Dalam dua surat saya sebelumnya di seri ini, saya memberikan daftar lima prinsip dasar mengenai penyediaan Allah.

  1. Penyediaan Allah ada dalam janji-janji-Nya.
  2. Janji Allah adalah warisan kita.
  3. Janji Allah adalah ekspresi dari kehendak-Nya.
  4. Semua janji Allah tersedia bagi kita melalui Kristus.
  5. Penggenapan janji Allah tidak bergantung pada keadaan kita, melainkan pada pemenuhan syarat-syarat Allah.

Dua Janji Spesifik

Sebagai penerapan praktis dari prinsip-prinsip ini, saya ingin membahas dua janji spesifik Allah yang terdapat dalam kitab Mazmur.

“Takutlah akan TUHAN, hai orang-orang-Nya yang kudus, sebab tidak berkekurangan orang yang takut akan Dia! Singa-singa muda merana kelaparan, tetapi orang-orang yang mencari TUHAN, tidak kekurangan sesuatu pun yang baik.” (Mazmur 34:10-11 TB)
“Sebab TUHAN Allah adalah matahari dan perisai; kasih dan kemuliaan Ia berikan; Ia tidak menahan kebaikan dari orang yang hidup tidak bercela.” (Mazmur 84:12 TB)

Keduanya merupakan janji yang jelas bahwa Allah akan menyediakan segala hal baik yang dibutuhkan umat-Nya. Namun, sebelum kita bergegas mengklaim janji-janji tersebut, mari kita mengambil langkah logis dengan memeriksa persyaratannya. Mengabaikan langkah ini menyebabkan banyak orang tersesat. Mereka berkata, “Oh, itu janji yang indah. Saya menginginkannya,” namun mereka tidak berhenti sejenak untuk memeriksa persyaratannya. Sebagian besar janji Allah bersifat bersyarat: “Jika kamu melakukan ini—Aku akan melakukan itu.”

Tentu saja, ada beberapa janji Allah yang tidak bersyarat. Misalnya, “Akan terjadi pada hari-hari terakhir... bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia” Kisah Para Rasul 2:17. Janji lainnya adalah janji Allah mengenai pemulihan Israel. Ini merupakan janji-janji Allah tanpa syarat yang berkaitan dengan waktu tertentu. Ada beberapa janji yang akan ditepati Allah tanpa syarat jika itu sesuai dengan kehendak-Nya. Namun, sebagian besar janji Allah adalah bersyarat.

Persyaratannya

Sebelum kita menuntut janji-janji yang terkandung dalam ayat-ayat di atas, kita perlu melakukan beberapa analisa alkitabiah sederhana untuk mengetahui syarat-syarat yang melekat padanya, mengingat janji-janji itu hanya diberikan kepada mereka yang memenuhi persyaratan. Dengan menggabungkan kedua ayat tersebut, kita menemukan bahwa ada tiga syarat sederhana yang dinyatakan. Dapatkah Anda menemukannya?

Kita harus:

  • Takut akan Allah.
  • Mencari Allah.
  • Berjalan dalam kebenaran.

Asalkan kita memenuhi ketiga syarat di atas, maka Kitab Suci mengatakan Allah tidak akan menahan kebaikan apa pun dari kita. Menarik bukan?

Namun, masih diperlukan analisis lebih lanjut secara logika. Kata kunci dari janji-janji ini adalah “baik.” Tidak ada hal baik yang akan Allah sembunyikan dari mereka yang memenuhi persyaratanNya. Sebelum memutuskan bahwa sesuatu yang kita klaim dari Allah berdasarkan janji-janji ini adalah “baik”, kita perlu menanyakan dua pertanyaan lebih lanjut kepada diri kita sendiri.

Pertama-tama, apakah hal itu sendiri adalah baik? Atau (dengan menggunakan terminologi filosofis) apakah hal tersebut secara mutlak baik? Ini merupakan faktor yang selalu konstan. Suatu hal yang secara mutlak baik, akan selalu baik.

Namun yang kedua, kita perlu bertanya: Apakah hal tersebut baik bagi saya dalam situasi saat ini? Menggunakan terminologi filosofis sekali lagi, apakah hal tersebut secara relatif baik? Ini merupakan faktor yang tidak tetap dalam sebuah situasi. Sesuatu yang baik dapat menjadi tidak baik bagi kita dalam situasi tertentu. Dengan kata lain, hal tersebut mungkin secara mutlak baik tetapi tidak secara relatif baik.

