Senjata-Senjata Peperangan Rohani

Derek Prince
*First Published: 2000
*Last Updated: April 2026
12 min read
This teaching is not currently available in Bahasa Indonesia.
Kita mengetahui sekarang, bahwa mau tidak mau kita langsung terlibat dalam suatu peperangan rohani yang besar ketika menjadi orang Kristen untuk pertama kalinya. Dan peperangan semesta itu sesungguhnya terjadi di langit maupun di bumi. Bukan itu saja. Karena ternyata musuh- musuh kita yang sangat berpengaruh dan berbahaya itu merupakan sebuah komplotan besar yang terdiri dari banyak malaikat yang jahat, sedangkan markas besar atau kerajaan mereka berada di alam roh.
Bersyukur, karena Tuhan begitu bijak dan demikian besar belas kasihan- Nya, sehingga Ia sudah memperlengkapi kita dengan segala senjata yang diperlukan untuk mencapai kemenangan. Mengingat bahwa peperangan ini harus dilakukan di alam roh, maka senjata-senjata yang harus digunakan juga bersifat rohani. Paulus berkata bahwa “senjata kami dalam perjuangan bukanlah senjata duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah, yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng” (2 Korintus 10:4).¹
"Benteng-benteng" (kubu-kubu pertahanan) yang harus digempur itu pun bersifat rohani. Selama berabad-abad Iblis telah berhasil membangun kubu-kubu pertahanan atau “benteng-benteng” tersebut dalam hati dan pikiran manusia. Orang-orang telah lama terperangkap dalam “benteng” ketakutan, keserakahan, kebencian, pemujaan berhala, prasangka rasial, dan banyak hal lainnya.
Pada intinya, “benteng-benteng” inilah yang menghalangi upaya para pakar politik untuk menghasilkan perdamaian yang sungguh-sungguh. Alasan-alasan logika dan politik yang diajukan untuk mencapai kesepakatan damai ternyata tidak cukup kuat untuk menghancurkan pengaruh kuat dari roh-roh jahat yang selalu saja menghalangi perdamaian.
Perdamaian yang sejati hanya akan terwujud di dunia apabila Kerajaan Kristus mulai berkuasa atasnya. Untuk itulah kita sebagai umat Kristen melakukan peperangan rohani, dan untuk itulah kita memakai senjata- senjata rohani. Tujuannya adalah untuk meruntuhkan kubu-kubu pertahanan rohani yang telah terbangun dalam hati manusia serta meratakan jalan supaya Kristus dapat berdaulat dalam Kerajaan-Nya; pertama-tama di dalam hati mereka dan pada akhirnya juga di seluruh muka bumi.
Ada tujuh senjata rohani atau tujuh perlengkapan rohani yang kita butuhkan, dan semuanya disebutkan oleh Paulus dalam Efesus 6:13-18. Sebagai contohnya ia menyebutkan berbagai perlengkapan senjata yang umumnya dipakai oleh para tentara Romawi pada zamannya. Berikut inilah senjata-senjata rohani tersebut:
1. Ikat Pinggang Kebenaran
Di zaman Paulus, busana kaum pria dan wanita pada umumnya merupakan jubah panjang yang longgar, dan panjangnya paling sedikit sampai sebatas lutut. Sebelum melakukan kegiatan apa pun juga yang cukup berat, biasanya jubah yang menggantung itu diikat dan diselipkan di bawah ikat pinggangnya. Baru sesudah itulah mereka dapat melakukan kegiatan apapun yang memerlukan banyak gerak. Tidaklah heran, mengapa dalam Alkitab kita sering menemukan ungkapan: “Angkat jubahmu dan ikatlah pinggangmu.”
Mengenakan (memasang) “ikat pinggang kebenaran” itu pada hakikatnya berarti bahwa kita harus menghentikan segala bentuk kepalsuan atau sikap berkompromi. Seperti jubah yang bergelantungan harus diselipkan di bawah ikat pinggang agar tidak menghalangi gerak seseorang, semua kepalsuan harus disingkirkan dari hidup kita agar tidak menghambat kemajuan rohani kita. Kita harus berpegang teguh kepada kebenaran Firman Allah, sekalipun mungkin agak bersifat kontroversial atau mengundang kecaman orang.
