Empat Persyaratan Terakhir

Derek Prince
Published: 2010
Last Updated: September 2026
Read Time: 16
Dalam pengajaran ini, Derek membagikan empat syarat terakhir untuk menerima kelimpahan dari Tuhan. Saya selalu menyukai pengingat rutin Derek ketika ia membagikan tentang kuasa Firman Tuhan yang menembus: “Ingatlah bahwa ketika Anda membaca Firman, Firman itu juga membaca Anda.” Saat Anda membaca ajaran Derek yang penuh kuasa ini, biarkanlah ia juga membaca Anda. Luangkanlah waktu sejenak ketika Anda membaca setiap syarat yang Derek sebutkan, dan renungkan beberapa pertanyaan terkait dengan pengelolaan keuangan Anda. “Apa motivasiku? Apakah aku mempraktikkan iman dalam keuanganku? Sudahkah aku mencari nasihat yang saleh? Apakah aku menyerah pada tekanan duniawi untuk berbelanja dan hidup di luar kemampuanku? Dapatkah aku percaya kepada Tuhan untuk menyediakan semua kebutuhanku?”
Sejauh ini dalam seri ini kita telah melihat bahwa Allah ingin menyediakan kebutuhan umat-Nya secara berkelimpahan jika mereka memenuhi persyaratan-persyaratan-Nya. Kitab Suci menunjukkan bahwa kekayaan—beserta kuasa, hikmat, kehormatan, kemuliaan, kekuatan, dan berkat—merupakan hak kekal Yesus Kristus. Namun di kayu salib Dia menyerahkan kebaikan-kebaikan tersebut dengan mengambil bagian dalam pertukaran ilahi. Dalam transaksi itu, Yesus menanggung kutuk yang merupakan bagian umat manusia karena keadilan ilahi, agar kita dapat menerima berkat yang menjadi hak Yesus karena ketaatan-Nya yang sempurna.
Salah satu kutuk khusus yang Yesus lepaskan dari kita adalah kutuk kemiskinan yang diuraikan dalam kitab Ulangan pasal 28. Di kayu salib, Dia lapar, haus, telanjang, dan membutuhkan segala sesuatu. Itulah gambaran kemiskinan yang absolut. Yesus benar-benar menghilangkan kutuk kemiskinan agar kita dapat menerima “berkat Abraham” (Galatia 3:13–14). Dan apakah berkat Abraham? Kitab Kejadian 24:1 mengatakan bahwa Abraham diberkati dalam “segala sesuatu.”
Kita melihat dari kitab 2 Korintus 9:8 dan Efesus 2:8–9 bahwa ada tiga prinsip penting yang mengatur cara kita menerima kelimpahan kasih karunia Allah, yang memungkinkan kita diberkati dalam “segala sesuatu.” Pertama, kasih karunia Allah tidak pernah bisa diperoleh. Kedua, hal itu hanya dapat datang melalui satu saluran – Yesus Kristus. Ketiga, satu-satunya cara kita bisa menerimanya adalah dengan iman.
Banyak orang Kristen gagal dalam memahami bahwa kasih karunia Allah juga mencakup penyediaan keuangan dan materi — jika kita memenuhi persyaratan yang Dia tetapkan untuk menerimanya. Namun, kita perlu mengingat perbedaan yang kita kutip antara berusaha mendapatkan kasih karunia Allah dan memenuhi persyaratan-persyaratan-Nya.
1. Motif dan Sikap
Setelah membahas prinsip-prinsip dasar ini, kita kemudian mengajukan pertanyaan, 'Apakah persyaratan Allah?' Kita menemukan bahwa ada lima persyaratan khusus untuk menerima kelimpahan Allah.
Persyaratan pertama adalah motif dan sikap kita harus benar. Ada lima aspek dari kondisi ini yang telah kita teliti pada pelajaran sebelumnya:
- Adalah salah jika menjadikan kekayaan sebagai allah kita.
- Mencari kekayaan dengan cara yang tidak etis adalah salah.
