Ayah Menentukan Arah yang Ditempuh Keluarganya Hak istimewa tertinggi dan tanggung jawab terbesar sebagai pemimpin, telah Tuhan gabungkan menjadi satu dalam jabatan sebagai bapa. Tema ini terus muncul di sepanjang Alkitab, mulai dari bagian awal hingga yang terakhir. Pada masa terjadinya kejahatan yang begitu mengerikan, beberapa saat sebelum peristiwa air bah, hidup seorang laki-laki yang mendapat kasih karunia di mata Tuhan – Nuh. Kepada Nuh Tuhan berfirman: “Masuklah ke dalam bahtera itu, engkau dan seisi rumahmu, sebab engkaulah yang Kulihat benar di hadapanKu di antara orang zaman ini” (Kejadian 7:1). Kebenaran hidup Nuh telah menjadi tudung yang melindungi seluruh anggota keluarganya. Karena Nuh menjalankan secara benar di mata Tuhan fungsinya sebagai kepala keluarga, ia mendapat hak istimewa untuk membawa serta seluruh anggota keluarganya masuk ke dalam bahtera.

To Noah, God said: “Come into the ark, you and all your household, because I have seen that you are righteous before Me in this generation” (Genesis 7:1). It was the righteousness of Noah that provided a covering for his whole household. Because Noah took his rightful place before God as head of his house, he had the privilege of bringing his entire family with him into the ark.

Menjalankan Kepemimpinan dalam Rumah Tangga

Beberapa waktu kemudian - setelah peristiwa air bah - Tuhan mencari seorang pria yang akan menjadi kepala bagi satu bangsa istimewa yang sudah ditetapkan untuk mendatangkan berkat-berkat unik bagi seluruh umat manusia. Akhirnya Tuhan menemukan orang yang dicariNya itu didalam diri Abraham. Kejadian 18:19 menyingkapkan satu sisi istimewa dari karakter Abraham yang menyebabkan Tuhan memilihnya dari seluruh laki-laki yang hidup di jamannya:

“Sebab Aku telah memilih dia, supaya diperintahkannya kepada anak-anaknya dan kepada keturunannya (atau isi rumahnya, menurut Alkitab Terjemahan Lama)supaya tetap hidup menurut jalan yang ditunjukkan Tuhan, dengan melakukan kebenaran dan keadilan, dan supaya Tuhan memenuhi kepada Abraham apa yang dijanjikanNya kepadanya.”

Allah memilih Abraham karena satu alasan utama: Allah tahu bahwa Abraham akan melatih dan mendisiplin anak-anaknya serta seisi rumahnya menurut jalan Tuhan. Alangkah luar biasa pentingnya sisi karakter tersebut di mata Tuhan!

Allah mengharapkan Abraham “memerintah” anak-anaknya dan seisi rumahnya. Perkataan terdengar sangat tidak demokratis di telinga sebagian masyarakat barat. Tetapi itulah yang menjadi kata kunci dalam ayat di atas. Pada saat-saat tertentu, seorang pria harus mempergunakan hak dan memenuhi kewajibannya untuk memberikan perintah. Pada saat ia menjadi wakil Tuhan dan kepala bagi keluarganya, ia tidak boleh bersikap lemah atau mudah melakukan kompromi. Ia harus dengan tegas berkata kepada isteri dan anak-anaknya, “Aku perintahkan kalian untuk melakukan hal ini dan itu”.

Mungkin ada sejumlah pria bertanya, “Apa yang akan dikatakan isteri dan anak-anakku? Mereka tidak pernah mendengar aku berbicara seperti itu!”

Saya rasa, pada mulanya mereka memang akan terkejut, namun beberapa menit kemudian mereka akan berkata, “Akhirnya – kita punya seorang pria di rumah ini!” Baik isteri maupun anak-anak menyadari dalam hati mereka siapa yang seharusnya menjadi pemimpin, dan mereka akan memberikan tanggapan positif kepada ayah yang menjalankan fungsinya secara benar. Banyak perempuan terpaksa menjadi pemimpin dalam rumah tangganya karena suami mereka tidak menjalankan fungsinya; dan perempuan- perempuan ini dengan senang hati akan menyerahkan kepemimpinan itu apabila para suami mengambil-alih fungsi tersebut.