Selain itu, kita harus juga bersifat terbuka sepenuhnya dan tulus dalam segala hubungan pribadi. Ini merupakan syarat penting untuk mengalami pertumbuhan rohani yang baik. Ketika memberikan nasihat kepada jiwa-jiwa baru yang telah mulai menjadi orang Kristen, Rasul Petrus menulis:
"Karena itu buanglah segala kejahatan, segala tipu muslihat dan segala macam kemunafikan, kedengkian dan fitnah. Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan”(1 Petrus 2:1-2, huruf miring dari penulis).
Terutama sekali perlu untuk benar-benar bersikap terbuka dan jujur dalam hubungan kita dengan Tuhan sendiri. Inilah syarat mutlak yang harus dipenuhi untuk mendapatkan pewahyuan rohani. Daud pun berkata:
“Sesungguhnya, Engkau berkenan akan kebenaran dalam batin, dan dengan diam-diam Engkau memberitahukan hikmat kepadaku” (Mazmur 51:8).
Tuhan hanya berkenan menyingkapkan hikmat-Nya yang terdalam kepada orang-orang yang memegang kebenaran dalam kehidupan batiniahnya.
2. Baju Zirah Keadilan
Fungsi dari “baju zirah” [pelindung dada prajurit Romawi zaman dulu, yang terbuat dari besi tempaan, yang di zaman modern digantikan oleh “baju rompi" tahan peluru] adalah untuk melindungi bagian hati manusia. Di Amsal 4:23 terdapat sebuah pesan yang mengandung suatu peringatan:
"Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan."
Untuk berhasil dalam kehidupan rohani, kita perlu menjaga sikap hati serta hubungan kita yang benar dengan Tuhan maupun sesama manusia. Kita perlu meniru teladan Rasul Paulus, yang berkata bahwa ia “senantiasa berusaha untuk hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah dan manusia” (Kisah Para Rasul 24:16).
Kesalehan yang diminta oleh Tuhan bukanlah sekadar menganut suatu doktrin agama dalam pikiran. Yang dikehendaki adalah keadaan hati seseorang, bukan hanya pikirannya.
“Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan” (Roma 10:10, huruf miring dari penulis).
Yang diinginkan oleh Tuhan bukanlah sekadar kepatuhan kepada agama. Dulu selama bertahun-tahun Paulus pun hanya rajin mematuhi segala peraturan agama, tetapi setelah mengalami perjumpaan dengan Kristus cita-citanya pun berubah:
supaya aku memperoleh Kristus, dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan. (Filipi 3:8-9)^{2}
3. Kasut Kerelaan untuk Memberitakan Injil
Kalau di zaman modern tentara memakai sepatu boot, di zaman Romawi dulu tentara mengenakan kasut (sandal) yang sangat kuat untuk alas kakinya. Sandal itu memungkinkan mereka bergerak dengan lincah. Tentara tinggal menunggu perintah, dan dalam waktu singkat mereka pun siap untuk berangkat dan melakukan perjalanan yang jauh.
Begitu juga dengan orang Kristen. Semestinya kita juga memiliki kemampuan untuk bergerak cepat. Dalam rangka melaksanakan kehendak Tuhan kita pun harus siap untuk dipakai Tuhan kapan dan di mana saja, bahkan untuk menerima perintah yang bersifat mendadak atau dalam situasi yang tidak terduga sebelumnya. Tentu saja, untuk itu harus ada persiapan. Sebagai orang Kristen kita harus benar-benar mengerti kebenaran-kebenaran dasar yang tercakup dalam berita Injil, dan kita harus tahu bagaimana menyampaikannya kepada orang yang belum percaya.
Jangan lupa pula, bahwa Injil yang kita sampaikan itu adalah berita damai sejahtera. Kita hanya akan mampu menyampaikan Injil dengan efektif apabila kita sendiri sudah memiliki damai yang sejati dalam hati kita. Itulah damai yang sungguh-sungguh, yang tidak hanya bergantung kepada keadaan kita secara lahiriah. Bagi telinga para pendengar (yang rata-rata hidupnya masih bermasalah dan masih bingung dikarenakan dosa) nada suara kita mungkin lebih bermakna ketimbang kata-kata yang kita ucapkan.
4. Perisai Iman
Dalam perikop ayat-ayat ini kata perisai sesungguhnya diterjemahkan dari sebuah kata Yunani yang dekat artinya dengan kata pintu. Perisai itu tinggi ukurannya dan lebarnya pendek saja, seperti sebuah pintu. Tentara Romawi yang sudah terlatih baik dapat merunduk dan meringkuk dengan badannya terlindung seluruhnya oleh perisai itu. Tentu saja prajurit harus berbadan sehat dan lincah seperti seorang atlet. Orang yang badannya terlalu gemuk sulit bersembunyi di belakang sebuah perisai.
