“Tidak Tampan dan Semaraknya pun Tidak Ada”

Derek Prince
*First Published: 2008
*Last Updated: Maret 2026
2 min read
Yesaya 53:2 memberikan sebuah gambaran profetik mengenai keberadaan Yesus pada masa awal kehidupannya di bumi.
“Sebagai taruk ia tumbuh di hadapan Tuhan dan sebagai tunas dari tanah kering. Ia tidak tampan dan semaraknya pun tidak ada sehingga kita memandang dia, dan rupa pun tidak, sehingga kita menginginkannya.”
Dari masa muda hingga masa dewasanya Yesus tumbuh seperti sebuah tanaman yang kokoh kuat, dan Ia sungguh saleh serta takut akan Allah dalam segala jalan-Nya. Hal ini juga digambarkan di Lukas 2:40:
“Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya.”
Namun demikian, tidak salah juga kalau dikatakan bahwa Yesus adalah “sebuah tunas yang tumbuh di tanah kering.” Ia menjadi jurubicara Tuhan bagi bangsa Israel setelah bangsa itu mengalami kekeringan rohani yang berkepanjangan. Bani Israel sudah hampir 300 tahun tidak menerima pewahyuan kenabian. “Kesunyian” suara nabi itu baru mulai dipecah ketika muncul Yohanes Pembaptis, kemudian Yesus sendiri, dan kedua-duanya memproklamasikan kedatangan kerajaan Allah.
Penampilan Yesus tidak terlalu istimewa dan cemerlang untuk mengungkap jati diri-Nya yang sebenarnya kepada bangsa Israel. Orang-orang melihat-Nya sebagai tidak lebih dari putra Yusuf, si tukang kayu itu.
“(Lihat Matius 13:54-55.)”
Pada suatu hari Petrus mulai mengakui-Nya sebagai Sang Mesias dan Putra Allah. Tetapi Yesus mengatakan pengungkapan tersebut bukanlah dari panca indra Petrus yang alami, melainkan diberikan kepadanya oleh Allah Bapa.
“(Lihat Matius 16:17.)”
Selanjutnya nubuat itu berkata:
“Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan [rasa sakit] dan yang biasa menderita kesakitan [biasa berhadapan dengan penyakit]; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan” (Yesaya 53:3).
Yesus sama sekali tidak berusaha membangun persahabatan dengan kalangan elite yang kaya. Sebaliknya Ia justru berjuang tanpa kenal lelah untuk membantu orang-orang yang miskin dan menderita. Ia menghadapi rasa sakit dan segala macam penyakit, dan pada akhirnya Ia menerima segala sakit-penyakit dari seluruh umat manusia ditimpakan kepada-Nya. Ketika Ia tergantung pada kayu salib dalam keadaan sakit dan sungguh dipermalukan, benar juga Ia menjadi seseorang yang “[masyarakat] menutup mukanya [karena malu] terhadap dia”
“(Yesaya 53:3).”
*Prayer Response
Terima kasih, Tuhan, karena Engkau memanggilku untuk meninggalkan dunia ini. Ku-deklarasikan,aku menerima Yesus dan menghormati-Nya sebagai Mesias, Putra Allah, meskipun Ia dihina dan ditampik oleh anak-anak manusia. Aku akan pergi kepada-Nya di luar perkemahan. Amin.
Kode: WD-B097-357-IND