Logo
Logo
Learn
Buku-bukuKursus AlkitabSumber
PenjangkauanTentang
Indonesia Flag Icon

Menu

  • Home
  • Learn +
    • Penjangkauan
    • Tentang +
      • Bergabung +
        • Kontak +

            Dapatkan eBook Gratis

            Mulailah koleksi Derek Prince anda dengan eBook gratis berjudul Bagaimana Beralih Dari Kutuk Kepada Berkat saat anda berlangganan buletin kami.

            Pengajaran Alkitab Gratis
            Logo
            Logo
            HomeLearnPenjangkauanTentangBerikan Donasi

            Hak Cipta © 2026 Pelayanan Derek Prince. Seluruh hak cipta

            KontakKerahasiaan PribadiHak CiptaLicensesPeta Situs
            Rumah
            Sumber
            Diyakinkan Sepenuhnya

            Diyakinkan Sepenuhnya

            Derek Prince

            Derek Prince

            Menyukai
            Membagikan
            Bahasa Indonesia

            *Article Language

            Kirimkan Kesaksian

            Menawarkan

            Memberi

            *First Published: 2008

            *Last Updated: Maret 2026

            2 min read

            Abraham menghadapi kenyataan yang mustahil terkait usia dirinya dan Sara, namun ia tidak goyah terhadap janji Allah. Kita pun dapat mengikuti teladannya dengan berpegang teguh pada pengakuan iman kita dan memandang melampaui apa yang dikatakan oleh pancaindra kita kepada Imam Besar kita yang setia.

            Berkaitan dengan hal membuat pengakuan yang benar dan berpegang teguh padanya tanpa ragu-ragu, saya ingin melihat kepada contoh Abraham, sebagaimana Paulus menggambarkannya. Abraham adalah salah satu contoh terbaik dari orang yang berpegang teguh tanpa ragu-ragu. Paulus menulis:

            “Imannya tidak menjadi lemah, walaupun ia mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah, kaena usianya telah kira-kira seratus tahun, dan bahwa rahim Sarah telah tertutup.” (Roma 4:19)

            Iman yang sungguh selalu menghadapi kenyataan. Jika ada sikap untuk tidak mau melihat kenyataan-kenyataan yang dihadapi, itu bukanlah iman yang sungguh. Abraham tidak berusaha menipu dirinya. Ia tidak membayangkan dirinya seolah-olah berbeda dengan keberadaannya sendiri. Dengan indranya Abraham menyadari bahwa tubuhnya praktis sudah mati, begitu juga rahim Sarah, istrinya. Tetapi ia tidak mau hanya mengandalkan indranya. Paulus selanjutnya berkata:

            “Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidak-percayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah, dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan.Karena itu hal ini diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran.” (Roma 4:20–22)

            Abraham disebut sebagai

            “bapa semua orang percaya” (Roma 4:11)

            dan kepada kita dianjurkan untuk meniru jalan hidupnya yang penuh iman itu. Kita diminta untuk berpegang kuat kepada janji Tuhan, membuat pengakuan kita, berpegang pada pengakuan itu tanpa ragu-ragu. Kita harus menolak untuk menjadi kecil hati karena hal-hal yang diungkapkan oleh panca indra kita, dan jangan hanya melihat perkara-perkara yang kelihatan. Dengan penuh iman kita harus juga memandang kepada dunia yang tidak kasat mata dan kepada Imam Besar kita yang setia yang berada di sebelah kanan Allah.

            *Prayer Response

            Terima kasih, Tuhan, karena Engkau setia – Engkau memberi harapan kepadaku. Ku-deklarasikan, aku akan menghadapi semua fakta tanpa menjadi bimbang karena mulai tidak percaya. Aku akan berpegang teguh pada harapanku. Amin.

            Aku Sudah Berdoa
            Menyukai
            Membagikan
            Expand Content

            What People Say

            See how Diyakinkan Sepenuhnya has impacted lives across the globe.

            "I've applied the Biblical principles on family relationships from this teaching, and it has completely restored harmony in our home. My teenagers and I now have meaningful conversations about faith, and my marriage has been strengthened in ways I never thought possible."
            Elena R., Brazil
            "The teachings on spiritual warfare completely transformed my approach to daily challenges. I used to feel overwhelmed by life's obstacles, but now I understand how to stand firm in faith. This teaching gave me practical tools I use every single day."
            Sarah K., California
            "After 20 years of struggling with unforgiveness, the Biblical principles shared in this teaching helped me release the bitterness I had been carrying. The step-by-step approach to forgiveness wasn't just theory—it actually worked in my life when nothing else had."
            Michael T., United Kingdom
            "As a new Christian, I was confused about many aspects of faith. These teachings provided clear, Scripture-based explanations that helped build my foundation. I'm especially grateful for how the content made complex concepts accessible without watering down the truth."
            Priya M., India
            "The teaching on God's sovereignty during difficult times came to me exactly when I needed it most. After losing my job and facing health challenges, this message reminded me that God remains in control. It gave me hope when I had none left."
            James L., Australia
            "I've applied the Biblical principles on family relationships from this teaching, and it has completely restored harmony in our home. My teenagers and I now have meaningful conversations about faith, and my marriage has been strengthened in ways I never thought possible."
            Elena R., Brazil
            "The teachings on spiritual warfare completely transformed my approach to daily challenges. I used to feel overwhelmed by life's obstacles, but now I understand how to stand firm in faith. This teaching gave me practical tools I use every single day."
            Sarah K., California

            Kode: WD-B097-326-IND

            Hadiah
            Memberi
            Kirim Masukan