Garam Dunia

Teaching Legacy Letter
*First Published: 2009
*Last Updated: Februari 2026
14 min read
“Kamu adalah garam dunia” (Matius 5:13 TB). Dalam pernyataan ini, Tuhan Yesus tidak hanya berbicara kepada murid-murid-Nya, namun kepada kita semua yang mengakui otoritas pengajaran-Nya. Tuhan Yesus membandingkan fungsi kita di dunia dengan fungsi garam. Makna yang ingin disampaikanNya menjadi jelas ketika kita mempertimbangkan dua kegunaan umum garam dalam kaitannya dengan makanan: garam memberikan rasa dan garam dapat menahan kerusakan.
Garam Memberikan Rasa
Sebagai umat Kristen, fungsi kita sebagai garam adalah memberi rasa pada dunia. Allah berkenan akan rasa ini. Makanan yang tidak menggugah selera sekalipun dapat menjadi enak dan sedap dimakan jika dibumbui dengan garam. Ayub mempertanyakan pertanyaan retoris ini:
“Dapatkah makanan tanpa rasa dimakan tanpa garam?” (Ayub 6:6 TB)
Kehadiran garam membawa perbedaan, menyebabkan kita menikmati makanan yang sebelumnya tidak membuat kita nafsu makan.
Kehadiran kita membuat dunia berkenan kepada Allah dan menyerahkan dunia dalam belas kasihan-Nya. Karena keberadaan kita di sini, Allah menangani dunia dengan kasih karunia dan belas kasihan, bukan dengan murka dan penghakiman. Kehadiran kita membawa perbedaan.
Prinsip ini diilustrasikan dengan jelas dalam kisah Abraham yang menjadi perantara untuk Sodom, sebagaimana dicatat dalam kitab Kejadian 18:16–33. Tuhan memberitahu Abraham bahwa Dia akan pergi ke Sodom untuk melihat apakah kejahatan kota itu sudah sampai pada titik dimana penghakiman tidak dapat lagi ditunda. Abraham kemudian berjalan bersama Tuhan dalam perjalanan-Nya dan bertukar pikiran dengan-Nya tentang situasi tersebut.
Prinsip Penghakiman
Pertama-tama Abraham menetapkan prinsip yang menjadi dasar dari apa yang terjadi kemudian: Allah tidak pernah menghendaki agar penghakiman bagi orang fasik menimpa orang benar. “Apakah Engkau akan melenyapkan orang benar bersama-sama dengan orang fasik?” Abraham bertanya (ayat 23 TB). “Jauhlah kiranya dari pada-Mu untuk berbuat demikian, membunuh orang benar bersama-sama dengan orang fasik, sehingga orang benar itu seolah-olah sama dengan orang fasik! Jauhlah kiranya yang demikian dari pada-Mu! Masakan Hakim segenap bumi tidak menghukum dengan adil?” (ayat 25 TB).
Tuhan memperjelas dalam percakapan berikutnya bahwa Dia menerima prinsip yang dinyatakan oleh Abraham. Betapa pentingnya agar semua orang percaya memahami hal ini! Jika kita telah dibenarkan oleh karena iman kepada Kristus dan menjalani kehidupan yang benar-benar mengekspresikan iman kita, maka Allah tidak pernah menghendaki agar kita termasuk dalam penghakiman yang Dia tentukan bagi orang-orang fasik.
Dua Faktor Penentu
Sayangnya, umat Kristen seringkali tidak memahami hal ini. Mengapa? Karena mereka gagal membedakan dua situasi yang dari luar mungkin tampak serupa, namun pada kenyataannya sama sekali berbeda dari segi dasar dan penyebabnya. Di satu sisi, ada penganiayaan yang terjadi atas nama kebenaran. Di sisi lain, ada penghakiman Allah atas orang fasik.
Perbedaan antara kedua situasi ini terlihat dari pernyataan kontras berikut. Penganiayaan berasal dari orang fasik terhadap orang benar. Tetapi penghakiman berasal dari Allah yang maha adil terhadap orang fasik. Oleh karena itu, penganiayaan atas nama kebenaran dan penghakiman bagi kefasikan mempunyai asal usul, tujuan, dan akibat yang berlawanan.