- Bergantung pada kekayaan adalah salah.
- Menggunakan kekayaan untuk kepentingan diri sendiri adalah tindakan yang salah.
- Kita harus berbagi materi dengan kaum miskin.
In this letter, we are going to explore the remaining four conditions, starting with number two:
2. Iman itu Penting
Persyaratan kedua untuk menerima kelimpahan Allah adalah iman. Kita telah melihat bahwa kelimpahan adalah bagian dari penyediaan yang diberikan kepada kita oleh kasih karunia Allah. Seperti halnya dengan setiap penyediaan oleh kasih karunia, hal tersebut hanya dapat diterima melalui iman. Namun, kita tidak pernah bisa terlalu menekankan betapa pentingnya iman. Itu adalah persyaratan utama dan sangat diperlukan untuk menjalani kehidupan keKristenan. “Orang benar akan hidup oleh iman” (Roma 1:17 TB). Setiap bidang di hidup dalam kebenaran harus didasarkan pada iman. Hal ini berlaku pada keuangan kita dan juga pada area lain dalam kehidupan kita.
Selain itu, hal yang sebaliknya juga terjadi. “Dan segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman, adalah dosa.” (Roma 14:23 TB). Jika kita menangani keuangan kita tanpa iman, maka hal itu akan berakibat kepada dosa: keserakahan, kikir, dan bahkan menahan untuk memberikan apa yang merupakan hak Allah. Seluruh persoalan tentang bagaimana kita menggunakan uang harus didasari oleh iman.
Iman bertindak dalam ketaatan pada Firman Allah tanpa menunggu untuk melihat imbalan yang dijanjikan terlebih dahulu. Hal ini juga berlaku pada keuangan kita. Yesus berkata, “Berilah dan kamu akan diberi” (Lukas 6:38). Ketika kita bertindak dengan iman, kita memberi terlebih dahulu. Penerimaan terjadi pada waktu Allah. Jika kita menunggu sampai kita “mampu memberi”, maka kita tidak memberi dengan iman. Ketika kita melihat kebenaran ini dari sudut pandang iman, kita tidak akan pernah terlalu miskin untuk memberi. Sebaliknya, salah satu cara untuk mengatasi kemiskinan adalah dengan mulai memberi dengan iman. Ketika seorang janda memberikan dua peser terakhirnya kepada Tuhan, Yesus memujinya untuk hal itu. Dia tidak menegur wanita itu karena bertindak “berlebihan” atau “tidak realistis.” (Lihat Lukas 21:1–4.)
Kita telah menyebutkan bahwa ada hukum yang mengatur penggunaan uang sama seperti ada hukum yang berlaku di bidang pertanian. Rasul Paulus mengemukakan hal ini dalam kitab 2 Korintus 9. Ketika berbicara kepada orang-orang Kristen tentang bagaimana mereka harus memberi untuk pekerjaan dan umat Allah, Rasul Paulus berkata:
"Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga." (2 Korintus 9:6 TB)
Di sini Rasul Paulus membandingkan memberi dengan “menabur”, dan menerima dengan “menuai”. Maksudnya adalah jika kita ingin menuai, kita harus menabur terlebih dahulu. Teladan petani menegaskan tentang hal ini. Setiap kali seorang petani menabur di ladangnya, dia menggunakan iman. Ia percaya bahwa benih yang ia tanam di ladang akan tumbuh berlipat kali ganda. Hal yang sama juga terjadi pada pemberian kita sebagai orang Kristen. Jika kita ingin menuai, kita harus menabur terlebih dahulu. Terlebih lagi, takaran yang kita gunakan untuk menabur akan menentukan takaran yang akan kita gunakan saat menuai. Jika kita menabur sedikit, kita akan menuai sedikit pula. Jika kita menabur banyak, kita akan menuai banyak pula.
