Dia Dikucilkan Supaya Kita Diterima

Derek Prince
*First Published: 2008
*Last Updated: Maret 2026
2 min read
Dalam Imamat pasal 16 kita membaca mengenai perayaan Hari Pendamaian, terutama mengenai seekor kambing hitam. Pada hari raya ini ada dua ekor kambing yang disebutkan. Yang satunya dijadikan kurban untuk dosa dan mati disembelih. Kambing yang lainnya disebut azazel, artinya “kambing hitam”
“Imamat 16:8”
dan dibawa pergi ke padang gurun. Kambing itu dibawa ke suatu tempat di mana tidak ada penghuninya, dan di sana ia akan mengembara terus sampai akhirnya mati kehausan. Kambing itu tidak pernah kembali lagi.
Yang digambarkan sebagai kambing hitam pada Hari Pendamaian itu adalah Yesus. Ia pun dikucilkan dari hadirat Allah yang Mahakuasa. Sesungguhnya Yesus digambarkan oleh kedua ekor kambing tersebut. Seperti kambing yang disembelih untuk dosa-dosa bangsa Israel, Yesus telah mati pada kayu salib. Tetapi sebagai kambing hitam Ia telah dikucilkan dari hadirat Tuhan, sehingga Ia harus menderita ketertolakan demi kepentingan kita. Kebalikan dari pengucilan adalah penerimaan. Itulah yang diungkapkan dalam Efesus 1:6:
“yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya.”
Kita semua harus paham benar bahwa kita sudah diterima baik. Sekali lagi saya katakan, salah satu masalah yang paling banyak dihadapi oleh orang-orang di Amerika yang modern adalah rasa ketertolakan itu. Di jemaat gereja mana pun kita berada di Amerika, saya berani mengatakan bahwa selalu akan ada beberapa orang yang mengalami pergumulan dengan rasa tertolak itu.
Umumnya rasa tertolak itu disebabkan oleh orang tua mereka sendiri. Ketika masih dalam masa pertumbuhan, mereka tidak pernah yakin bahwa keberadaan mereka benar-benar disambut dengan baik. Akibatnya, mereka tidak pernah merasa diri diterima apa adanya. Mereka menjalani kehidupan dengan terus merasa dirinya tertolak, tidak bahagia, sulit untuk berinteraksi dengan orang lain, dan tidak memiliki kemampuan untuk memperlihatkan kasih sayang, sebab mereka sendiri belum pernah merasakan kasih sayang itu.
Dari banyak pengalaman, saya akhirnya mengetahui bahwa untuk bisa membantu orang-orang demikian kita harus meyakinkan mereka bahwa sesungguhnya mereka itu diterima baik oleh Allah. Betapa mereka bisa terhibur jika menyadari bahwa Tuhan sendiri pernah juga mengalami sakitnya ketertolakan. Karena tak ada yang begitu tertolak seperti Yesus sendiri, ketika Ia mati menebus dosa-dosa kita pada kayu salib.
*Prayer Response
Terima kasih, Tuhan, karena Engkau memanggilku untuk meninggalkan dunia ini. Ku-deklarasikan, aku “diterima baik di dalam Dia yang dikasihi-Nya” karena Yesus dikucilkan dari hadirat Allah yang Mahakuasa. Aku akan pergi kepada-Nya di luar kota. Amin.
Kode: WD-B097-355-IND