Alkitab dengan jelas memperingatkan bahwa orang Kristen pasti akan mengalami penganiayaan. Dalam Khotbah di Bukit, Tuhan Yesus berkata kepada murid-murid-Nya:
Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.” (Matius 5:10–11 TB)
Paulus juga menulis kepada Timotius:
“Memang setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya,” (2 Timotius 3:12 TB)
Oleh karena itu, umat Kristen harus siap menanggung penganiayaan karena iman dan cara hidup mereka, dan bahkan menganggap hal ini sebagai suatu hak istimewa.
Dengan alasan yang sama, orang Kristen tidak seharusnya termasuk dalam penghakiman Allah akan orang fasik. Prinsip ini dinyatakan berkali-kali dalam Kitab Suci. Dalam kitab 1 Korintus 11:32 Paulus menulis kepada rekan-rekan seimannya, dan berkata, “Tetapi kalau kita menerima hukuman dari Tuhan, kita dididik, supaya kita tidak akan dihukum bersama-sama dengan dunia.” Hal ini menunjukkan bahwa ada perbedaan antara cara Allah berurusan dengan orang-orang percaya dan cara Ia berurusan dengan dunia. Sebagai orang percaya, kita pasti akan mengalami didikan dari Allah. Jika kita tunduk pada didikanNya dan hidup sesuai dengan aturanNya, maka kita tidak akan terkena penghakiman yang menimpa orang-orang tidak percaya atau dunia pada umumnya. Tujuan akhir Allah mendidik kita sebagai orang percaya adalah untuk mencegah kita mengalami penghakiman-Nya bagi orang-orang yang tidak percaya.
Kitab Keluaran pasal 7 sampai 12 mencatat bagaimana Allah mendatangkan sepuluh penghakiman yang berat atas orang Mesir karena mereka menolak mendengarkan nabi-nabi-Nya, Musa dan Harun. Selama penghakiman ini terjadi, umat Allah, bangsa Israel, tinggal di tengah-tengah bangsa Mesir, namun tidak satu pun dari sepuluh penghakiman tersebut yang menyentuh mereka. Dalam kitab Keluaran 11:7 TB alasannya dinyatakan secara jelas:
“Tetapi kepada siapa juga dari orang Israel, seekor anjing pun tidak akan berani menggonggong, baik kepada manusia maupun kepada binatang, supaya kamu mengetahui, bahwa TUHAN membuat perbedaan antara orang Mesir dan orang Israel.”
Penghakiman tidak menimpa bangsa Israel karena Tuhan “membuat perbedaan” antara umat-Nya sendiri dan bangsa Mesir. Bahkan anjing-anjing Mesir pun harus mengakui perbedaan ini! Dan perbedaan tersebut berlaku hingga saat ini.
Seberapa Banyak Sampai Bisa Dikatakan Cukup?
Melanjutkan percakapannya dengan Tuhan mengenai Sodom, Abraham berusaha memastikan jumlah orang benar paling sedikit yang diperlukan untuk melindungi seluruh kota dari penghakiman. Dia memulai dengan jumlah lima puluh orang benar. Kemudian, dengan penuh rasa hormat dan kegigihan yang luar biasa, dia terus menawar sampai pada jumlah sepuluh orang benar. Tuhan akhirnya meyakinkan Abraham bahwa jika Dia dapat menemukan sepuluh orang benar di Sodom, Dia akan mengampuni seluruh kota demi sepuluh orang itu.
Berapa jumlah penduduk Sodom? Akan sulit untuk mencapai perkiraan jumlah yang pasti. Namun, jumlah penduduk kota-kota tertentu lainnya di Palestina kuno yang tercatat dapat dijadikan standar untuk perbandingan. Dengan mempertimbangkan kota-kota lain ini, kita dapat memperkirakan populasi Sodom pada jaman Abraham mungkin tidak kurang dari sepuluh ribu orang.
Allah meyakinkan Abraham bahwa keberadaan sepuluh orang benar dapat menyelamatkan kota yang berpenduduk sedikitnya sepuluh ribu orang itu. Ini memberikan perbandingan satu banding seribu. Perbandingan yang sama mengenai “satu di antara seribu” diberikan dalam kitab Ayub 33:23 dan dalam kitab Pengkhotbah 7:28, dan kedua ayat ini menunjukkan bahwa yang satu adalah orang yang sangat saleh, sedangkan sisanya berada di bawah standar Allah.
