Megambil Waktu untuk Berkata “Terima Kasih”

Derek Prince
*First Published: 2008
*Last Updated: Maret 2026
2 min read
Ada orang-orang yang sungguh berterima kasih kepada Tuhan, namun mereka tidak pernah mengambil waktu untuk menyatakan hal itu kepada Tuhan. Bagaimana perasaan saudara, seandainya anak-anak saudara tidak pernah berterima kasih untuk segala sesuatu yang saudara lakukan bagi mereka? Bagaimana perasaan saudara, seandainya mereka tak pernah berkata “terima kasih” atau menyatakan rasa syukur, dan bersikap seakan-akan semua kebaikan saudara itu memang hak mereka?
Patut disayangkan, karena pada kenyataannya banyak anak Tuhan memperlakukan Tuhan seperti itu. Dan hal itu sungguh tidak menyenangkan hati-Nya. Semestinya kita sungguh-sungguh menghargai apa yang dilakukan Tuhan bagi kita, dan seyogianya kita menyatakan penghargaan tersebut secara khusus. Salah satu ayat kesukaanku adalah di kitab Amsal:
“Akuilah Dia [Tuhan] dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.” (Amsal 3:6).
Dari pengalamanku sendiri, saya meyakini bahwa Tuhan pasti akan terus setia membimbingku apabila dalam hidupku aku sewaktu-waktu berhenti sejenak untuk menyatakan terima kasih kepada-Nya. Saudara mungkin bertanya, bagaimana caranya kita harus memberi apresiasi kepada Tuhan? Cara yang sederhana dan terbaik untuk mengucap syukur adalah dengan berkata “Terima kasih” untuk segala sesuatu yang telah Ia lakukan dan juga atas kesetiaan-Nya.
Pasti dengan cepat engkau akan mendapatkan peneguhan dari Tuhan, bahwa Ia akan tetap setia juga. Sebagaimana Ia telah menolong dan membimbing saudara di masa yang lalu, Ia akan terus membimbing saudara di masa mendatang. Tetapi kunci untuk mengalami peneguhan ini adalah mengakui Dia melalui ucapan syukur.
Ketika saya masih tinggal di Afrika bagian Timur, saya mempunyai anak angkat, yaitu seorang anak perempuan dari salah satu suku pribumi di Afrika. Tetapi kemudian saya mendapati bahwa bahasa mereka itu tidak memiliki kosa kata untuk “terima kasih.” Dapatkah saudara bayangkan? Dalam bahasa mereka itu tak pernah ada ucapan “terima kasih”!
Di situ saya mulai menyadari, bahwa hanya di mana suatu suku/ masyarakat sudah memiliki Alkitab dalam bahasanya sendiri, barulah mereka belajar untuk mengucap syukur. Hal itu memang salah satu kasih karunia, dan rakhmat Tuhan.
*Prayer Response
Terima kasih, Tuhan, karena segala sesuatu yang telah Kau kerjakan bagiku. Ku-deklarasikan, pada setiap tahapan kehidupan aku akan berhenti dulu untuk menghormati Tuhan dengan mengucap syukur kepada-Nya. Aku akan menunjukkan terima kasihku. Amin.
Kode: WD-B097-345-IND