Demikian juga dengan keyakinan iman kita, yang diumpamakan seperti sebuah perisai. Iman itu harus memiliki dimensi-dimensi ukuran yang lengkap. Iman itu harus cukup untuk melindungi seluruh kepribadian, yaitu roh, jiwa maupun tubuh kita. Secara rohani kita harus benar-benar bugar dan terlatih, sehingga bila perlu kita bisa “bersembunyi” sepenuhnya di balik janji-janji yang terdapat dalam Alkitab. Tentu saja, apa pun juga dalam hidup kita yang sifatnya berlebihan (ekses) atau terlalu memanjakan diri takkan mendapat perlindungan dari perisai tersebut.
Iblis kadang-kadang melontarkan anak-anak panah yang “berapi” kepada kita. Serangan-serangan tersebut bertujuan bukan saja untuk melukai kita, tetapi juga untuk membakar habis apa yang dibidiknya. Serangan itu dapat menimbulkan “kebakaran” melalui gosip, fitnah atau perpecahan dalam keluarga atau bahkan di dalam seluruh jemaat sekalipun. Namun apabila dipakai dengan penuh kewaspadaan dan dengan efektif, maka perisai iman itu bukan saja akan mencegah anak-anak panah itu mencapai sasarannya, tetapi sekaligus juga memadamkan anak panah berapi itu. Ia dapat memadamkan api yang ditimbulkannya.
5. Ketopong Keselamatan
Penutup dada itu fungsinya untuk melindungi hati, tetapi ketopong (penutup kepala) adalah untuk melindungi pikiran kita. Topi yang berbentuk seperti helm berfungsi untuk melindungi alam pikiran kita. Alam pikiran merupakan area di mana orang Kristen paling sering mengalami serangan. Dalam pikiran kita seringkali terjadi “perang” tiada henti-hentinya. Rupanya Iblis selalu berusaha menyelinapkan pikiran-pikiran yang tujuannya untuk menggangu atau mengalihkan perhatian kita atau yang membuat diri kita tidak berdaya untuk memerangi dia.
Dalam area ini saya telah mendapat banyak pelajaran pribadi dari Tuhan. Setelah pada mulanya mengalami lahir baru, saya sering sekali mengalami depresi atau perasaan putus asa dan berkecil hati. Saya menyadari bahwa pikiran saya benar-benar perlu dilindungi. Kemudian saya membaca daftar senjata yang disebutkan oleh Paulus dalam Efesus 6:13- 18. Saat itulah saya mulai menyadari bahwa saya membutuhkan “ketopong keselamatan” tersebut. Tetapi sesudah itu saya pun berpikir dalam hatiku: Memang, aku tahu aku sudah memperoleh keselamatan. Tetapi apakah berarti, aku sudah memiliki/ memakai “ketopong keselamatan” itu? Atau apakah aku masih memerlukan sesuatu yang lain lagi, sesudah jiwaku selamat ini?
Sementara merenungkan hal ini, saya menyadari, pasti umat Kristen di jemaat Efesus itu pun sudah menerima keselamatan. Namun mengapa masih juga Paulus menganjurkan mereka untuk mengenakan ketopong keselamatan? Oleh karena itu, jelas saya juga harus berbuat yang sama. Tetapi apa sebenarnya “ketopong keselamatan” ini yang semestinya melindungi pikiranku?
Untungnya cetakan Alkitab yang saya pelajari waktu itu, di bagian pinggir halaman-halamannya berisi referensi ayat-ayat pembanding. Ayat pembanding yang diberikan untuk Efesus 6:17 adalah 1 Tesalonika 5:8: “... dan berketopongkan pengharapan keselamatan” (huruf miring dari penulis). Ayat yang satu inilah yang mulai benar-benar mengubahkan pola pikir saya. Saya mulai menyadari bahwa masalah yang saya hadapi adalah pikiran saya yang pesimis (skeptis). Oleh karena itu, saya melihat bahwa pikiran pesimis harus segera saya gantikan dengan pikiran optimis.
Sejak itu saya pun mulai rajin mencari ayat-ayat Alkitab yang memberi saya semangat yang selalu berpikir optimis, dan saya mulai banyak menghafalkan ayat-ayat tersebut. Hasilnya? Sampai sekarang pikiran saya benar-benar aman, karena benar-benar terlindung dari serangan Iblis!
