Tema kelimpahan Allah tidak dapat dipahami atau dipergunakan kecuali tema tersebut diungkapkan oleh Allah. Dalam surat-surat saya sebelumnya mengenai topik ini, kita menyimpulkan dari Kitab Suci bahwa tingkat penyediaan Allah bagi umat-Nya adalah kelimpahan. Penyediaan ini tersedia bagi kita melalui janji-janji-Nya. Kita juga memeriksa janji-janji khusus yang terdapat dalam kitab Mazmur 34:9–10 dan 84:11. Kita melihat bahwa Allah tidak akan menahan sesuatu yang baik dari kita, asalkan kita memenuhi tiga persyaratan: pertama, kita harus takut akan Tuhan; kedua, kita harus mencari Tuhan; dan yang ketiga, kita harus berjalan dalam kebenaran.

Namun, kita memenuhi aspek penyediaan ini dengan menunjukkan bahwa ada dua cara memandang “kebaikan”: secara keseluruhan (absolut) dan secara relatif. Sesuatu itu sepenuhnya baik jika hal itu pada dasarnya adalah baik. Ini merupakan faktor konstan. Namun sesuatu adalah relatif baik bagi kita hanya jika hal itu menguntungkan dalam situasi tertentu. Ini merupakan faktor yang berubah-ubah. Kebaikan yang relatif dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor: karakter, motif, pemahaman, waktu Allah, atau tingkat kedewasaan kita. Oleh karena itu, Allah dalam kebijaksanaan-Nya kadang-kadang menahan dari kita apa yang sepenuhnya baik karena hal itu relatif tidak baik bagi kita dalam situasi tertentu yang sedang kita alami. Apakah kekayaan itu sepenuhnya baik? Ya. Kitab Wahyu 5:12 mencantumkan tujuh hal yang sepenuhnya baik dan merupakan hak kekal yang dimiliki Yesus Kristus, dan melalui Dia, untuk umat-Nya: kuasa, kekayaan, hikmat, kekuatan, kehormatan, kemuliaan, dan berkat. (Lihat juga kitab 1 Tawarikh 29:12 dan Ulangan 8:18.)

Kutuk atau Berkat

Tujuan saya menulis surat ini adalah untuk mengungkapkan cara Allah dalam melepaskan kutuk kemiskinan. Salah satu kebenaran dasar dari pewahyuan yang kita terima adalah bahwa di kayu salib terjadi pertukaran ilahi: Yesus, Anak Allah yang tidak berdosa dan taat, menanggung segala hal buruk yang semestinya merupakan bagian umat manusia berdasarkan keadilan ilahi karena pemberontakan dan ketidaktaatan kita. Sebaliknya, melalui iman, kita dapat menerima segala kebaikan yang diperoleh karena ketaatan sempurna Yesus. Sederhananya, Yesus mengambil semua hal buruk yang pantas kita terima, agar kita dapat menerima semua kebaikan yang layak diterima-Nya. Kitab Suci menyingkapkan banyak aspek berbeda dari pertukaran ini. Misalnya, Yesus menderita agar kita dapat disembuhkan (Yesaya 53:4–5).

Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah (2 Korintus 5:21).

Dia ditolak oleh Bapa agar kita dapat diterima oleh Bapa (Matius 27:46, Efesus 1:5–6).

Dia mati untuk menggantikan kita agar kita memperoleh hidup dalam-Nya (Ibrani 2:9, Yohanes 3:16).

Namun, dalam seri pengajaran ini, kita hanya akan fokus pada aspek pertukaran yang berkaitan dengan kutuk akibat ketidaktaatan kita—dan khususnya, kutuk kemiskinan.

Rasul Paulus membahas hal ini secara khusus dalam kitab Galatia 3:13–14:

“Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: “Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!” Yesus Kristus telah membuat ini, supaya di dalam Dia berkat Abraham sampai kepada bangsa-bangsa lain, sehingga oleh iman kita menerima Roh yang telah dijanjikan itu.” TB

Dua kata yang sangat kontras satu sama lain: kutuk dan berkat. Di kayu salib, kutuk akibat melanggar hukum Taurat ditimpakan atas Yesus. Dia sebenarnya dijadikan sebagai kutuk. Buktinya adalah fakta bahwa Dia digantung di kayu salib (dikutip dari kitab Ulangan 21:23). Tergantung di antara langit dan bumi, Yesus digantung pada pohon yang telah menjadi salib—ditolak oleh manusia dan ditinggalkan oleh Allah, diasingkan sepenuhnya, disingkirkan, sendirian. Kita bisa menyimpulkannya dalam satu kata yang jahat dan buruk: terkutuk.