Kita bisa mengambil contoh petani ini selangkah lebih jauh. Menabur bukan berarti menabur secara sembarangan di mana pun kita berada. Jika kita berjalan menyusuri Jalan Utama, menaburkan benih kanan dan kiri ke selokan, kita tidak akan menuai banyak hasil. Namun banyak orang Kristen yang memberi seperti itu. Secara impulsif, tanpa berdoa terlebih dahulu atau mengikuti prinsip Allah, mereka membuang-buang uang begitu saja. Tidak mengherankan jika mereka tidak memperoleh manfaat yang dijanjikan dalam Kitab Suci.
Kebalikan dari menyebar secara sembarangan, menabur secara bertanggung jawab berarti kita memilih tanah terbaik, kita melakukan persiapan terbaik, kita memilih waktu yang tepat, dan kita menabur benih terbaik. Itulah tepatnya bagaimana kita harus menangani keuangan kita – baik secara individu maupun kolektif. Kita harus memilih investasi terbaik untuk perluasan Kerajaan Allah, kita harus melakukan persiapan yang sungguh-sungguh dalam doa, kita harus dengan hati-hati mengikuti prinsip-prinsip yang ditetapkan dalam Firman Allah, dan kita harus memberikan yang terbaik. Singkatnya, kita harus melakukan segala upaya untuk mendapatkan keuntungan maksimal dalam investasi kita.
Dalam kitab Maleakhi 3:8–12, kita menemukan sejumlah prinsip terkait yang mengatur tentang urusan keuangan kita, dengan rujukan khusus pada pemberian persepuluhan kepada Allah:
“Bolehkah manusia menipu Allah? Namun kamu menipu Aku. Tetapi kamu berkata: “Dengan cara bagaimanakah kami menipu Engkau?” Mengenai persembahan persepuluhan dan persembahan khusus! Kamu telah kena kutuk, tetapi kamu masih menipu Aku, ya kamu seluruh bangsa! Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan. Aku akan menghardik bagimu belalang pelahap, supaya jangan dihabisinya hasil tanahmu dan supaya jangan pohon anggur di padang tidak berbuah bagimu, firman TUHAN semesta alam. Maka segala bangsa akan menyebut kamu berbahagia, sebab kamu ini akan menjadi negeri kesukaan, firman TUHAN semesta alam. TB
Poin-poin berikut yang diperoleh dari ayat ini sangatlah penting:
- Ketidakberhasilan dalam menangani keuangan merupakan pertanda bahwa kita berada di bawah kutuk. Bahkan, ini adalah bagian dari kutuk yang Kristus lepaskan dari kita.
- Seperti biasa dalam Kitab Suci, iman itu penting. Kita diwajibkan membawa persepuluhan kita sebelum menerima berkat-berkat yang dijanjikan. Allah bersabda, “Ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam,” yakni dengan membawa persepuluhan kita. Ayat ini tidak memberi kita cara lain untuk memenuhi syarat dalam menerima berkat.
- Tindakan iman yang diwajibkan Allah ada di alam materi, begitu pula dengan berkat yang dijanjikan-Nya juga ada di alam materi.
Saya pernah mengikuti persekutuan doa di mana umat Kristen berdoa, “Tuhan, bukalah tingkap-tingkap langit dan curahkan berkat.” Kedengarannya bagus, tapi saya selalu ingin mengguncang mereka dan berkata, “Dengar, berkat tidak datang dengan berdoa. Berkat datang melalui persepuluhan!” Kita bisa berdoa selamanya, tetapi jika kita tidak memberikan persepuluhan, kita tidak berhak menerima berkat tersebut.
3. Memberi Hormat Dengan Keuangan
Persyaratan ketiga untuk menerima kelimpahan Allah adalah dengan menghormati Allah dan sesama manusia melalui apa yang kita berikan. Kitab Roma 13:7 berkata, “Bayarlah kepada semua orang apa yang harus kamu bayar: ...hormat kepada orang yang berhak menerima hormat.” Salah satu cara penting dalam memberikan hormat adalah dengan jalan memberikan harta benda kita. Kitab Suci mengungkapkan empat jalan berbeda di mana kita harus memberikan hormat. Pertama, dengan pemberian kita, kita menghormati Allah sendiri.