Sampai di sini semua senjata yang telah dibahas pada dasarnya dan terutama adalah untuk melindungi diri dan bertahan terhadap serangan musuh. Baru sesudah inilah Paulus mulai membicarakan senjata yang diperlukan untuk menyerang musuh. Tentu saja ada alasan yang logis dan praktis mengapa Paulus melakukan hal yang demikian: Semestinya posisi kita harusnya aman dulu sebelum mulai menyerang musuh. Kalau tidak, kita mungkin tidak siap apabila sewaktu-waktu pihak musuh berbalik menyerang. Maka kita sendiri yang bisa kalah. Itulah penyebab utama mengapa begitu banyak orang Kristen mengalami terluka dan jatuh sebagai korban.
Sekarang kita akan mulai membahas dua senjata lainnya yang belum disebutkan.
6. Pedang Roh
Yang dikatakan Paulus sebagai “pedang roh” ini adalah Firman Allah, dan senjata ini fungsinya bisa untuk menyerang maupun untuk membela diri. Tetapi utamanya ia merupakan senjata untuk menyerang musuh. Konon ada yang mengatakan: “Cara terbaik untuk bertahan terhadap serangan adalah dengan melakukan penyerangan.” Hal ini pun berlaku untuk peperangan rohani.
Istilah Yunaninya untuk “firman” atau “sabda” yang digunakan di sini adalah rhema. Biasanya yang dimaksudkan di sini adalah perkataan atau “sabda” yang di-suara-kan, yang diucapkan. Kita sudah membahas di pasal 12 mengenai Firman Allah yang memang sungguh kita perlukan. Masih ingatkah Anda, bahwa tidak ada gunanya untuk hanya menaruh Alkitab dalam lemari perpustakaan kita atau pun di meja samping tempat tidur? Tetapi Firman Allah itu baru akan menjadi sebilah pedang yang tajam (bermata dua) apabila kita mengucapkannya dan apabila kita memproklamasikan (mendeklarasikannya) dengan mulut kita.
Harap diperhatikan juga, bahwa pedang tersebut merupakan “pedang (yang diayunkan oleh) Roh [Kudus]”. Boleh saja kita menaruh Firman Allah di mulut kita dan mengucapkannya, tetapi perkataan itu hanya akan benar- benar efektif (manjur) apabila yang mengayunkan pedang itu adalah Roh Kudus sendiri, yang berada dalam diri kita.
Masih ingatkah, Anda? Contoh yang paling baik mengenai penggunaan pedang Roh itu adalah ketika Yesus berhadapan langsung dengan Iblis waktu Ia mengalami pencobaan di padang gurun. Hingga tiga kali Iblis datang mencobai Yesus dan setiap kali Yesus mengusirnya dengan hanya mengucapkan kata-kata yang sama: “Ada tertulis” (Matius 4:4, 7, 10). Tak ada senjata lain yang digunakan Yesus kecuali senjata rhema - Firman Allah yang disuarakan/diperdengarkan. Dan Tuhan telah memperlengkapi setiap orang Kristen dengan senjata yang sama.
Tak ada senjata lain yang digunakan Yesus kecuali... Firman Allah yang disuarakan/ diperdengarkan. Dan Tuhan telah memperlengkapi setiap orang Kristen dengan senjata yang sama. Namun ada dua hal yang jangan kita lupakan. Pertama, sebelum menghadapi cobaan itu Yesus sudah “penuh dengan Roh Kudus” (Lukas 4:1). Yang menggerakkan Yesus untuk mengayunkan pedang itu adalah Roh Kudus yang berdiam dalam diri-Nya.
Yang kedua, seperti kebiasaan hampir semua remaja Yahudi pada zamannya, Yesus pun telah banyak menghafalkan ayat-ayat Kitab Suci, sampai yang panjang-panjang kalimatnya sekalipun. Ketika didatangi langsung oleh Iblis, Yesus tidak perlu ke perpustakaan dahulu untuk mencari ayatnya dalam sebuah konkordansi Alkitab. Ayat-ayat suci itu telah tersimpan secara seutuhnya dalam ingatan-Nya. Sama seperti Yesus di zaman dulu, kita pun perlu untuk menghafalkan ayat-ayat suci!