Perbedaan antara apa yang secara mutlak baik dan apa yang secara relatif baik harus ditelusuri lebih lanjut untuk membahas topik ini. Bagaimana Alkitab menilai kemakmuran, kekayaan, kelimpahan, dan kesejahteraan? Apakah hal tersebut masing-masing adalah buruk? Atau apakah semuanya secara mutlak baik?

Yang terpenting adalah kita mempertanyakan pertanyaan tersebut pada diri kita sendiri dan menemukan jawaban yang objektif dan sesuai dengan Alkitab. Di latar belakang sebagian besar umat Kristen terdapat sikap religius bahwa segala sesuatu yang baik pasti buruk. Sebaliknya, apa pun yang baik bagi Anda tidak mungkin bersifat menyenangkan. Sikap itu ditanamkan dalam diri kita sedari kecil mengenai obat-obatan yang wajib kita konsumsi: semakin tidak enak rasanya, semakin banyak manfaatnya bagi Anda!

Saya mengetahui tentang hal ini dari pengalaman pribadi. Ketika Tuhan menyelamatkan dan membaptis saya dalam Roh Kudus, saya mengalami pergumulan pribadi yang luar biasa untuk mengubah pola pikir lama yang berkata: “Jika kamu ingin menjadi seorang Kristen, bersiaplah untuk menjadi sengsara.” Saya pernah mendengar Pat Boone memberikan kesaksian serupa. Sebagai seorang siswa sekolah menengah, dia sampai pada kesimpulan bahwa jika dia menjadi seorang Kristen yang berkomitmen, itu berarti tujuh puluh tahun kesengsaraan dan kemudian surga pada akhirnya. Dan dia tidak yakin surga akan sepadan dengan tujuh puluh tahun penderitaan!

Baik atau buruk?

Pertanyaan yang ingin saya ajukan dalam surat ini adalah: “Apakah kemiskinan itu baik atau buruk?” “Apakah kekayaan itu baik atau buruk?” Daripada jawaban yang berdasarkan emosi atau tradisi agama, saya menginginkan jawaban yang logis, obyektif, dan alkitabiah—jawaban yang mempunyai dampak menentukan dalam cara hidup kita. Jika kekayaan itu buruk, kita harus menjauhkan diri dari padanya dan tidak terlibat dalam aktivitas atau proses apa pun yang dapat menghasilkan kekayaan. Namun, saya yakin bahwa Kitab Suci dengan jelas dan konsisten memberikan jawaban yang sebaliknya: kekayaan, atau kemakmuran, pada dasarnya adalah hal yang secara mutlak baik. Ada banyak sekali ayat Kitab Suci yang dapat kita gunakan untuk mendukung kesimpulan ini, namun saya harus puas dengan beberapa ayat saja.

Yang pertama ada di dalam kitab Wahyu 5:12. Dalam ayat ini para malaikat dan makhluk serta seluruh penghuni surga sedang berbicara. Mereka menyuarakan konsensus bulat dari seluruh surga, dan penilaian mereka bersifat mutlak dan tidak berubah. Dengan suara nyaring mereka berkata:

“Anak Domba yang disembelih [Yesus Kristus] itu layak untuk menerima kuasa, dan kekayaan, dan hikmat, dan kekuatan, dan hormat, dan kemuliaan, dan puji-pujian!” TB

Keyakinan saya adalah bahwa ketujuh hal tersebut pada dasarnya adalah baik, dan semuanya adalah milik Tuhan Yesus Kristus secara kekal. Hal kedua yang disebut dalam daftar tersebut adalah kekayaan. Mari kita lihat hal-hal yang lain: kekuasaan, kebijaksanaan, kekuatan, kehormatan, kemuliaan, berkat. Hal ini membuat kekayaan termasuk dalam daftar hal-hal yang baik, bukan? Ketujuh hal dalam ayat tersebut pada dasarnya adalah sepenuhnya baik.

