Kekudusan dengan Menaruh Iman

Derek Prince
*First Published: 2008
*Last Updated: Maret 2026
2 min read
Kita boleh berkata bahwa masa kebangunan rohani pasti sudah tiba, apabila umat Tuhan mulai lebih merindukan kekudusan daripada kesembuhan. Skala prioritas manusia memang serba salah. Jika saya mengadakan kebaktian untuk penyembuhan orang sakit, pasti banyak orang akan hadir. Tetapi jumlah hadirin akan langsung merosot apabila saya akan berkhotbah mengenai kekudusan. Padahal, kekudusan itu jauh lebih penting daripada kesembuhan. Kesembuhan itu bersifat sementara dan hanya akan bermanfaat untuk hidup di dunia ini saja. Memang kita bersyukur atas kesembuhan itu. Namun kekudusan adalah sesuatu yang bersifat kekal. Kekudusan itu akan tetap mengiringi kita ketika akan masuk surga. Sesuatu harus terjadi dahulu melalui kuasa Roh Kudus, sehingga terjadi pergeseran dalam nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh umat Kristen.
“Dan sekarang aku menyerahkan kamu kepada Tuhan dan kepada firman kasih karunia-Nya, yang berkuasa membangun kamu dan menganugerahkan kepada kamu bagian [warisan, dalam teks bahasa Inggris] yang telah ditentukan bagi semua orang yang telah dikuduskan-Nya.” (Kisah 20:32)
Warisannya adalah bagi orang-orang yang telah dikuduskan. Menurut ayat ini, Firman Tuhan dapat membawa kita kepada warisan tersebut. Tetapi bagaimanakah pengudusan itu bisa dialami dengan cara Allah yang lebih baik, yaitu melalui Perjanjian yang Baru? Tatkala Yesus mengungkapkan diri-Nya kepada Saulus untuk pertama kali Ia sendirilah yang memberi tugas kepada Saulus itu, yang berasal dari kota Tarsus (yang kemudian menjadi Rasul Paulus). Yesus pun berkata:
“Aku akan mengasingkan engkau dari bangsa ini dan dari bangsa-bangsa lain. Dan Aku akan mengutus engkau kepada mereka, untuk membuka mata mereka, supaya mereka berbalik dari kegelapan kepada terang dan dari kuasa Iblis kepada Allah, supaya mereka oleh iman mereka kepada-Ku memperoleh pengampunan dosa dan mendapat bagian dalam apa [warisan] yang ditentukan untuk orang-orang yang dikuduskan.” (Kisah 26:17–18)
Kita bisa saja dikuduskan dengan mematuhi semua peraturan dalam Perjanjian Lama – asalkan kita terus saja tidak pernah lalai di sepanjang waktu. Sekali lagi, hal ini mustahil bagi manusia yang penuh dosa. Cara yang satu lagi berbeda sama sekali – yaitu dengan beriman kepada Yesus, bukan dengan menjalankan seperangkat peraturan.
*Prayer Response
Terima kasih, Tuhan, karena darah Yesus. Ku-deklarasikan imanku akan Yesus Kristus, dan kutegaskan bahwa oleh darah Yesus aku dikuduskan, dijadikan suci, dan dikhususkan hanya untuk Tuhan saja. Amin.
Kode: WD-B097-042-IND