Memperhatikan Yesus Terlebih Dahulu

Derek Prince
*First Published: 2008
*Last Updated: Maret 2026
2 min read
Ajakan “Marilah kita” yang ke-8 ini dalam bahasa Yunani aslinya mengatakan: “Marilah kita memperhatikan satu sama lain.”
“Lihat Ibrani 10:24.”
Tetapi sekarang saya ingin melihat kembali akan Ibrani 3:1, di mana dipakai kata yang sama, yaitu “memperhatikan” dalam bahasa Yunani. Di situ dikatakan:
“Pandanglah kepada [perhatikanlah] Rasul dan Imam Besar yang kita akui, yaitu Yesus.”
Jikalau kita memperhatikan Yesus, pada akhirnya kita akan juga memperhatikan satu sama lain. Tetapi penting sekali supaya urutannya demikian. Kita harus memperhatikan Yesus terlebih dahulu, baru sesudah itu memperhatikan satu sama lain. Ada suatu perbedaan besar, apakah saya berhubungan dengan saudara hanya sebagai seorang biasa, atau sebagai seseorang yang telah menyatu dengan Kristus.
Saya jadi teringat kembali akan suatu kejadian ketika saya masih menjadi kepala sekolah di sebuah institut keguruan yang memberi pelatihan kepada calon-calon guru untuk daerah Afrika bagian Timur. Untuk setiap lowongan murid yang bisa kami terima, ternyata paling sedikit ada sepuluh orang yang mengajukan dirinya. Salah seorang gadis yang kami wawancarai, sampai-sampai menempuh jarak sejauh hampir 40 kilometer dengan berjalan kaki tanpa memakai alas sepatu. Saudara mungkin akan sulit membayangkan betapa masyarakat Afrika mendambakan pendidikan bagi putra-putri mereka. Di mata penduduk Afrika, pendidikan merupakan salah satu kunci utama untuk meraih sukses dalam kehidupan.
Pada suatu hari seorang ibu yang lanjut usia datang untuk bicara dengan saya mengenai anak lelakinya, yaitu salah seorang yang ingin menjadi murid di sekolah guru kami itu. Namun kami melihat pemuda itu kurang memenuhi syarat sebagai murid, sehingga kami pun menolak pendaftarannya. Lalu dengan tiada henti-hentinya ibu itu meminta saya untuk menolongnya, sampai saya mulai jengkel juga terhadapnya.
Perlu saudara ketahui, bahwa masyarakat Afrika kurang begitu paham dan percaya kepada sistem demokrasi. Mereka lebih mengandalkan keputusan dari kepala suku, yaitu orang yang paling berkuasa. Yang memutuskan segala-galanya adalah kepala suku. Dan ibu tua itu terus saja mengatakan kepada saya: “Bapaklah kepala di sini, apa yang Bapak katakan pasti akan dituruti.”
Akhirnya saya begitu jengkel, sehingga saya hampir saja memarahinya, dan percayalah saudara, pikiranku belum terlalu “sopan” pada waktu itu. Saat itulah tiba-tiba Tuhan berbisik di hatiku: Ingat, ibu itu juga salah seorang anak-Ku, ya. Hati-hati bagaimana engkau memperlakukan dia. Saat itu juga saya bertobat dan berubah sikap. Tidak salah lagi, wanita itu memang seorang anak Tuhan yang sangat dikasihi oleh-Nya.
Jadi, jikalau kita memperhatikan Yesus terlebih dahulu, pasti hal itu akan sangat menentukan bagaimana kita memperlakukan satu sama lain.
*Prayer Response
Terima kasih, Tuhan, karena Engkau menolongku untuk mengasihi orang-orang lain. Ku-deklarasikan, aku akan terlebih dahulu memperhatikan Yesus, sehingga cara pandang-Nya yang menuntunku bagaimana aku harus memperhatikan orang-orang lain. Aku akan memperhatikan orang-orang yang lain. Amin.
Kode: WD-B097-334-IND