Di sisi lain, hampir semuanya dapat disalahgunakan dan di salah terapkan. Jelas sekali, kekuasaan dapat disalahgunakan dan disalah terapkan, dan hal ini sering sekali terjadi. Kekuatan, kekayaan, kebijaksanaan—semuanya juga dapat disalahgunakan. Saya percaya Raja Salomo adalah contoh seseorang yang mempunyai hikmat luar biasa namun menyalahgunakannya, sehingga hidupnya berakhir dengan penyembahan berhala. Kenyataan bahwa sesuatu itu sepenuhnya baik tidak berarti bahwa hal itu tidak dapat disalahgunakan atau disalah terapkan. Tetapi sangatlah bodoh jika kita menolaknya hanya karena hal tersebut dapat disalah terapkan.

Namun, ini adalah salah satu taktik favorit Setan—untuk membuat kita menolak sesuatu yang baik karena kita telah melihatnya disalah terapkan. Contohnya, saya bekerja di Afrika Timur selama lima tahun di sebuah organisasi misionaris Pantekosta yang berbasis di Kanada. Setelah sekitar satu tahun, saya menyadari bahwa mereka hampir tidak pernah menggunakan karunia Roh Kudus apa pun. Jadi saya bertanya, “Mengapa kita tidak mempunyai karunia Roh Kudus yang bekerja?” Mereka menjawab, “Oh, di Kanada mereka telah disalahgunakan.” Tetapi itu tidak masuk akal! Lalu kenapa jika karunia tersebut telah disalahgunakan? Apakah itu berarti kita tidak boleh menggunakannya?

Jika itu adalah alasan yang cukup untuk tidak memanfaatkan penyediaan Allah, maka tidak ada hal baik yang tersisa bagi kita, karena iblis selalu dapat menemukan seseorang untuk menyalahgunakan hal baik apa pun. Namun demikian banyak orang Kristen yang terpengaruh oleh pemikiran semacam ini sampai pada titik di mana mereka tidak lagi mengambil apa yang baik dan apa yang menjadi hak mereka karena ada yang menyalahgunakannya. Bagi saya, alasan seperti itu tidak dapat diterima. Tidak masalah jika seluruh dunia menyalahgunakan kekayaan! Jika hal itu baik, saya menginginkannya! Begitupun untuk kebijaksanaan, kekuasaan, kekuatan, kehormatan, kemuliaan atau berkat.

Sumbernya adalah Allah

Salah satu faktor penting dalam mengevaluasi sesuatu adalah dengan menentukan sumbernya. Dalam kitab 1 Tawarikh 29:12, Daud berdoa kepada Tuhan dan dia berkata dengan sangat sederhana, “Sebab kekayaan dan kemuliaan berasal dari pada-Mu.” Apa sumber utama kekayaan dan kemuliaan? Allah sendiri!

Kita perlu berpegang pada fakta alkitabiah ini: Allah adalah sumber utama kekayaan dan kemuliaan. Segala sesuatu yang berasal dari Allah pasti baik. Ada banyak bagian lain dalam kitab Tawarikh yang menegaskan hal itu, namun kita tidak akan membahasnya di sini. Sebaliknya, kita akan melihat ayat lain yang berhubungan dalam kitab Ulangan 8:18:

“Tetapi haruslah engkau ingat kepada TUHAN, AllahMu, sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan, dengan maksud meneguhkan perjanjian yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, seperti sekarang ini.” TB

Allahlah yang memberi kita kemampuan untuk mendapatkan kekayaan. Banyak orang yang menyalahgunakan kuasa itu, padahal kuasa itu berasal dari Allah. Mengapa Allah memberikannya kepada umat-Nya? “Dengan maksud meneguhkan perjanjian yang diikrarkan-Nya.” Itu adalah bagian dari komitmen perjanjian Allah kepada umat-Nya. Oleh karena itu, marilah kita berfokus pada kesetiaan Allah dalam menepati perjanjian, bukan pada ketidaksetiaan manusia yang sering menyalahgunakan kuasa yang diberikan Allah kepada mereka.

Ketika saya melihat orang-orang kaya, jelas bagi saya bahwa hal itu tidak bergantung sepenuhnya pada tingkat pendidikan mereka. Banyak orang terpelajar mengalami kegagalan finansial, sementara yang lain, yang bahkan tidak bisa mengeja namanya dengan benar, menjadi sangat kaya.