Yesus menjadi kutuk agar kita dapat menerima alternatifnya: berkat. Salah satu tema Surat Galatia adalah melalui iman, kita menjadi anak-anak Abraham. Sebagai anak-anak Abraham, kita berhak menerima berkat Abraham karena satu alasan utama: Yesus telah menanggung kutuk.

Dalam hubungan ini Rasul Paulus menekankan satu berkat khusus: “janji Roh Kudus.” Ada alasan berguna untuk hal ini. Berkat Roh Kudus yang dijanjikan adalah kunci dari semua berkat lainnya. Ketika kita menaruh iman kepada kematian Kristus untuk menebus kita, secara resmi kita menjadi “ahli waris Allah dan ahli waris bersama Kristus” (Roma 8:17). Kita menjadi anggota keluarga Allah, berhak atas semua yang dijanjikan kepada nenek moyang kita, Abraham (Galatia 3:7–9, 29). Namun pengurus warisan kita yang ditunjuk secara ilahi adalah Roh Kudus. Hanya Dia yang dapat membawa kita ke dalam pengalaman menikmati sepenuhnya segala sesuatu yang telah menjadi milik kita secara sah melalui iman dalam kematian Kristus. Tanpa bantuan-Nya, kita tidak akan lebih baik daripada “anak yatim piatu,” yang tidak mampu menikmati semua yang telah Bapa sediakan bagi kita (lihat Yohanes 14:16–18).

Dengan mengakui ketergantungan kita pada Roh Kudus, kita dapat mengklaim warisan kita. Apakah “berkat Abraham” yang Kristus berikan kepada kita? Jawaban yang jelas dan komprehensif ditemukan dalam kitab Kejadian 24:1: “Allah telah memberkati Abraham dalam segala hal.” Berkat Abraham mencakup segala hal—baik yang bersifat sementara atau kekal, rohani atau materi. Melalui kematian Kristus bagi kita, setiap aspek kehidupan kita dapat dikeluarkan dari bayang-bayang kutuk dan masuk ke dalam sinar terang berkat Allah.

Kutuk Kemiskinan

Sekarang mari kita fokus pada satu aspek kutuk yang Yesus tanggung bagi kita—kutuk kemiskinan. Dalam surat sebelumnya, kita melihat kutuk ini disajikan dalam bentuk yang paling mutlak di kitab Ulangan 28:48. Dirangkum dalam empat bagian: lapar, haus, telanjang, dan membutuhkan segala sesuatu. Dan itulah yang dialami Yesus di kayu salib.

Bertahun-tahun yang lalu, ketika saya sedang berkhotbah dengan tema Penyediaan Allah Dalam Bidang Keuangan, saya menerima wahyu dari Roh Kudus yang melampaui apa pun dalam garis besar khotbah yang telah saya persiapkan.

Satu demi satu, Roh Kudus membahas empat aspek kutuk kemiskinan bagi saya dan menunjukkan kepada saya bahwa Yesus benar-benar menghilangkan kutuk itu dalam segala aspeknya. Dia lapar—Dia belum makan selama hampir dua puluh empat jam. Dia haus—salah satu ucapan terakhir-Nya adalah, “Aku haus.” Dia telanjang—para prajurit telah menanggalkan seluruh pakaian-Nya dan membaginya di antara mereka. Dia membutuhkan segala sesuatu—Dia tidak mempunyai jubah atau kuburan untuk dikuburkan. Dia tidak punya apa-apa. Mengapa? Karena dalam tujuan ilahi Allah, Dia menghapuskan kutuk kemiskinan bagi kita.

Yesus menghapus kutuk kemiskinan agar kita dapat menerima berkat Abraham “dalam segala hal”—agar kita dapat menerima warisan kita sepenuhnya, yang dilayani oleh Roh Kudus.

Tidak Kekurangan Apapun

Pewahyuan ini didukung oleh banyak ayat lainnya dalam Kitab Suci, baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Secara khusus, kita dapat melihat dua ayat dalam kitab 2 Korintus. Bersama-sama, kedua ayat ini menyajikan pembebasan penuh dari kutuk kemiskinan yang telah diperoleh Kristus bagi kita.

“Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya.” (2 Korintus 8:9 TB)

Kapan Yesus menjadi miskin? Beberapa orang berpendapat bahwa Dia miskin selama pelayanan-Nya di dunia, namun saya tidak dapat menerima hal ini sebagai akurat. Kita perlu mengingat perbedaan antara kekayaan dan kelimpahan. Yesus tidak “kaya”, dalam arti memiliki rekening bank yang besar atau harta benda yang banyak. Namun Dia tentu saja memiiki kelimpahan. Siapa pun yang dapat menyediakan makanan untuk 5.000 orang pria (total keseluruhan sekitar 12.000 orang termasuk wanita dan anak-anak) bukanlah orang miskin! Sebenarnya, Yesus memiliki lebih banyak sisa makanan setelah memberi makan 12.000 orang dibandingkan sebelum Dia memberi makan orang-orang tersebut (lihat kitab Matius 14:15–21). Suatu gambaran kelimpahan yang sungguh indah!

Yesus tidak kaya, namun Ia berkelimpahan. Dia tidak pernah ragu bahwa kebaikan Bapa-Nya akan menyediakan semua yang Dia butuhkan. Dan Bapa tidak pernah mengecewakan-Nya. Itu bukanlah kemiskinan. Kemiskinan adalah kelaparan, kehausan, telanjang, dan membutuhkan segala sesuatu!

Kapan Yesus menjadi miskin? Dia mulai menjadi miskin saat Dia diidentifikasikan dengan dosa-dosa kita. Sejak saat itu, Dia semakin terjerumus ke dalam kemiskinan yang semakin dalam hingga mewakili kemiskinan mutlak di kayu salib.

Mari kita hadapi juga kenyataan bahwa pada saat tersebut kemiskinan-Nya bukan sekadar kemiskinan “spiritual.” Dia miskin secara fisik dan materi. Oleh karena itu, berdasarkan semua hukum logika, kekayaan kita tidak hanya bersifat “spiritual”. Yesus menjadi benar-benar miskin secara jasmani dan materi sehingga kita dapat menjadi kaya dalam arti terpenuhinya segala kebutuhan jasmani dan materi—dan mempunyai kelebihan untuk orang lain.

Rahmat yang Berlimpah

Allah tidak lah kikir. Dia tidak memberi secukupnya saja; Dia memberi cukup dan bahkan lebih. Itu adalah kelimpahan.

“Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan.” (2 Korintus 9:8 TB)

Dalam ayat itu (terjemahan KJV) ada dua kata “berlimpah” (abound) dan lima kata “segalanya” (all). Saya tidak tahu bagaimana sebuah bahasa bisa lebih eksplisit daripada itu.

Ayat ini adalah gambaran tentang kasih karunia Allah. Menariknya, dalam kitab 2 Korintus pasal 8 dan 9, yang membahas tentang uang, kata kuncinya adalah kasih karunia, muncul tujuh kali dalam pasal 8 dan dua kali dalam pasal 9. Jelas sekali, kasih karunia lah yang bekerja dalam bidang keuangan.

Memanfaatkan Kelimpahan Materi

Hanya sedikit orang Kristen yang menyadari bahwa hal ini tidak saja berlaku dalam penyediaan di bidang keuangan dan materi, tetapi juga di bidang lain dalam kehidupan kita. Tapi seperti yang telah kita temukan, ada persyaratannya. Kitab Suci memperingatkan kita secara khusus terhadap sikap tidak bertanggung jawab (Amsal 10:4); melawan kemalasan (Amsal 24:30–34); dan melawan ketidakjujuran (Efesus 4:28). Selama kita bersalah atas dosa-dosa ini, kita tidak mempunyai hak untuk mengharapkan kasih karunia Allah bekerja di bidang keuangan dalam kehidupan kita. Sebagai umat Kristen, kita wajib bersikap jujur, bekerja keras, dan bertanggung jawab.

Tetapi seluruh kerja keras dan tanggung jawab kita saja tidak memberikan kita penyediaan seperti yang dibicarakan di sini. Penyediaan seperti itu tidak dapat diperoleh dengan usaha kita semata. Hal ini hanya dapat diterima oleh kasih karunia melalui iman. Ketika kita menerima kasih karunia Allah dengan iman, kita diangkat ke tingkat yang lebih tinggi daripada yang bisa kita peroleh atau layak kita dapatkan. Hal ini berlaku dalam setiap bidang kehidupan kita—baik keuangan, materi, maupun spiritual.

