Logo
Logo
Learn
Buku-bukuKursus AlkitabSumber
PenjangkauanTentang
Indonesia Flag Icon

Menu

  • Home
  • Learn +
    • Penjangkauan
    • Tentang +
      • Bergabung +
        • Kontak +

            Dapatkan eBook Gratis

            Mulailah koleksi Derek Prince anda dengan eBook gratis berjudul Bagaimana Beralih Dari Kutuk Kepada Berkat saat anda berlangganan buletin kami.

            Pengajaran Alkitab Gratis
            Logo
            Logo
            HomeLearnPenjangkauanTentangBerikan Donasi

            Hak Cipta © 2026 Pelayanan Derek Prince. Seluruh hak cipta

            KontakKerahasiaan PribadiHak CiptaLicensesPeta Situs
            Rumah
            Sumber
            Memperhatikan Yesus Terlebih Dahulu

            Memperhatikan Yesus Terlebih Dahulu

            Derek Prince

            Derek Prince

            Menyukai
            Membagikan
            Bahasa Indonesia

            *Article Language

            Kirimkan Kesaksian

            Menawarkan

            Memberi

            *First Published: 2008

            *Last Updated: Maret 2026

            2 min read

            Menempatkan Yesus sebagai yang utama membuat perbedaan besar dalam cara kita berhubungan satu sama lain. Sebuah kesaksian yang kuat menunjukkan bagaimana teguran lembut dari Tuhan untuk melihat seseorang sebagai anak-Nya sendiri dapat sepenuhnya mengubah situasi yang tegang.

            Ajakan “Marilah kita” yang ke-8 ini dalam bahasa Yunani aslinya mengatakan: “Marilah kita memperhatikan satu sama lain.”

            “Lihat Ibrani 10:24.”

            Tetapi sekarang saya ingin melihat kembali akan Ibrani 3:1, di mana dipakai kata yang sama, yaitu “memperhatikan” dalam bahasa Yunani. Di situ dikatakan:

            “Pandanglah kepada [perhatikanlah] Rasul dan Imam Besar yang kita akui, yaitu Yesus.”

            Jikalau kita memperhatikan Yesus, pada akhirnya kita akan juga memperhatikan satu sama lain. Tetapi penting sekali supaya urutannya demikian. Kita harus memperhatikan Yesus terlebih dahulu, baru sesudah itu memperhatikan satu sama lain. Ada suatu perbedaan besar, apakah saya berhubungan dengan saudara hanya sebagai seorang biasa, atau sebagai seseorang yang telah menyatu dengan Kristus.

            Saya jadi teringat kembali akan suatu kejadian ketika saya masih menjadi kepala sekolah di sebuah institut keguruan yang memberi pelatihan kepada calon-calon guru untuk daerah Afrika bagian Timur. Untuk setiap lowongan murid yang bisa kami terima, ternyata paling sedikit ada sepuluh orang yang mengajukan dirinya. Salah seorang gadis yang kami wawancarai, sampai-sampai menempuh jarak sejauh hampir 40 kilometer dengan berjalan kaki tanpa memakai alas sepatu. Saudara mungkin akan sulit membayangkan betapa masyarakat Afrika mendambakan pendidikan bagi putra-putri mereka. Di mata penduduk Afrika, pendidikan merupakan salah satu kunci utama untuk meraih sukses dalam kehidupan.

            Pada suatu hari seorang ibu yang lanjut usia datang untuk bicara dengan saya mengenai anak lelakinya, yaitu salah seorang yang ingin menjadi murid di sekolah guru kami itu. Namun kami melihat pemuda itu kurang memenuhi syarat sebagai murid, sehingga kami pun menolak pendaftarannya. Lalu dengan tiada henti-hentinya ibu itu meminta saya untuk menolongnya, sampai saya mulai jengkel juga terhadapnya.

            Perlu saudara ketahui, bahwa masyarakat Afrika kurang begitu paham dan percaya kepada sistem demokrasi. Mereka lebih mengandalkan keputusan dari kepala suku, yaitu orang yang paling berkuasa. Yang memutuskan segala-galanya adalah kepala suku. Dan ibu tua itu terus saja mengatakan kepada saya: “Bapaklah kepala di sini, apa yang Bapak katakan pasti akan dituruti.”

            Akhirnya saya begitu jengkel, sehingga saya hampir saja memarahinya, dan percayalah saudara, pikiranku belum terlalu “sopan” pada waktu itu. Saat itulah tiba-tiba Tuhan berbisik di hatiku: Ingat, ibu itu juga salah seorang anak-Ku, ya. Hati-hati bagaimana engkau memperlakukan dia. Saat itu juga saya bertobat dan berubah sikap. Tidak salah lagi, wanita itu memang seorang anak Tuhan yang sangat dikasihi oleh-Nya.

            Jadi, jikalau kita memperhatikan Yesus terlebih dahulu, pasti hal itu akan sangat menentukan bagaimana kita memperlakukan satu sama lain.

            *Prayer Response

            Terima kasih, Tuhan, karena Engkau menolongku untuk mengasihi orang-orang lain. Ku-deklarasikan, aku akan terlebih dahulu memperhatikan Yesus, sehingga cara pandang-Nya yang menuntunku bagaimana aku harus memperhatikan orang-orang lain. Aku akan memperhatikan orang-orang yang lain. Amin.

            Aku Sudah Berdoa
            Menyukai
            Membagikan
            Expand Content

            What People Say

            See how Memperhatikan Yesus Terlebih Dahulu has impacted lives across the globe.

            "I've applied the Biblical principles on family relationships from this teaching, and it has completely restored harmony in our home. My teenagers and I now have meaningful conversations about faith, and my marriage has been strengthened in ways I never thought possible."
            Elena R., Brazil
            "The teachings on spiritual warfare completely transformed my approach to daily challenges. I used to feel overwhelmed by life's obstacles, but now I understand how to stand firm in faith. This teaching gave me practical tools I use every single day."
            Sarah K., California
            "After 20 years of struggling with unforgiveness, the Biblical principles shared in this teaching helped me release the bitterness I had been carrying. The step-by-step approach to forgiveness wasn't just theory—it actually worked in my life when nothing else had."
            Michael T., United Kingdom
            "As a new Christian, I was confused about many aspects of faith. These teachings provided clear, Scripture-based explanations that helped build my foundation. I'm especially grateful for how the content made complex concepts accessible without watering down the truth."
            Priya M., India
            "The teaching on God's sovereignty during difficult times came to me exactly when I needed it most. After losing my job and facing health challenges, this message reminded me that God remains in control. It gave me hope when I had none left."
            James L., Australia
            "I've applied the Biblical principles on family relationships from this teaching, and it has completely restored harmony in our home. My teenagers and I now have meaningful conversations about faith, and my marriage has been strengthened in ways I never thought possible."
            Elena R., Brazil
            "The teachings on spiritual warfare completely transformed my approach to daily challenges. I used to feel overwhelmed by life's obstacles, but now I understand how to stand firm in faith. This teaching gave me practical tools I use every single day."
            Sarah K., California

            Kode: WD-B097-334-IND

            Hadiah
            Memberi
            Kirim Masukan