“Muliakanlah TUHAN dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu, maka lumbung-lumbungmu akan diisi penuh sampai melimpah-limpah, dan bejana pemerahanmu akan meluap dengan air buah anggurnya.” (Amsal 3:9–10 TB)
Pertama-tama, kita dituntut untuk memberikan kepada Allah apa yang merupakan bagian-Nya, yaitu hasil pertama. Jika kita melakukan hal ini, Dia telah berjanji untuk memberkati dan menjadikan makmur apa yang kita simpan untuk diri kita sendiri. Mendahulukan Allah secara konsisten dalam pengalokasian keuangan kita adalah salah satu cara kita memberikan kehormatan yang merupakan hak-Nya.
Kedua, dengan pemberian kita, kita menghormati orang tua kita. Dalam kitab Efesus 6:2–4 Rasul Paulus mengingatkan bahwa perintah ini adalah perintah pertama yang mengandung janji.
“Hormatilah ayahmu dan ibumu ...supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi.” (Efesus 6:2-3 TB)
Perintah untuk menghormati orang tua kita ini membawa serta kewajiban dalam hal keuangan. Dalam kitab Matius 15, orang Farisi mengkritik Yesus karena tidak menaati tradisi nenek moyang. Yesus sebaliknya menuduh mereka menaati tradisi nenek moyang tetapi melanggar perintah Allah. Dia memberikan satu contoh spesifik:
“Sebab Allah berfirman: Hormatilah ayahmu dan ibumu; dan lagi: Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya pasti dihukum mati. Tetapi kamu berkata: Barangsiapa berkata kepada bapanya atau kepada ibunya: Apa yang ada padaku yang dapat digunakan untuk pemeliharaanmu, sudah digunakan untuk persembahan kepada Allah, orang itu tidak wajib lagi menghormati bapanya atau ibunya. Dengan demikian firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadatmu sendiri.” (Matius 15:4–6 TB)
Perhatikan bagaimana kita menghormati orang tua kita: dengan memberikan kepada mereka harta benda kita. Jika orang tua kita sedang membutuhkan bantuan keuangan dan kita mampu untuk membantu mereka tetapi kita tidak melakukannya, maka kita tidak memberikan kehormatan yang merupakan hak mereka. Berdasarkan banyak pengalaman dalam konseling dan pelepasan, saya dapat mengatakan dengan yakin bahwa orang yang tidak menghormati ayah dan ibunya tidak akan pernah berada dalam keadaan yang baik.
Ketiga, dengan pemberian kita, kita menghormati hamba Tuhan yang melayani kebutuhan kita. Dalam kitab Kisah Para Rasul pasal 27 dan 28 kita membaca bagaimana Rasul Paulus dan rombongannya selamat dari kapal karam dan sampai di Pulau Malta. Pada waktu itu, Rasul Paulus mulai melayani orang sakit di pulau itu dan banyak dari mereka yang disembuhkan. Kemudian, ketika tiba waktunya bagi Rasul Paulus dan rombongannya untuk pergi, penulis mengatakan bahwa “Mereka sangat menghormati kami dan ketika kami bertolak, mereka menyediakan segala sesuatu yang kami perlukan” (Kisah Para Rasul 28:10 TB). Dengan memenuhi kebutuhan keuangan dan material Rasul Paulus dan rombongannya, penduduk pulau ini memberikan kehormatan yang pantas bagi mereka atas pelayanan mereka.
Keempat, dengan pemberian kita, kita menghormati para penatua yang memimpin kita di gereja. Rasul Paulus berkata:
“Penatua-penatua yang baik pimpinannya patut dihormati dua kali lipat. ...Bukankah Kitab Suci berkata: “Janganlah engkau memberangus mulut lembu yang sedang mengirik,” dan lagi “seorang pekerja patut mendapat upahnya.” (1 Timotius 5:17–18 TB)
Jelas bahwa kehormatan yang Rasul Paulus maksudkan adalah dalam bidang keuangan dan materi. Semakin setia para penatua dalam menjalankan tugasnya, kita harus semakin berhati-hati untuk memastikan bahwa mereka diberi imbalan yang mengungkapkan penghormatan sejati.