Kegagalan Lot

Kita sudah melihat bahwa karakter dan perilaku Abraham dalam rumah tangganya telah membuat Tuhan memilihnya. Namun, keponakan Abraham, Lot, memiliki sifat menyedihkan yang berlawanan dengan sifat pamannya. Pada mulanya Lot tinggal bersama Abraham. Ia juga sudah merasakan berkatberkat Tuhan dan mendengar janji-janji Tuhan. Meskipun demikian, ia mengambil keputusan yang jahat dan bodoh. Ia memutuskan untuk membawa keluarganya masuk ke kota Sodom yang penuh kejahatan dan dosa (Kejadian 13:10-13). Pelajaran dari Lot ini sangat menyentuh hati saya setiap kali saya merenungkannya. Lot memimpin keluarganya masuk ke Sodom, namun ia tidak dapat memimpin mereka keluar dari kota itu! Ketika hukuman Tuhan menimpa kota itu, Lot kehilangan seluruh keluarganya, kecuali dua anak perempuannya (Kejadian 19:15-26).

Para ayah, perhatikanlah pernyataan saya yang apa adanya ini: jika Anda mengenal jalan Tuhan, jangan pernah mengambil arah yang bodoh seperti yang dilakukan Lot. Sebab dengan berbuat demikian Anda akan membawa keluargaAnda masuk ke Sodom – ke dalam dunia yang penuh dengan kenikmatan dan godaan yang mendatangkan dosa. Anda mungkin menjadikan dunia sebagai pusat kehidupan dalam keluarga Anda. Kemudian suatu hari, Anda merasa lelah menjalani semuanya itu dan berbalik kembali ke jalan Tuhan. Namun, ingatlah: keluarga Anda belum tentu mau mengikutiAnda lagi. MemangAnda sendiri yang memimpin mereka memasuki Sodom tetapi ada kemungkinan Anda tidak akan pernah dapat memimpin mereka keluar dari sana!

Pilihan Yosua

Mari kita mengamati pemimpin umat Tuhan yang lain – Yosua. Di akhir masa hidupnya, setelah berhasil membawa bangsa Israel masuk ke Tanah Perjanjian, Yosua menantang mereka untuk mengambil satu keputusan:

“…pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan" (Yosua 24:15).

Bertahun-tahun, saya terheran-heran dengan perkataan Yosua ini. Tentu tidak sulit baginya mengambil keputusan pribadi untuk beribadah kepada Tuhan. Tetapi bagaimana ia dapat begitu yakin bahwa keluarganya juga akan beribadah kepada Tuhan? Kemudian suatu hari saya menemukan alasan yang mendasari keyakinan Yosua tersebut. Dia telah menjalankan dengan benar kedudukan yang diberikan Tuhan kepadanya, yaitu sebagai imam, nabi dan raja di dalam rumah tangganya. Itu sebabnya dia percaya bahwa Allah yang setia akan menghargai kedudukannya itu dengan cara - menjawab doa syafaat untuk keluarganya yang ia panjatkan dalam kedudukannya sebagai imam, meneguhkan pernyataan-pernyataan nubuat yang ia sampaikan untuk keluarganya, dan menjunjung otoritasnya sebagai raja atas keluarganya. Keyakinan Yosua itu tidak berdasarkan pada keberadaan dirinya sendiri, melainkan pada kesetiaan Tuhan atas jabatan sebagai ayah yang dipegang dan dilaksanakannya dengan benar.

Iman Seorang Ayah

Mari kita memperhatikan bagian Perjanjian Baru yang paling sering dikutip – Kisah Para Rasul 16:30-31. Kepala penjara Filipi yang begitu tergugah hatinya bertanya kepada Paulus dan Silas, “Tuan-tuan, apakah yang harus aku perbuat, supaya aku selamat?” Jawab mereka, “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu”.

Suatu hari ketika saya mengutip janji ini untuk seorang ibu yang begitu ingin agar keluarganya diselamatkan, Roh Kudus berbicara dengan lembut namun tegas kepada roh saya: “Engkau salah menerapkan janji itu. Janji itu tidak disampaikan kepada seorang perempuan, melainkan seorang lakilaki. Sebagai seorang suami dan seorang ayah, kepala penjara Filipi itu mendapat hak dari Tuhan untuk meminta keselamatan seluruh anggota keluarganya”. Tuhan sudah memberikan kepada setiap ayah, oleh karena kedudukannya yang istimewa, hak beserta tanggung jawab untuk mempergunakan imannya agar keluarganya memperoleh keselamatan.

Apakah ini berarti anggota keluarga yang lain dapat selamat hanya atas dasar iman seorang ayah, tanpa perlu mempergunakan iman mereka masingmasing? Sama sekali tidak berarti demikian. Yang dimaksudkan di sini adalah, iman dan pelayanan seorang ayah dalam menjalankan kedudukannya yang berasal dari Tuhan itu akan membuat setiap anggota keluarganya memiliki iman pribadi kepada Kristus dan dengan demikian mereka akan selamat.