Sangat mudah untuk memperluas perbandingan ini tanpa batas. Keberadaan sepuluh orang benar dapat menyelamatkan komunitas yang berjumlah sepuluh ribu orang. Keberadaan seratus orang benar dapat menyelamatkan komunitas yang berjumlah seratus ribu orang. Keberadaan seribu orang benar dapat menyelamatkan komunitas yang berjumlah satu juta orang. Berapa banyak orang benar yang dibutuhkan untuk menyelamatkan negara sebesar Amerika Serikat, yang populasinya diperkirakan lebih dari 300 juta jiwa? Sekitar 300 ribu orang.
Angka-angka ini sungguh membangkitkan harapan. Apakah Kitab Suci memberi kita dasar untuk percaya bahwa, misalnya, hanya dengan keberadaan seperempat juta orang yang benar-benar saleh, yang tersebar bagaikan butiran garam di seluruh Amerika Serikat, akan cukup untuk melindungi seluruh bangsa dari penghakiman Allah dan menjamin kasih karunia dan belas kasihanNya terus mengalir di negara ini? Adalah bodoh untuk mengklaim bahwa perkiraan tersebut tepat. Meskipun demikian, Alkitab dengan tegas menetapkan prinsip umum bahwa keberadaan orang-orang percaya yang saleh adalah faktor penentu dalam keputusan Allah yang berhubungan dengan suatu komunitas.
Hal ini membawa kita pada dampak kedua dari keberadaan umat Kristen sebagai “garam dunia”.
Garam Dapat Menahan Kerusakan
Pada masa sebelum ditemukan pendingin buatan, para pelaut yang membawa daging dalam perjalanan jauh menggunakan garam sebagai bahan pengawet. Proses kerusakan sudah berlangsung sebelum daging diasinkan. Pengasinan tidak menghilangkan kerusakan pada daging sepenuhnya, namun dapat tetap menjaga keadaan daging tersebut agar tetap segar lebih lama selama perjalanan sehingga para pelaut dapat tetap mengkonsumsinya.
Kehadiran kita di dunia sebagai murid Kristus berfungsi seperti garam dalam daging. Proses kerusakan akibat dosa sudah berlangsung. Hal ini diwujudkan dalam setiap bidang kehidupan manusia—moral, agama, sosial, politik. Kita tidak bisa menghapuskan kerusakan yang sudah ada. Namun kita dapat menahannya cukup lama agar tujuan kasih karunia dan belas kasihan Allah dapat terwujud sepenuhnya. Lalu, ketika pengaruh kita tidak lagi terasa, kerusakan akan mencapai puncaknya, dan akibatnya adalah degradasi total.
Gambaran tentang kekuatan garam untuk menahan kerusakan ini menjelaskan ajaran Paulus dalam kitab 2 Tesalonika 2:3–12. Paulus memperingatkan bahwa kejahatan manusia akan mencapai puncaknya pada diri seorang penguasa dunia yang diberi kuasa supernatural dan dipimpin oleh Setan sendiri. Paulus menyebut penguasa ini “manusia durhaka” dan “anak kebinasaan” (ayat 3). Dalam kitab 1 Yohanes 2:18 dia disebut sebagai “Antikristus,” dan dalam kitab Wahyu 13:4 dia disebut sebagai “binatang itu.” Penguasa ini akan mengaku sebagai Allah dan menuntut seluruh dunia untuk menyembahnya.
Munculnya penguasa setan ini tidak bisa dihindari. Paulus berkata dengan pasti, “pada waktu itulah si pendurhaka baru akan menyatakan dirinya,” (2 Tesalonika 2:8 TB). Paulus juga menyatakan dalam ayat yang sama bahwa Kristus yang sejatilah yang akan melaksanakan penghakiman terakhir atas Kristus palsu ini — “tetapi Tuhan Yesus akan membunuhnya dengan nafas mulut-Nya dan akan memusnahkannya, kalau Ia datang kembali. ”
Sayangnya beberapa pengkhotbah telah menggunakan ajaran tentang Antikristus ini untuk menanamkan sikap pasif dan fatalisme dalam diri umat Kristen. “Antikristus akan datang,” kata mereka. “Segalanya akan menjadi semakin parah. Tidak ada yang dapat kita lakukan untuk mengatasinya.” Akibatnya, umat Kristen terlalu sering duduk tidak berdaya dengan tangan terlipat, terlihat saleh dalam rasa cemas dan menyaksikan Setan menghancurkan segalanya dengan tak terkendali.