Jadi kita melihat bahwa kita menunjukkan hormat dengan memberi pemberian dalam empat arah: kepada Allah, kepada orang tua kita, kepada hamba-hamba Allah yang melayani kebutuhan kita, dan kepada para penatua yang memimpin kita di gereja. Penting untuk diketahui bahwa dalam bahasa Inggris kita sering menggunakan frasa, “to pay honor.” Jika kehormatan yang kita berikan kepada Allah atau kepada sesama manusia tidak mengeluarkan biaya apapun, maka kita tidak memberikan kehormatan yang sesungguhnya.
4. Berpikir, Berbicara, Bertindak Dengan Benar
Persyaratan keempat untuk menerima kelimpahan Allah adalah dengan berpikir, berbicara, dan bertindak dengan benar. Pertama-tama, saya ingin memberi penekanan pada pemikiran. Tidak mungkin untuk memiliki pemikiran salah namun tetap dapat hidup dengan benar. Demikian pula jika Anda memiliki pemikiran yang benar, maka Anda pasti akan hidup dengan benar. Perhatikan instruksi yang diberikan kepada Yosua ketika dia memimpin umat Allah ke dalam tanah perjanjian mereka:
“Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung.” (Yosua 1:8 TB)
Bagi saya, itu adalah janji kemakmuran dan kesuksesan terlengkap yang seseorang pernah berharap untuk mendapatkannya. Apakah persyaratan dasar untuk menerimanya? Merenungkan hukum Tuhan. Ucapkan hukum Tuhan. Patuhi hukum Tuhan. Apa yang kita pikirkan, apa yang kita katakan, dan apa yang kita lakukan menentukan apa yang kita alami. Saya simpulkan sebagai berikut: berpikir, berbicara, dan bertindak sesuai dengan Firman Allah.
Kita melihat janji yang terlebih lagi mencakup segala hal dalam kitab Mazmur pasal 1. Dalam kitab Yosua, janji itu diucapkan kepada satu orang. Namun dalam kitab Mazmur pasal 1, janji tersebut diberikan tanpa batasan kepada siapapun yang memenuhi persyaratannya.
“Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.” (Mazmur 1:1–3 TB)
Harap baca lima kata terakhir dalam ayat itu dengan cermat! Tidak ada ruang untuk kegagalan di sana. Segala sesuatu yang dilakukan orang seperti itu akan berhasil. Apa saja persyaratan untuk menerima keberhasilan itu? Ada tiga persyaratan negatif dan dua persyaratan positif.
Persyaratan negatifnya yaitu perbuatan yang tidak boleh kita lakukan, telah disebutkan dalam ayat 1. Kita tidak boleh berjalan menurut nasihat orang fasik, tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan tidak duduk dalam kumpulan pencemooh. Perhatikan dalam proses tersebut ada perlambatan bertahap—dari berjalan, berdiri, lalu duduk. Jika kita mulai berjalan di jalan orang fasik, maka kita akan berdiri, dan akhirnya kita akan duduk. Dengan segala upaya kita harus menghindari perkembangan buruk ini, dari mulai berjalan, berdiri, lalu duduk. Namun ada orang-orang Kristen yang secara teratur menerima nasihat orang fasik dalam banyak bidang kehidupan mereka. Lalu mereka bertanya-tanya mengapa mereka tidak sejahtera. Mereka melanggar persyaratan negatif utama: kita tidak boleh berjalan menurut nasihat orang fasik.