Beberapa tahun yang lalu ada seorang pria di Inggris yang wawancaranya muncul di surat kabar. Dia tidak bisa membaca atau menulis, jadi dia melamar pekerjaan sebagai petugas kebersihan. Mereka berkata, “Kamu sangat cocok. Cukup tandatangani nama Anda di formulir aplikasi ini.” Namun dia berkata, “Saya tidak bisa menandatangani nama saya—saya tidak tahu cara menulisnya.” Jadi mereka menolak memberinya pekerjaan itu.

Setelah ditolak menjadi petugas kebersihan, ia mulai menjual cerutu. Hasilnya ia menjadi seorang jutawan. Pria yang mewawancarainya berkata, “Bukankah itu luar biasa? Anda bahkan tidak bisa menulis nama Anda sendiri dan Anda telah menjadi seorang jutawan. Wah, bayangkan apa yang akan terjadi jika Anda bisa menulis nama Anda!” Pria itu menjawab, “Saya akan menjadi seorang petugas kebersihan!”

Jika Anda berpikir tentang orang-orang kaya yang Anda kenal, Anda akan menemukan bahwa kekayaan tidak selalu disertai dengan pendidikan. Orang yang kelihatannya paling tidak berpotensi malah menjadi kaya. Tidak diragukan lagi, pasti ada beberapa prinsip umum yang berlaku. Meskipun demikian, kemampuan untuk memperoleh kekayaan tidak dapat dijelaskan secara alamiah saja. Pada akhirnya, sumbernya adalah Allah.

Faktor Ketaatan

Hal ini membawa kita pada prinsip dasar yang secara konsisten ditekankan di seluruh Kitab Suci: Ketaatan kepada Allah membawa kesejahteraan dan kelimpahan. Misalnya, apa yang Allah katakan dalam kitab Ulangan pasal 28. Pasal ini dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama, ayat 1 sampai 14, mencantumkan berkat-berkat yang didapat dari ketaatan kepada Allah. Bagian kedua, ayat 15 sampai 68, berisi daftar kutuk yang terjadi akibat ketidaktaatan kepada Allah. Kita akan melihat keduanya—daftar berkat terlebih dahulu, baru kemudian daftar kutuk.

Tetapi sebelumnya, kita perlu memahami persyaratan pertama dan terpenting dari ketaatan itu sendiri. Hal ini dinyatakan dalam kata pembuka pasal ini:

“Jika engkau baik-baik mendengarkan suara TUHAN, Allahmu” (Ulangan 28:1 TB)

Ketaatan dimulai dengan mendengarkan suara Allah. Sebaliknya, kita melihat di ayat 15 yang membuka daftar kutuk, bahwa ketidaktaatan justru dimulai dengan kebalikannya: “Tetapi jika engkau tidak mendengarkan suara TUHAN, Allahmu” (TB). Di sinilah titik di mana kedua jalur itu terbagi.

Jalan menuju semua berkat dimulai saat kita mendengarkan suara Allah; jalan menuju segala kutuk dimulai ketika kita tidak mendengarkan suara Allah.

Prinsip yang sama berlaku di seluruh Kitab Suci. Dalam kitab Yeremia 7:23 Tuhan memberi tahu Israel apa yang Dia, sebagai Allah mereka, tuntut dari mereka:

“Dengarkanlah suara-Ku, maka Aku akan menjadi Allahmu dan kamu akan menjadi umat-Ku.” TB

Apa yang menandai umat Allah? Sederhana saja, mereka menaati suara-Nya. Prinsip ini dibawa dengan tidak ada perubahan, ke dalam Perjanjian Baru. Yesus berkata, “Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku” (Yohanes 10:27 TB). Inilah salah satu tanda penting dari mereka yang benar-benar menjadi milik Yesus: Mereka mendengar suara-Nya dan mengikuti Dia. Pada akhirnya, semuanya bergantung pada apakah kita mendengar suara Allah atau tidak.

Sekarang mari kita melihat daftar berkat karena ketaatan yang dimulai dalam kitab Ulangan 28:2:

“Segala berkat ini akan datang kepadamu dan menjadi bagianmu, jika engkau mendengarkan suara TUHAN, Allahmu: Diberkatilah engkau di kota, dan... di ladang. Diberkatilah buah kandunganmu, hasil bumimu dan hasil ternakmu, yakni anak lembu sapimu dan kandungan kambing dombamu. Diberkatilah bakulmu dan tempat adonanmu... TUHAN akan memerintahkan berkat ke atasmu di dalam lumbungmu dan di dalam segala usahamu; Ia akan memberkati engkau di negeri yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu... Juga TUHAN akan melimpahi engkau dengan kebaikan dalam buah kandunganmu, dalam hasil ternakmu dan dalam hasil bumimu... TUHAN akan membuka bagimu perbendaharaan-Nya yang melimpah, yakni langit, untuk memberi hujan bagi tanahmu pada masanya dan memberkati segala pekerjaanmu.” (ayat 2–5, 8, 11–12 TB)