Hal ini juga tidak berarti bahwa sebuah keluarga tidak dapat diselamatkan melalui iman seorang ibu atau anggota keluarga lain yang percaya kepada Kristus. Rahab, perempuan sundal dari Yerikho, memberikan gambaran yang sangat indah mengenai seorang perempuan yang iman dan keberaniannya mendatangkan keselamatan bagi seluruh keluarganya. Ditengah-tengah kehancuran total yang melanda kota tempat tinggalnya,

“… masuklah kedua pengintai muda itu dan membawa ke luar Rahab dan ayahnya, ibunya, saudara-saudaranya dan semua orang yang bersama-sama dengan dia” (Yosua 6:23).

Semuanya itu merupakan buah dari iman Rahab.

Meskipun demikian, seorang ayah memiliki bentuk hubungan yang berbeda dengan anggota keluarganya, jika dibandingkan dengan hubungan antar anggota keluarga yang lain. Jika seorang bapa menjalankan dengan benar kedudukannya sebagai kepala keluarga yang merupakan pemberian Tuhan, dengan sendirinya ia juga mendapat hak dari Tuhan untuk meminta keselamatan seisi rumahnya. Hak ini diberikan bukan hanya berdasarkan pada iman yang dimiliki seorang ayah, melainkan pada jabatannya sebagai ayah. Kewajiban Tuhan untuk memberikan keselamatan itu terletak pada jabatan tersebut, bukan semata-mata pada manusia yang menjabatnya.

Akibat Kesalahan Para Ayah

Firman Tuhan memberikan banyak peringatan mengenai akibat buruk yang akan terjadi apabila orang tua - khususnya sang ayah – tidak memenuhi tanggung jawab yang berasal dari Tuhan di dalam rumah tangga mereka. Di Ulangan 28:15-68, kita menemukan satu daftar panjang tentang kutuk yang Tuhan peringatkan kepada Israel akan menimpa mereka jika mereka tidak menaati hukum Taurat. Suatu hari ketika saya membaca daftar itu, saya terperanjat melihat ayat 41:

"Engkau akan mendapat anak-anak lelaki dan anak-anak perempuan, tetapi mereka bukan bagi dirimu, sebab mereka akan menjadi tawanan"

(Ayat ini ditujukan terutama kepada para ayah, sebab kata kerja “mendapat” [ , dalam bahasa Inggris] menggambarkan peranan sang ayah dalam proses penerusan keturunan).

Pikiran sederhana saya mengatakan bahwa anakanak diberikan Tuhan kepada kita agar kita dapat “menikmati” mereka. Anak-anak dimaksudkan untuk menjadi sumber kebahagiaan yang tak habis-habisnya bagi kita sebagai orang tua mereka. Namun, berapa banyak orang tua hari ini yang benar-benar “menikmati” anak-anak mereka? Saya ingat suatu kali saya pernah mendengar seorang pengkhotbah dari gereja baptis yang mempunyai keluarga besar berdoa demikian, “Tuhan, tolong ingatkan kami bahwa anakanak kami adalah berkat, bukan beban!” Entah mengapa saya mempunyai kesan bahwa ia tidak mengharapkan jawaban positif untuk doanya itu.

Sebagai orang tua, kita dapat meyakini satu hal: anak-anak kita akan mengenali sikap hati kita yang sesungguhnya terhadap mereka - apakah kita merasakan mereka sebagai suatu beban atau suatu berkat. Dan mereka akan memberikan tanggapan yang sesuai.

Jika kita tidak dapat mendisiplin dan berhubungan dengan anak kita sedemikian rupa sehingga menunjukkan bahwa kita “menikmati” mereka, lalu apa yang akan terjadi? Ulangan 28:41 menyatakan secara gamblang – “mereka akan menjadi tawanan”. Bukankah ini yang sudah terjadi pada jutaan anak di masyarakat barat? Mereka telah “menjadi tawanan” obat bius, seks terlarang, kuasa gelap dan berbagai jerat lain dari Iblis yang tak terhitung jumlahnya. Anak-anak tertawan sebegitu kuatnya seakan-akan mereka sudah diseret masuk ke dalam perbudakan oleh suatu kuasa dari tempat asing. Tanggung jawab atas keadaan ini terletak pada diri para ayah yang telah gagal menjalin hubungan baik dengan anak-anak mereka dan tidak mengajarkan hukum Tuhan kepada mereka.