دو 7. “Segala Doa”
Senjata yang ketujuh ini tidak dicatat dalam daftarnya seperti enam senjata lainnya yang terdahulu. Tetapi yang satu ini jelas diperlukan supaya benar- benar lengkap perlengkapan senjata kita sebagai prajurit Kristus. Dari enam senjata yang disebutkan hanya pedang Roh yang merupakan satu satunya senjata untuk menyerang musuh. Dan sehebat apapun pedang itu, jangkauan dari pedangnya hanyalah akan sebatas jangkauan lengan sang prajurit itu sendiri.
Tetapi senjata yang nomor tujuh ini segala doa jangkauannya sama sekali tidak ada batasnya! Boleh dikata, segala doa ini merupakan “peluru kendali antar benua” yang kita miliki (ICBM - Inter-Continental Ballistic Missile, nama senjatanya). Apabila dikendalikan oleh Roh Kudus, sesungguhnya doa-doa kita yang terfokus dapat meluncur melintasi segala benua dan samudera dan mengenai sasarannya dengan tepat sekali. Tiada sangsi lagi, senjata ini merupakan senjata pamungkas utama yang dimiliki oleh umat Kristen.
Agar benar-benar ampuh, sama seperti pedang yang disebutkan sebelumnya, senjata yang disebut “Segala Doa” ini haruslah benar-benar dipicu dan dikendalikan oleh Roh Kudus. Doa-doa ini harus dipanjatkan “di dalam Roh” (Efesus 6:18). Tuhan tidak akan mempercayakan senjata ini kepada sembarang orang Kristen, apalagi orang yang masih dikendalikan oleh keinginan daging dan hawa nafsunya.
Rupanya, segala doa itu mencakup segala macam doa. Itulah doa-doa yang disebutkan dalam 1 Timotius 2:1, antara lain doa permohonan, doa syafaat dan doa ucapan syukur. Doa yang begini bukanlah seperti hanya satu alat musik yang dimainkan secara “solo” oleh seorang Kristen. “Segala doa” ini adalah seperti paduan musik harmonis yang dimainkan oleh berbagai macam alat musik dalam sebuah orkestra di bawah pimpinan Roh Kudus sebagai dirigennya.
Doa yang semacam ini sering muncul begitu saja, dipicu oleh berbagai macam kesukaran yang tampaknya sulit untuk diatasi. Di Kisah Para Rasul 4:15-18 diceritakan bagaimana para rasul harus menghadapi strategi Setan yang bisa saja menghentikan segala kegiatan pekabaran Injil untuk seterusnya. Majelis Ulama Yahudi pada waktu itu merupakan lembaga agama yang tertinggi dari bangsa Yahudi, dan secara resmi mereka melarang para rasul untuk “sama sekali jangan berbicara atau mengajar lagi dalam nama Yesus.”
Orang-orang yang melarang pekabaran Injil itu menyadari benar betapa penting dan uniknya nama Yesus itu. Kedahsyatan dari Injil bergantung kepada nama tersebut. Rasul Petrus sendiri pun telah menyatakannya dalam persidangan Majelis Yahudi:
“Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan." (Kisah Para Rasul 4:12).
Melalui keputusan Majelis Ulama itu secara efektif Iblis telah berhasil membangun sebuah “kubu-kubu" atau benteng yang mencegah pemberitaan Injil dan menghambat kemajuan rohani Gereja yang masih "bayi” itu.
Untuk dapat mengatasi siasat Iblis yang licik itu, semua orang percaya pun mulai bersatu untuk meminta pertolongan Tuhan. Seperti sebuah paduan suara yang kompak mereka semuanya berseru kepada Tuhan agar la mulai campur tangan. Tuhan pun menjawab doa mereka, dan Ia memanifestasikan kuasa-Nya sedemikian rupa sehingga “goyanglah tempat mereka berkumpul itu dan mereka semua penuh dengan Roh Kudus, lalu mereka memberitakan firman Allah dengan berani” (Kisah Para Rasul 4:31). Pada hari itu runtuhlah “benteng” yang telah didirikan Iblis itu, karena umat Kristen meluncurkan peluru kendali “segala doa” itu.
Di berbagai belahan dunia dewasa ini Iblis telah membangun benteng dan kubu-kubu pertahanan yang bertujuan untuk menghentikan derap langkah pekabaran Injil dengan melarang metode-metode pekabaran Injil yang umumnya dipakai. Rupanya waktu telah tiba supaya Gereja mulai mengeluarkan senjata pamungkasnya, yaitu senjata “segala doa”!
Kode: TL-L028-100-IND