Dengan menyadari kebenaran ini, kita dibawa pada perbedaan logis yang penting—yang seringkali diabaikan. Perbedaan antara mendapatkan kasih karunia Allah, yang merupakan kemustahilan dan memenuhi persyaratan Allah, yang merupakan kewajiban. Di satu sisi, kita tidak bisa mendapatkan kelimpahan dari Allah dengan usaha sendiri, hal tersebut hanya datang melalui kasih karunia. Di sisi lain, kita dituntut untuk memenuhi syarat-syarat yang telah ditetapkan Allah untuk menerima kelimpahan-Nya melalui iman. Jika kita tidak memenuhi persyaratannya, iman kita tidak mempunyai landasan alkitabiah. Sebenarnya itu bukan iman, melainkan hanyalah asumsi tanpa bukti.

Syarat Pertama Kelimpahan Allah

Kalau begitu, apakah syarat untuk menerima kelimpahan dari Allah? Saya berpendapat bahwa ada lima syarat utama yang dikemukakan dalam Kitab Suci. Kita akan melihat syarat pertama dalam surat ini dan menangani syarat lain di bagian berikutnya.

Memiliki motif dan sikap yang benar.

Sebaiknya kita memeriksa motif kita dengan cermat, karena kemakmuran adalah sumber besar godaan untuk motif yang salah. Apa sajakah motif salah tersebut?

  • ‍Menjadikan kekayaan sebagai allah kita adalah salah. Dalam kitab 1 Timotius 6:10 Paulus berkata, “Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang.” Alkitab versi KJV berkata, “Akar segala kejahatan.” Tapi itu agak berlebihan. Apa yang sebenarnya dikatakan dalam bahasa Yunani adalah, “Cinta akan uang adalah sebuah akar dalam segala kejahatan.” Jadi dari dosa cinta akan uang—ketamakan—segala bentuk kejahatan lainnya dapat muncul dalam kehidupan kita.‍
  • Mencari kekayaan dengan cara yang tidak etis adalah salah. Kitab Amsal 28:8 mengatakan: “Orang yang memperbanyak hartanya dengan riba dan bunga uang, mengumpulkan itu untuk orang-orang yang mempunyai belas kasihan kepada orang-orang lemah.”‍
  • Seseorang bisa mendapatkan banyak uang untuk dirinya sendiri dengan cara yang tidak benar. Namun pada akhirnya harta itu akan diambil darinya dan diberikan kepada orang yang mengasihani orang miskin. Ada hukum yang mengatur penggunaan uang, sama pastinya dengan ada hukum yang mengatur budidaya tanaman yang kita tanam di bumi.‍
  • Percaya pada kekayaan adalah salah. Kitab Amsal 11:28 mengatakan, “Siapa mempercayakan diri kepada kekayaannya akan jatuh.” Sepanjang hidup saya, saya telah melihat hal tersebut terjadi pada banyak orang yang percaya pada kekayaan. Demikian juga kitab Yeremia 9:23-24 memberitahu kita untuk tidak percaya pada kekayaan: Janganlah orang bijaksana bermegah karena kebijaksanaannya, janganlah orang kuat bermegah karena kekuatannya, janganlah orang kaya bermegah karena kekayaannya, tetapi siapa mau bermegah, baiklah bermegah karena yang berikut: bahwa ia memahami dan mengenal Aku, bahwa Akulah TUHAN yang menunjukkan kasih setia, keadilan dan kebenaran di bumi. Maka kita harus berhati-hati untuk tidak bermegah atau bangga akan hikmat, kekuatan atau kekayaan. Semuanya mungkin merupakan hal yang baik, namun tidak satu pun darinya harus menjadi sesuatu yang kita banggakan.‍
  • Menggunakan kekayaan untuk kepentingan diri sendiri adalah salah. Kitab Amsal 11:24 mengatakan: “Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan.”

Ada beberapa orang dermawan yang selalu memberi dan selalu bertambah kaya. Sebaliknya, ada orang-orang kikir yang tidak pernah memberi namun malah semakin miskin. Menggunakan kekayaan secara egois akan selalu salah. Dalam kitab Lukas 12 Yesus menceritakan perumpamaan tentang orang kaya yang membangun lumbung yang lebih besar dan mengisinya dengan hasil panennya. Namun Allah berkata kepadanya, “Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu” (ayat 20). Yesus kemudian menambahkan komentar ini: “Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah” (ayat 21). Hal pertama yang perlu kita jadikan kaya adalah kaya di hadapan Allah.