Sikap pasif dan fatalisme ini adalah tragis karena sikap ini juga tidak alkitabiah. Memang benar bahwa Antikristus pada akhirnya akan muncul. Namun sangat tidak benar bahwa tidak ada yang bisa kita lakukan sebelum itu terjadi.
Kekuatan Penahan
Sampai pada saat ini ada kekuatan yang bekerja di dalam dunia yang menantang, menolak dan membatasi roh antikristus.
Kuasa penahan yang saat ini menghambat munculnya Antikristus secara penuh adalah kehadiran pribadi Roh Kudus di dalam Gereja. Hal ini menjadi jelas ketika kita mengikuti penyingkapan wahyu Kitab Suci mengenai Pribadi dan pekerjaan Roh Kudus.
Pada awal Alkitab, dalam kitab Kejadian 1:2, kita diberitahu bahwa “Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.” Sejak saat itu di seluruh Perjanjian Lama sering kali disebutkan kegiatan Roh Kudus di dunia. Namun, di akhir pelayanan-Nya di dunia, Tuhan Yesus berjanji kepada murid-murid-Nya bahwa Roh Kudus akan segera datang kepada mereka dengan cara yang baru, berbeda dari apa pun yang pernah terjadi di dunia hingga saat itu.
Penolong yang Dijanjikan
Dalam kitab Yohanes 14:16–17 TB Tuhan Yesus memberikan janji ini:
“Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran…sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu.”
Kita dapat menjelaskan janji Tuhan Yesus ini dengan kata-kata kita sendiri sebagai berikut: “Aku sudah bersama kamu secara pribadi selama tiga setengah tahun, dan sekarang aku akan meninggalkan kamu. Setelah Aku pergi, ada Pribadi lain yang akan datang menggantikan Aku. Pribadi ini adalah Roh Kudus. Ketika Dia datang, Dia akan tinggal bersamamu selamanya.”
Pertukaran pribadi yang dijanjikan Tuhan Yesus ini terjadi dalam dua tahap: pertama, kenaikan Tuhan Yesus ke surga; lalu, sepuluh hari kemudian, turunnya Roh Kudus pada hari Pentakosta. Pada titik sejarah ini, Roh Kudus turun sebagai Pribadi dari surga dan berdiam di dunia. Dia sekarang adalah wakil pribadi Ketuhanan yang berdiam di dunia. Tempat tinggal Dia yang sebenarnya adalah kumpulan orang-orang percaya sejati, yang secara kolektif disebut “Gereja.” Kepada kumpulan orang percaya ini Paulus berkata dalam kitab 1 Korintus 3:16 TB:
“Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?”
Pelayanan terbesar Roh Kudus di dalam Gereja adalah mempersiapkan tubuh yang lengkap bagi Kristus. Setelah terpenuhi, tubuh ini pada akhirnya akan dipersembahkan kepada Kristus sebagaimana seorang mempelai perempuan dipersembahkan kepada mempelai laki-laki. Segera setelah pelayanan Roh Kudus di dalam Gereja ini selesai, Dia akan ditarik kembali dari dunia, membawa serta tubuh Kristus yang telah lengkap. Oleh karena itu, pernyataan Paulus dalam kitab 2 Tesalonika 2:7 dapat kita rangkum dengan kata-kata kita sendiri sebagai berikut:
“Roh Kudus yang sekarang menahan kuasa Antikristus akan terus melakukannya sampai Dia ditarik dari dunia ini.”
Di dunia ada roh antikristus, yang bekerja untuk memunculkan pribadi Antikristus. Di dalam diri murid-murid Kristus terdapat Roh Kudus yang menahan munculnya Antikristus. Oleh karena itu murid-murid yang didiami oleh Roh Kudus bertindak sebagai penghalang, yang menghambat puncak pelanggaran hukum dan kemunculan terakhir Antikristus. Hanya ketika Roh Kudus, bersama dengan murid-murid dari tubuh lengkap Kristus, ditarik dari bumi, barulah kekuatan pelanggaran hukum dapat bergerak tanpa hambatan menuju puncak tujuan mereka dalam Antikristus. Sementara itu, melalui kuasa Roh Kudus, murid-murid Kristus mempunyai hak istimewa dan tanggung jawab untuk “mengalahkan” kekuatan Antikristus dan menahannya.
