Betapa Indahnya Hidup Ini

Derek Prince
*First Published: 2008
*Last Updated: Maret 2026
2 min read
Di Kejadian 2:7 kita membaca kisah cerita bagaimana manusia pertama diciptakan oleh Tuhan. Tuhan Allah (yang berkepribadian) menciptakan seorang manusia yang berkepribadian untuk menjalin suatu hubungan pribadi dengan Diri-Nya. Hubungan tersebut adalah antara satu sosok Pribadi dengan sesosok pribadi lain. Hal ini bukan sebuah khayalan belaka. Tidak ada sesuatu kekuatan abstrak yang sedang bekerja di jagat raya. Tetapi di sinilah “seorang” Pribadi (Tuhan) yang menciptakan seorang pribadi lain, karena menginginkan suatu hubungan persekutuan dengan pribadi tersebut. Bagi saya kisah cerita ini dengan jelas sekali mengajarkan bahwa ada satu alasan utama mengapa Tuhan menciptakan anak manusia. Alasannya adalah untuk menikmati hubungan persekutuan dengan manusia.
“Di Kejadian 2:7 kita membaca kisah cerita bagaimana manusia pertama diciptakan oleh Tuhan.”
Bayangkanlah apa yang terjadi saat itu! Tuhan berjongkok (bayangkan!), mengambil debu dengan tangan-Nya, kemudian mencampurkan debu itu dengan air, dan membuat sebuah bentuk tubuh seorang manusia. Tetapi tubuh itu tidak bernyawa! Sesudah itu terjadilah sesuatu yang sungguh menakjubkan. Sang Pencipta membungkukkan badan-Nya, menempelkan bibir-Nya kepada bibir yang terbuat dari tanah liat itu. Ia menempelkan hidung-Nya ke lubang hidung yang terbuat dari tanah liat itu, lalu menghembuskan kehidupan ke dalamnya. Nafas-Nya menembus sosok tanah liar itu dan mengubahkannya menjadi sebuah makhluk manusia yang hidup, lengkap dengan segala organ tubuhnya yang berfungsi dengan sempurna, lengkap dengan segala kemampuan rohani, intelektual dan emosional yang dimiliki sebuah makhluk manusia. Belum pernah ada makhluk semacam ini yang diciptakan.
Kata-kata yang ditulis untuk menggambarkan mukjizat besar ini benar-benar jelas dan hidup. Bahasa Ibrani merupakan suatu bahasa yang sungguh unik, di mana kata-kata tertentu bunyi lafalannya langsung melukiskan gerakan atau tindakan yang diceritakan. Misalnya, kata “menghembuskan” (breathed, dalam teks Alkitab bahasa Inggris) dalam bahasa Ibrani itu bunyi lafalannya yip-pach. Ucapan kata itu mulai dengan sebuah “letupan” kecil yang terjadi dalam rongga mulut, kemudian udara secara kuat melejit keluar dari kerongkongan si pembicara. Jadi, kata (“menghembuskan”) itu sekaligus menggambarkan tindakan yang dimaksudkan.
Ketika Tuhan merendahkan “badan”-Nya untuk membungkuk dan mencium bibir serta lubang hidung yang terbuat dari tanah liat itu, Ia tidak mengeluarkan suara yang mengeluh atau mendesah. Ia menghembuskan sebuah aliran napas yang kuat dan menyentak ke dalam tubuh yang terbuat dari tanah liat itu. Demikianlah tubuh manusia menerima kehidupan dari Tuhan sendiri melalui sebuah transfer yang sungguh ajaib.
*Prayer Response
Terima kasih, Tuhan, atas karya-Mu dalam diriku. Ku-deklarasikan, Tuhan ingin menikmati hubungan denganku dan Ia meniupkan napas hidup-Nya ke dalamku. Akulah buatan tangan Bapa-Ku. Amin.
Kode: WD-B097-268-IND