Bibir yang Mengucapkan Terima Kasih

Derek Prince
*First Published: 2008
*Last Updated: Maret 2026
2 min read
Sekarang kita sampai kepada ajakan “Marilah kita” yang ke-12 di kitab Ibrani, yaitu kebulatan tekad yang terakhir. Demikian bunyinya:
“Sebab itu marilah kita, oleh Dia [Yesus], senantiasa mempersembahkan kurban syukur kepada Allah, yaitu ucapan bibir yang memuliakan nama-Nya” (Ibrani 13:15).
Bagi saya kebulatan tekad ini sangat indah dan tepat, karena kita memang diajarkan untuk melakukannya terus. Jika kita senantiasa mempersembahkan kurban puji-pujian kepada Tuhan di sepanjang tahun, nanti akan nyata sekali bedanya, hasil yang akan tercapai pada tahun itu bagi kita masing-masing.
Langkah yang terakhir ini adalah: mempersembahkan kurban puji-pujian kepada Tuhan. Dan secara langsung langkah ini secara praktis berkesinambungan dengan dua langkah sebelumnya, yaitu: “Mari kita mengucap syukur” dan “Mari kita keluar mendapatkan Dia di luar pintu gerbang kota.”
Apabila kita berterima kasih, secara normal kita akan memuji-muji Tuhan. Ada banyak ayat dalam Alkitab, di mana ucapan syukur dikaitkan dengan puji-pujian. Salah satu ayat yang paling bagus terdapat di Mazmur 100:4:
“Masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian syukur, ke dalam pelataran-Nya dengan puji-pujian.” (Mazmur 100:4)
Langkah pertama untuk mendapatkan akses dan masuk hadirat Tuhan adalah dengan mengucap syukur. Langkah kedua adalah puji-pujian. Pengucapan syukur akan menghantar kita kepada puji-pujian. Rasa syukur itu diekspresikan dalam puji-pujian dan mengalir keluar berupa puji-pujian.
Langkah yang terdahulu adalah: “Mari kita keluar mendapatkan Dia di luar kota.” Langkah itu membebaskan kita dari dua macam perbudakan, yaitu menyenangkan diri sendiri dan menyenangkan dunia. Sekali lagi, langkah ini berhubungan langsung dengan kurban puji-pujian. Semula mungkin kita tidak melihat ini, Tetapi memang ada dua kendala besar yang menghalangi orang untuk memuji-muji Tuhan secara spontan dan bebas merdeka: cinta akan diri sendiri dan cinta akan dunia.
Selama cinta kasih kita hanya berpusat kepada diri sendiri atau kepada dunia ini, maka kita tidak bebas merdeka untuk memuji-muji Tuhan. Kayu salib itulah yang dapat menyingkirkan kedua kendala tersebut dan memerdekakan kita untuk memuji-muji Tuhan.
*Prayer Response
Terima kasih, Tuhan, aku memuji-Mu. Ku-deklarasikan, aku akan menyingkirkan segala penghalang dan mempersembahkan puji-pujian kepada Tuhan, yaitu “buah-buahan bibir yang mengucap syukur atas nama-Nya.” Aku akan senantiasa mempersembahkan kurban puji-pujian. Amin.
Kode: WD-B097-358-IND