Setelah persyaratan negatif, ada dua persyaratan positif. Pertama, orang sukses kesukaannya ialah Taurat TUHAN; kedua, dia merenungkan Taurat itu siang dan malam. Jika saya harus memilih satu resep dalam Kitab Suci yang benar-benar penting dalam menerima kemakmuran, resep tersebut adalah dengan merenungkan hal yang tepat. Apa yang memenuhi dan bekerja dalam pikiran kita sesungguhnya akan menentukan apa yang kita alami. Setelah kelima persyaratan tersebut terpenuhi, Alkitab berkata tentang siapa pun yang memenuhinya, “Apa saja yang diperbuatnya berhasil.” Saat ini, saat Anda membaca kata-kata ini, ambil keputusan bahwa Anda akan menjadi orang seperti itu! Kemudian periksa kembali persyaratannya. Bacalah lagi dan renungkan sampai menjadi bagian dari diri Anda. Ketika hal itu terjadi, bertindak sesuai dengan persyaratan-persyaratan tersebut merupakan hal yang alami bagi Anda.
5. Biarkan Allah Yang Menambahkan
Inilah persyaratan kelima dan terakhir: biarlah Allah yang menambahkan — sesuai dengan cara-Nya dan waktu-Nya. Jangan berusaha mengambil kelimpahan sendiri! Biarkan Allah yang menambahkannya. Prinsip ini harus sama di bidang keuangan seperti di bidang pertanian. Kita menanam benih, tapi Allah yang menghasilkan panennya.
Saya ingat bertahun-tahun yang lalu ketika saya berada di Irlandia. Saya mendengar cerita tentang seorang anak laki-laki berusia enam tahun yang diberi beberapa buah kentang oleh orang tuanya untuk ia tanam. Dia kemudian keluar dan menanam kentang-kentang tersebut, dan seminggu kemudian dia keluar lagi untuk melihat apakah kentangnya tumbuh. Tidak ada tanda-tanda pertumbuhan. Dua minggu kemudian dia masih tidak melihat apa pun, jadi dia menggalinya untuk melihat apakah ada yang tumbuh. Pada akhirnya, dia menggali kentang-kentang tersebut tiga atau empat kali, dan tidak ada satu pun dari mereka yang tumbuh! Banyak orang Kristen juga seperti itu. Mereka menanam kentang dan kemudian menggalinya untuk melihat apakah kentang tersebut tumbuh. Inti dari iman adalah kita membiarkan Allah yang melakukannya. Kita memenuhi persyaratan-persyaratan, tetapi Allah lah yang menggenapi janjiNya.
Kitab Ulangan 28:2 mengatakan kepada mereka yang memenuhi syarat Allah:
“Segala berkat ini akan datang kepadamu dan menjadi bagianmu.”
Saya suka kata menjadi bagianmu itu. Kita tidak mengejar berkat; berkat lah yang mengejar kita. Saya dapat pergi tidur di malam hari dan merenungkan berkat apa yang akan saya peroleh ketika saya bangun di pagi hari! Demikian pula, kitab Matius 6:33 memberi tahu kita, “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” Kita tidak mencari “sesuatu”; kita mencari “kerajaan.” Kemudian Allah menambahkan semua “hal” yang kita butuhkan.
Sebagai kesimpulan, mari kita lihat kembali persyaratan-persyaratan untuk dapat menerima kelimpahan dari Allah yang telah kita uraikan. Pertama-tama, motif dan sikap kita harus benar. Kedua, kita harus menggunakan iman. Ketiga, kita harus menghormati Allah, orang tua kita, pelayan Allah dan pemimpin spiritual kita, dengan cara memberikan persembahan kita kepada mereka. Keempat, kita harus berlatih berpikir, berbicara dan bertindak dengan benar. Kelima, kita harus membiarkan Allah yang menambahkan sesuai dengan cara dan waktu-Nya. Jika kita memenuhi persyaratan-persyaratan tersebut, bisa dipastikan kelimpahan Allah akan menjadi bagian kita.
Dalam pelajaran saya berikutnya, dan yang terakhir, tentang tema ini, kita akan melihat tujuan dari kelimpahan Allah.

Unduh Gratis
Surat Pengajaran ini tersedia untuk diunduh, dicetak, dan dibagikan bagi keperluan pribadi atau gerejawi.
Unduh PDFKode: TL-L076-100-IND









