Logo
Logo
Learn
Buku-bukuKursus AlkitabSumber
PenjangkauanTentang
Indonesia Flag Icon

Menu

  • Home
  • Learn +
    • Penjangkauan
    • Tentang +
      • Bergabung +
        • Kontak +

            Dapatkan eBook Gratis

            Mulailah koleksi Derek Prince anda dengan eBook gratis berjudul Bagaimana Beralih Dari Kutuk Kepada Berkat saat anda berlangganan buletin kami.

            Pengajaran Alkitab Gratis
            Logo
            Logo
            HomeLearnPenjangkauanTentangBerikan Donasi

            Hak Cipta © 2026 Pelayanan Derek Prince. Seluruh hak cipta

            KontakKerahasiaan PribadiHak CiptaLicensesPeta Situs
            Rumah
            Sumber
            “Tidak Tampan dan Semaraknya pun Tidak Ada”

            “Tidak Tampan dan Semaraknya pun Tidak Ada”

            Derek Prince

            Derek Prince

            Menyukai
            Membagikan
            Bahasa Indonesia

            *Article Language

            Kirimkan Kesaksian

            Menawarkan

            Memberi

            *First Published: 2008

            *Last Updated: Maret 2026

            2 min read

            Nabi Yesaya telah menubuatkan bahwa Mesias tidak akan memiliki keindahan lahiriah, sehingga banyak orang akan memandang rendah dan menolak Anak Allah. Lihatlah bagaimana Yesus menggenapi nubuat ini dengan sempurna sebagai Pribadi yang penuh penderitaan, yang menanggung segala sakit dan duka dunia di atas diri-Nya di kayu salib.

            Yesaya 53:2 memberikan sebuah gambaran profetik mengenai keberadaan Yesus pada masa awal kehidupannya di bumi.

            “Sebagai taruk ia tumbuh di hadapan Tuhan dan sebagai tunas dari tanah kering. Ia tidak tampan dan semaraknya pun tidak ada sehingga kita memandang dia, dan rupa pun tidak, sehingga kita menginginkannya.”

            Dari masa muda hingga masa dewasanya Yesus tumbuh seperti sebuah tanaman yang kokoh kuat, dan Ia sungguh saleh serta takut akan Allah dalam segala jalan-Nya. Hal ini juga digambarkan di Lukas 2:40:

            “Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya.”

            Namun demikian, tidak salah juga kalau dikatakan bahwa Yesus adalah “sebuah tunas yang tumbuh di tanah kering.” Ia menjadi jurubicara Tuhan bagi bangsa Israel setelah bangsa itu mengalami kekeringan rohani yang berkepanjangan. Bani Israel sudah hampir 300 tahun tidak menerima pewahyuan kenabian. “Kesunyian” suara nabi itu baru mulai dipecah ketika muncul Yohanes Pembaptis, kemudian Yesus sendiri, dan kedua-duanya memproklamasikan kedatangan kerajaan Allah.

            Penampilan Yesus tidak terlalu istimewa dan cemerlang untuk mengungkap jati diri-Nya yang sebenarnya kepada bangsa Israel. Orang-orang melihat-Nya sebagai tidak lebih dari putra Yusuf, si tukang kayu itu.

            “(Lihat Matius 13:54-55.)”

            Pada suatu hari Petrus mulai mengakui-Nya sebagai Sang Mesias dan Putra Allah. Tetapi Yesus mengatakan pengungkapan tersebut bukanlah dari panca indra Petrus yang alami, melainkan diberikan kepadanya oleh Allah Bapa.

            “(Lihat Matius 16:17.)”

            Selanjutnya nubuat itu berkata:

            “Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan [rasa sakit] dan yang biasa menderita kesakitan [biasa berhadapan dengan penyakit]; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan” (Yesaya 53:3).

            Yesus sama sekali tidak berusaha membangun persahabatan dengan kalangan elite yang kaya. Sebaliknya Ia justru berjuang tanpa kenal lelah untuk membantu orang-orang yang miskin dan menderita. Ia menghadapi rasa sakit dan segala macam penyakit, dan pada akhirnya Ia menerima segala sakit-penyakit dari seluruh umat manusia ditimpakan kepada-Nya. Ketika Ia tergantung pada kayu salib dalam keadaan sakit dan sungguh dipermalukan, benar juga Ia menjadi seseorang yang “[masyarakat] menutup mukanya [karena malu] terhadap dia”

            “(Yesaya 53:3).”

            *Prayer Response

            Terima kasih, Tuhan, karena Engkau memanggilku untuk meninggalkan dunia ini. Ku-deklarasikan,aku menerima Yesus dan menghormati-Nya sebagai Mesias, Putra Allah, meskipun Ia dihina dan ditampik oleh anak-anak manusia. Aku akan pergi kepada-Nya di luar perkemahan. Amin.

            Aku Sudah Berdoa
            Menyukai
            Membagikan
            Expand Content

            What People Say

            See how “Tidak Tampan dan Semaraknya pun Tidak Ada” has impacted lives across the globe.

            "I've applied the Biblical principles on family relationships from this teaching, and it has completely restored harmony in our home. My teenagers and I now have meaningful conversations about faith, and my marriage has been strengthened in ways I never thought possible."
            Elena R., Brazil
            "The teachings on spiritual warfare completely transformed my approach to daily challenges. I used to feel overwhelmed by life's obstacles, but now I understand how to stand firm in faith. This teaching gave me practical tools I use every single day."
            Sarah K., California
            "After 20 years of struggling with unforgiveness, the Biblical principles shared in this teaching helped me release the bitterness I had been carrying. The step-by-step approach to forgiveness wasn't just theory—it actually worked in my life when nothing else had."
            Michael T., United Kingdom
            "As a new Christian, I was confused about many aspects of faith. These teachings provided clear, Scripture-based explanations that helped build my foundation. I'm especially grateful for how the content made complex concepts accessible without watering down the truth."
            Priya M., India
            "The teaching on God's sovereignty during difficult times came to me exactly when I needed it most. After losing my job and facing health challenges, this message reminded me that God remains in control. It gave me hope when I had none left."
            James L., Australia
            "I've applied the Biblical principles on family relationships from this teaching, and it has completely restored harmony in our home. My teenagers and I now have meaningful conversations about faith, and my marriage has been strengthened in ways I never thought possible."
            Elena R., Brazil
            "The teachings on spiritual warfare completely transformed my approach to daily challenges. I used to feel overwhelmed by life's obstacles, but now I understand how to stand firm in faith. This teaching gave me practical tools I use every single day."
            Sarah K., California

            Kode: WD-B097-357-IND

            Hadiah
            Memberi
            Kirim Masukan