Puji-pujian yang Bersifat Menular

Derek Prince
*First Published: 2008
*Last Updated: Maret 2026
2 min read
Marilah kita melihat contoh Raja Daud dalam Mazmur 34. Kata pengantar untuk mazmur ini berkata:
“Dari Daud, pada waktu ia pura-pura tidak waras pikirannya di depan Abimelekh, sehingga ia diusir, lalu pergi”.
Pada waktu itu Daud sedang menjadi buronan yang harus melarikan diri dari negerinya sendiri. Raja Saul sedang berusaha untuk membunuhnya, sehingga Daud perlu meninggalkan lingkungan yang dikenal olehnya.
Ia pun pergi ke istana seorang raja dari bangsa lain untuk meminta perlindungan. Namun raja tersebut mencurigai Daud sebagai seorang musuh negara. Maka Daud terpaksa berpura-pura menjadi tidak waras, demi menyelamatkan hidupnya sendiri.
Kitab 1 Samuel yang mencatat sejarah mengungkapkan bagaimana Daud mencorat-coret pintu istana dan membiarkan air liur meleleh di janggutnya.
“(Lihat 1 Samuel 21:10-15.)”
Demikianlah keadaannya pada waktu itu. Tetapi bagaimanakah reaksi Daud sendiri?
“Aku hendak memuji TUHAN pada segala waktu; puji-pujian kepada-Nya tetap di dalam mulutku. Karena TUHAN jiwaku bermegah; biarlah orang-orang yang rendah hati mendengarnya dan bersukacita. Muliakanlah TUHAN bersama-sama dengan aku, marilah kita bersama-sama memasyhurkan nama-Nya!”
“(Mazmur 34:2–4)”
Daud memuji Tuhan, di tempat itu juga, di tengah-tengah keadaannya yang begitu gawat, ketika nyawanya sendiri sedang dipertaruhkan dan ia harus menahan rasa malu karena berpura-pura gila. Itulah benar-benar suatu kurban puji-pujian.
Ketika kehidupannya sedang mencapai titik terendah, Daud memutuskan untuk terus memuji Tuhan. Meskipun waktu itu tidak ada hal lain yang dapat dia banggakan, ia memutuskan untuk berbangga mengenai Tuhan.
Maka Daud pun berkata:
“Muliakanlah TUHAN bersama-sama dengan aku, marilah kita bersama-sama memasyhurkan nama-Nya!”
Puji-pujian sifatnya menular. Jikalau kita belajar untuk memuji Tuhan demikian, orang-orang lain akan turut memuji juga. Namun berkeluh kesah pun bisa menular juga. Jikalau kita berkeluh kesah, orang-orang lain yang juga berkeluh kesah akan tertarik pada kita.
Kita mesti belajar untuk senantiasa mempersembahkan kurban puji-pujian kepada Tuhan.
*Prayer Response
Terima kasih, Tuhan, aku memuji-Mu. Ku-deklarasikan, tidak peduli bagaimana keberadaanku sendiri, aku mempersembahkan kurban puji-pujian kepada-Nya, dengan berbangga mengenai Tuhan. Aku akan senantiasa mempersembahkan kurban puji-pujian. Amin.
Kode: WD-B097-361-IND