Mengajarkan Hukum Tuhan

Maleakhi 2:7 menggambarkan imam sebagai pemelihara dan penerjemah hukum Tuhan:

“Sebab bibir seorang imam memelihara pengetahuan dan orang mencari pengajaran dari mulutnya…”

(“Pengetahuan” yang di maksud ayat ini adalah pengetahuan mengenai hukum Tuhan.) Sebagai imam dalam keluarganya, setiap ayah memikul tanggung jawab ini – memelihara dan menerjemahkan hukum Tuhan bagi keluarganya.

Apa akibatnya jika para ayah/imam didalam suatu bangsa gagal memenuhi tanggung jawab tersebut? Di Hosea 4:6, Tuhan merangkum akibatnya yang berupa keadaan yang sangat menyedihkan:

“UmatKu binasa karena tidak mengenal Allah; karena engkaulah yang menolak pengenalan itu maka Aku menolak engkau menjadi imamKu; dan karena engkau melupakan pengajaran Allahmu, maka Aku juga akan melupakan anak-anakmu”.

Alangkah menakutkannya apabila Tuhan sendiri mengatakan bahwa Ia akan “melupakan” anak-anak kita! Apabila seorang ayah menolak pengenalan tentang ajaran Tuhan, maka ia tidak lagi memenuhi syarat untuk menjalankan pelayanannya sebagai imam atas keluarganya. Akibatnya, anak-anaknya kehilangan perlindungan yang berasal dari otoritas dan tudung seorang ayah, sehingga mereka menjadi mangsa dari berbagai jerat dan tipu daya Iblis. Mengapa negeri kita dewasa ini dipenuhi dengan anak-anak yang dilupakan Tuhan – anak-anak yang tidak mendapat bagian dari janji dan persediaan Tuhan yang berdasarkan ikatan perjanjianNya? Karena ayah mereka sudah melupakan pengajaran Tuhan!

Satu Janji

Perkataan terakhir yang diberikan kepada kita dalam Perjanjian Lama adalah sebuah kutuk – namun juga memuat satu janji, Maleakhi 4:5-6:

“Sesungguhnya Aku akan mengutus nabi Elia kepadamu menjelang datangnya hari Tuhan yang besar dan dahsyat itu. Maka ia akan membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati anak-anak kepada bapa-bapanya supaya jangan Aku datang memukul bumi sehingga musnah”.

Melalui pewahyuan nubuat, Alkitab menggam- barkan masalah sosial paling mendesak yang berlangsung tepat sebelum berakhirnya jaman ini: rumah tangga yang terpecah belah dan berantakan karena pertikaian, putusnya hubungan orang tua dengan anak sehingga mereka menjadi seperti orang asing satu sama lain. Betapa tepatnya firman Tuhan tersebut! Memang seperti itulah keadaan yang kita hadapi sekarang ini. Apabila keadaan itu tidak berbalik menuju ke arah yang positif, satu-satunya akibat yang akan terjadi adalah datangnya kutukan yang akan memusnahkan seluruh bumi. Namun, Tuhan berjanji akan mengutus sebuah pelayanan yang akan “membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati anak-anak kepada bapa-bapanya”. Puji syukur kepada Tuhan karena masih ada harapan! Perdamaian kembali dan pemulihan hubungan dalam keluarga bukan sesuatu yang mustahil terjadi. Itulah pesan dari Roh Tuhan untuk kita sekarang ini.

Namun, kita harus memperhatikan urutan yang diberikan firman Tuhan tersebut. Pertama, bapa-bapa harus berbalik kepada anak-anak mereka. Pemulihan hubungan dalam setiap keluarga harus dimulai dari pihak bapa/ayah. Jika para ayah bersedia bertobat dan merendahkan hati mereka di hadapan anak-anak mereka, maka hati anak-anak juga akan berbalik kepada bapa-bapa mereka. Namun, langkah pertama harus diambil para bapa.

Bapa-bapa, saya menantang Anda untuk menjadi pria sejati! Bangkit dan ambil kedudukan Anda di bawah otoritas Tuhan sebagai kepala rumah tangga Anda! Jika selama ini Anda sudah melarikan diri dari kewajiban Anda, bertobatlah dan mintalah isteri dan anak-anak Anda untuk mengampuni Anda. Berdamailah kembali dengan mereka. Kemudian pimpinlah keluargaAnda memasuki persediaan Tuhan yang menyeluruh dan lengkap untuk mereka.

1
Membagikan