Perhatikan betapa kata-kata yang digunakan disini mencakup semuanya: “di dalam segala usahamu”, “segala pekerjaanmu”. Ungkapan yang mencakup semuanya juga diulang dalam kitab Ulangan pasal 29:9:

“Sebab itu lakukanlah perkataan perjanjian ini dengan setia, supaya kamu beruntung dalam segala yang kamu lakukan.” TB

Berkat yang dijanjikan sebanding dengan ketaatan yang dituntut. Ketaatan total mendatangkan berkat total. Tidak ada bidang kehidupan kita yang dikecualikan. Tidak ada ruang tersisa untuk kegagalan, frustrasi atau kekalahan. Tidak ada ruang untuk apapun kecuali kesuksesan.

Sekarang mari kita lihat sebentar kepada hal yang sebaliknya—kutuk bagi ketidaktaatan.

“Tetapi jika engkau tidak mendengarkan suara TUHAN, Allahmu... maka segala kutuk ini akan datang kepadamu dan mencapai engkau” (Ulangan 28:15 TB)

Kita telah melihat bahwa titik dasar manusia meninggalkan Allah adalah dengan tidak mendengarkan suara-Nya. Jika kita telusuri sejarah manusia atau suku atau bangsa yang meninggalkan Allah, selalu bermulai dari titik itu. Mereka berhenti mendengarkan. Seringkali permulaannya tidak begitu terlihat dan sulit dideteksi. Dari luar kita masih dapat terlihat selaras dengan perintah-perintah Allah untuk jangka waktu yang lama setelah kita berhenti mendengarkan suara Allah. Namun jika kita telusuri sumber permasalahan kita, itu semua bermula ketika kita tidak lagi mendengarkan Allah.

Daftar kutuk yang sangat panjang, tetapi salah satu yang khususnya berlaku dalam pokok bahasan kita ada di ayat 29: “sehingga engkau meraba-raba pada waktu tengah hari, seperti seorang buta meraba-raba di dalam gelap; perjalananmu tidak akan beruntung.” Alkitab sangatlah konsisten. Sebagaimana kesejahteraan adalah sebuah berkat, maka hidup yang tidak sejahtera adalah sebuah kutuk. Aspek kutuk ini dijelaskan lagi secara lebih lengkap di ayat 47 dan 48:

“Karena engkau tidak mau menjadi hamba kepada TUHAN, Allahmu, dengan sukacita dan gembira hati walaupun kelimpahan akan segala-galanya.” (ayat 47 TB)

Mari kita berhenti sejenak di sini dan memperhatikan bahwa ayat ini menyatakan kehendak Allah yang positif bagi umat-Nya—bahwa kita melayani Dia dengan sukacita dan kegembiraan atas segala kelimpahan. Namun, jika karena ketidakpercayaan dan ketidaktaatan kita tidak masuk ke dalam kehendak positif Allah, maka pilihan negatif terbentang di hadapan kita di ayat berikutnya:

“Maka dengan menanggung lapar dan haus, dengan telanjang dan kekurangan akan segala-galanya engkau akan menjadi hamba kepada musuh yang akan disuruh TUHAN melawan engkau.” (ayat 48 TB)

Lihatlah daftar itu sejenak: lapar, haus, telanjang, dan kebutuhan akan segala sesuatu. Bayangkan itu. Tidak ada makanan, tidak ada minuman, tidak ada pakaian, tidak ada apa-apa. Ringkasnya dalam satu kata: Kemiskinan! Bahkan menurut saya itu merupakan: kemiskinan yang mutlak. Termasuk yang manakah itu—kutuk atau berkat? Jawabannya, kemiskinan yang mutlak adalah sebuah kutuk.

Dalam surat saya berikutnya dalam seri ini, kita akan melihat cara Yesus menangani kutuk kemiskinan demi kita, sehingga kita dapat sepenuhnya terbebas dari dampaknya.

1
Bagikan