Menyatukan Jatidiri dengan Salib

Derek Prince
*First Published: 2008
*Last Updated: Maret 2026
2 min read
Apabila kita sungguh berkomitmen terhadap Yesus, kita harus menyatukan jati diri kita dengan salib-Nya dan pergi menyongsong Dia di tempat penyaliban-Nya. Dengan berkomitmen demikian ada dua hal yang pasti tidak dapat kita lakukan lagi: menyenangkan diri sendiri dan menyenangkan dunia.
“Saudara-saudara, ikutilah teladanku dan perhatikanlah mereka, yang hidup sama seperti kami yang menjadi teladanmu. Karena, seperti yang telah kerap kali kukatakan kepadamu, dan yang kunyatakan pula sekarang sambil menangis, banyak orang yang hidup sebagai seteru salib Kristus. Kesudahan mereka ialah kebinasaan, Tuhan mereka adalah perut mereka, kemuliaan mereka ialah aib mereka, pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi.” (Filipi 3:17–19)
Di sini Paulus berbicara mengenai orang-orang yang hanya mengaku diri Kristen, namun mereka adalah musuh-musuh salib yang mengklaim dirinya sebagai pengikut Kristus. Mereka melampiaskan hawa nafsunya, dan pikirannya hanya tertuju kepada perkara-perkara dunia. Prinsip salib – mati bagi diri sendiri dan bagi perkara-perkara daging (kejiwaan) – tidak pernah dipraktikkan dalam hidup mereka.
Di dalam gereja sekalipun banyak orang mengatakan dirinya pengikut Kristus, tetapi pada hakikatnya mereka telah menolak salib. Akhir kesudahan mereka adalah kebinasaan.
Dengan menyatukan diri dengan salib Yesus, kita juga menolak untuk menyenangkan dunia ini. Yakobus menulis kata-kata pedas ini kepada orang-orang yang hanya mengaku percaya dengan mulut mereka:
“Hai kamu, orang-orang yang tidak setia [berzina]! Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah” (Yakobus 4:4).
Yakobus terang-terangan menyebut orang-orang itu orang-orang yang telah “berzina.” Harus ada komitmen spiritual untuk menjadi bagian dari mempelai Kristus, yaitu gereja. Mempelai harus tidak bercabang hati, harus berkomitmen dan tetap setia kepada Yesus.
Jika kesetiaan kepada Yesus itu sempat dicemari oleh kecintaan akan dunia, maka kita berzina secara rohani. Berarti kita tidak setia lagi dengan Mempelai Lelaki, Yesus Kristus. Bersahabat dengan dunia sesungguhnya berarti melakukan perzinaan rohani.
*Prayer Response
Terima kasih, Tuhan, karena Engkau memanggilku untuk meninggalkan dunia ini. Ku-deklarasikan, aku akan menjalankan prinsip kayu salib ini, yaitu mati bagi diri sendiri dan mati terhadap perkara-perkara duniawi. Aku akan pergi kepada-Nya di luar kota. Amin.
Kode: WD-B097-353-IND