Garam yang Berhasil Melakukan Fungsinya
Sebagai garam dunia, kita yang adalah murid Kristus mempunyai dua tanggung jawab utama. Pertama, dengan keberadaan kita, kita memposisikan dunia untuk menerima anugerah dan belas kasihan Allah yang terus mengalir. Kedua, dengan kuasa Roh Kudus di dalam diri kita, kita dapat mengendalikan kekuatan yang menyebabkan kerusakan dan pelanggaran hukum sampai waktu yang ditentukan Allah.
Dalam memenuhi tanggung jawab ini, Gereja berdiri sebagai penghalang pencapaian ambisi tertinggi Setan, yaitu menguasai seluruh bumi. Hal ini menjelaskan mengapa Paulus mengatakan dalam kitab 2 Tesalonika 2:3 TB: “Sebab sebelum Hari itu haruslah datang dahulu murtad dan haruslah dinyatakan dahulu manusia durhaka [Antikristus], yang harus binasa.” Kata yang diterjemahkan sebagai “murtad” disini secara harfiah berarti pengkhianatan, yaitu tindakan meninggalkan iman.
Selama Gereja tetap teguh dan tidak kenal kompromi dalam imannya, Gereja mempunyai kekuatan untuk menahan manifestasi akhir Antikristus. Setan sendiri memahami hal ini sepenuhnya, dan oleh karena itu tujuan utamanya adalah untuk menghancurkan iman dan kebenaran Gereja secara perlahan-lahan. Begitu dia mencapai hal ini, penghalang terhadap tujuannya telah berhasil disingkirkan, dan jalan terbuka baginya untuk memperoleh kendali spiritual dan politik atas seluruh dunia.
Misalkan Setan berhasil, itu karena kita sebagai orang Kristen gagal memenuhi tanggung jawab kita. Lalu bagaimana? Tuhan Yesus sendiri yang memberi kita jawabannya. Kita menjadi “garam yang kehilangan rasanya”. Dia memperingatkan kita tentang nasib yang menanti garam yang telah menjadi tawar tersebut:
“Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.” (Matius 5:13 TB)
“Tidak ada gunanya!” Ini sungguh sebuah kecaman yang berat. Apa selanjutnya? Kita “diusir”—ditolak oleh Allah. Lalu kita “diinjak-injak oleh manusia.” Manusia menjadi alat penghakiman Allah terhadap Gereja yang tawar dan murtad. Jika kita yang berada dalam Gereja gagal menahan kekuatan jahat, penghakiman atas kita akan diserahkan kepada kekuatan jahat tersebut.
Paulus dengan jelas menyajikan kepada kita dua alternatif dalam kitab Roma 12:21 TB:
“Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!”
Hanya ada dua pilihan: mengalahkan atau dikalahkan. Tidak ada jalan tengah, tidak ada jalan ketiga yang terbuka bagi kita. Kita dapat menggunakan kebaikan yang Allah sediakan bagi kita untuk mengatasi kejahatan yang menghadang kita. Namun jika kita gagal melakukan hal ini, maka kejahatan itu sendirilah yang akan menguasai kita.
Pesan ini sangat mendesak bagi kita yang tinggal di negara di mana kita masih dapat menikmati kebebasan untuk mewartakan dan mengamalkan iman Kristen kita. Di banyak negeri saat ini, umat Kristen telah kehilangan kebebasan ini. Pada saat yang sama, jutaan orang di negara-negara tersebut telah secara sistematis diindoktrinasi untuk membenci dan meremehkan agama Kristen dan semua ajarannya. Bagi orang-orang yang di indoktrinasi seperti itu, tidak ada kepuasan yang lebih besar daripada menginjak-injak orang-orang Kristen yang belum berada di bawah kuk mereka.
Jika kita mengindahkan peringatan Yesus dan memenuhi fungsi kita sebagai garam dunia, kita mempunyai kekuatan untuk mencegah hal ini. Jika kita gagal dan menderita dalam penghakiman yang terjadi kemudian, renungan yang paling pahit adalah: Hal ini seharusnya tidak perlu terjadi.

*Free download
*This Teaching Letter is available to download, print and share for personal or church use.
Unduh PDFKode: TL-L066-100-IND