di mezbah Allah, untuk dipakai sesuai dengan kehendak Allah.
Mari kita meninjau secara singkat peran masing-masing dari kelima alat ini dalam pengudusan kita. Roh Kudus memisahkan kita dan membawa kita pada keyakinan dan ketaatan pada Injil. Firman Allah, seperti air murni, membasuh pikiran kita, mengubah cara pikir dan sikap kita, menjadikannya sejalan dengan standar Allah. Iman kita, yang datang melalui pendengaran akan Firman Allah, memampukan kita untuk menerima sepenuhnya penyediaan Allah bagi kita. Ketika kita terus berjalan dalam ketaatan, darah Yesus menjaga kita dalam tempat yang dipisahkan bagi Allah, di mana dosa dan iblis tidak dapat menajiskan atau mengalahkan kita. Yang terakhir, mezbah pelayanan menguduskan persembahan hidup dari tubuh kita, ketika kita menyerahkannya tanpa syarat kepada Allah.
Dengan pikiran yang diperbarui, kita memahami dan menyisihkan kehendak Allah yang sempurna bagi kita—bahwa kita menjadi umat yang kudus, dikuduskan, dikhususkan bagi Allah— mengambil bagian dalam kekudusan-Nya.
Kode: TL-L070-100-IND