Pengucapan Syukur Memberikan Kelepasan

Derek Prince
*First Published: 2008
*Last Updated: Maret 2026
2 min read
Rasa syukur atau terima kasih, itulah respon yang sepatutnya kita perlihatkan atas apa yang telah dan sedang dikerjakan Tuhan bagi kita. Kita berutang kepada Tuhan untuk memberikan respon demikian. Itulah kewajiban yang harus kita penuhi. Namun apabila kita menyatakan penghargaan tersebut ada sesuatu yang juga terjadi dengan roh kita sendiri, dan tiada hal yang dapat menghasilkan hal itu.
Saya menggambarkannya sebagai berikut: Rasa syukur membebaskan roh manusia untuk melakukan penyembahan dan pelayanan pengabdian yang berkenan kepada Tuhan. Itu sebabnya penulis surat Ibrani berkata:
“Marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut” (Ibrani 12:28).
Tanpa rasa syukur, pelayanan pengabdian kita kepada Tuhan takkan berkenan. Sikap berterima kasih itulah yang membuat pelayanan pengabdian kita berkenan dan sekaligus memerdekakan roh kita. Orang yang tidak tahu berterima kasih sesungguhnya masih dalam keadaan terikat. Ia bersifat ego-sentris. Ia tidak pernah akan merasakan merdeka benar. Sebaliknya, rasa berterima kasih membuat roh kita menjadi bebas merdeka.
“Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah [mengucap syukur] yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu. Janganlah padamkan Roh.” (1 Tesalonika 5:18–19)
Yang di atas itu merupakan suatu perintah yang cukup jelas: jikalau kita tidak mengucap syukur, sesungguhnya kita melanggar perintah. Maka kita akan berada di luar kehendak Tuhan. Selain itu, dengan gagal memberikan ucapan syukur, kita sesungguhnya memadamkan api Roh. Satu-satunya cara yang membebaskan Roh – sehingga memperoleh perkenan dalam melayani Tuhan – adalah melalui pengucapan syukur.
Sesudah itu, perhatikanlah peringatan yang ditulis sebagai penutup dari Ibrani 12:
“Sebab Allah kita adalah api yang menghanguskan” (ayat 29).
Jadi sang penulis pada hakikatnya berkata kepada kita: “Kita harus menghampiri Allah yang kudus dan menimbulkan decak kagum ini dengan sikap yang benar – dengan rendah hati dan dengan hati yang berterima kasih.”
*Prayer Response
Terima kasih, Tuhan, karena segala sesuatu yang telah Kau kerjakan bagiku. Ku-deklarasikan, kalau aku menghampiri Allah yang kudus dan yang menimbulkan rasa kagum dengan rendah hati dan penuh syukur, sikap itu akan membebaskan rohku untuk melakukan penyembahan yang dapat diterima oleh Tuhan. Aku akan menunjukkan terima kasihku. Amin.
Kode: WD-B097-347-IND