Sikap Terhadap Kaum Miskin

Kita baru saja membahas empat sikap yang salah sehubungan dengan uang. Sekarang kita ingin mengkaji sikap lain yang harus kita perhatikan baik-baik. Alkitab secara konsisten memperingatkan kita agar tidak meremehkan atau mengeksploitasi orang miskin. Ada banyak ayat Kitab Suci mengenai hal ini, tetapi mari kita lihat dalam kitab Amsal:

“Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi TUHAN, yang akan membalas perbuatannya itu.” (Amsal 19:17 TB)“Siapa memberi kepada orang miskin tak akan berkekurangan, tetapi orang yang menutup matanya akan sangat dikutuki.” (Amsal 28:27 TB)“Orang benar mengetahui hak orang lemah, tetapi orang fasik tidak mengertinya.” (Amsal 29:7 TB)

Ayat-ayat ini—dan banyak ayat lain yang serupa—menaruh tanggung jawab besar kepada kita untuk tidak bersikap acuh tak acuh, namun untuk mempunyai kepedulian terhadap kebutuhan orang miskin. Salah satu tanda kebenaran adalah kita “memperhatikan kepentingan orang miskin”. Sebaliknya, tanda kejahatan adalah kita “tidak memahami pengetahuan tersebut”. Kita hanya mengalihkan pandangan dari penderitaan orang miskin. Selain itu, ada imbalan yang dijanjikan sehubungan dengan kepedulian terhadap orang miskin. Ketika kita memberi kepada orang miskin, Salomo mengatakan kepada kita, kita meminjamkan kepada Allah. Saya dapat bersaksi dari pengalaman bahwa ketika Allah membayar kembali pinjaman kita, Dia tidak melupakan bunganya!

Kitab Mazmur 112 memberikan gambaran tentang “orang yang takut akan Allah” dan berkat yang dinikmatinya. Penting untuk mempelajari gambaran ini secara detail. Namun untuk saat ini, izinkan saya menunjukkan beberapa aspek yang berkaitan dengan tema kita kali ini: “Harta dan kekayaan ada dalam rumahnya, kebajikannya tetap untuk selamanya. Mujur orang yang menaruh belas kasihan dan yang memberi pinjaman... sebab ia takkan goyah untuk selama-lamanya; orang benar itu akan diingat selama-lamanya. Ia membagi-bagikan, ia memberikan kepada orang miskin; kebajikannya tetap untuk selama-lamanya” (ayat 3, 5–6, 9 TB). Dalam kitab 2 Korintus 9:9, Rasul Paulus menerapkan ayat terakhir ini secara khusus kepada kita sebagai orang Kristen. Dalam gambaran manusia yang takut akan Allah ini kita melihat tiga elemen terjalin bersama: kebenaran yang tak tergoyahkan, kemakmuran, kemurahan hati kepada orang miskin.

Mengingat Orang Miskin

Perjanjian Baru juga menekankan kepedulian terhadap orang miskin sebagai bagian penting dalam kebenaran orang Kristen. Dalam kitab Galatia 2:1-10 Rasul Paulus menggambarkan konfrontasi yang ia dan rekan-rekan sekerjanya alami dengan Petrus, Yakobus dan Yohanes mengenai bagaimana Injil harus disampaikan kepada orang-orang bukan Yahudi. Ketegangan ini akhirnya terselesaikan dengan masing-masing kelompok mengakui panggilan yang berbeda dari kelompok lainnya. Namun ada satu hal yang disepakati oleh kedua kelompok—untuk “mengingat orang miskin” (ayat 10). Jadi kita melihat bahwa mengingat orang miskin adalah bagian penting dari pesan Injil, terlepas dari kelompok ras yang menerima pesan tersebut.

Saat kita mengakhiri pembahasan kita tentang syarat pertama untuk menerima kelimpahan dari Allah, akan sangat membantu jika kita meninjau kembali prinsip-prinsip yang telah kita peroleh. Kita harus waspada terhadap motif yang salah berikut ini: menjadikan kekayaan sebagai allah kita, mencari kekayaan dengan cara yang tidak etis, mempercayai kekayaan, atau menggunakan kekayaan dengan egois. Dalam sikap kita terhadap orang miskin, kita telah melihat bahwa menghina atau menindas orang miskin atau tidak peduli terhadap kebutuhan mereka adalah tindakan yang salah. Sebaliknya, Kitab Suci menuntut kita untuk menunjukkan belas kasihan kepada orang miskin dengan cara yang aktif dan praktis.

Dalam surat berikutnya, saya akan memaparkan empat syarat lainnya untuk kelimpahan Allah.

3
Bagikan