Melayani adalah suatu Ketrampilan yang Perlu Dilatih

Derek Prince
*First Published: 2008
*Last Updated: Maret 2026
2 min read
Untuk bisa melayani orang-orang, saudara perlu melatih diri. Kemampuan itu bukan sesuatu yang timbul sendiri, dan pada dasarnya sifat melayani itu tidak ada dalam karakter manusia. Misalnya, pekerjaan seorang waiter (pelayan restoran) adalah untuk melayani tamu-tamu. Tetapi untuk dapat melayani tamu-tamu itu ia harus dilatih terlebih dahulu. Saya punya seorang teman yang pernah bekerja sebagai pelayan restoran, dan ia menjelaskan kepadaku apa yang diperlukan untuk menjadi pelayan restoran yang baik. Sesudah saya mulai mengerti proses pelatihan, sadarlah saya bahwa hal itu memang tidak terjadi begitu saja. Melayani adalah suatu ketrampilan atau keahlian yang memerlukan pelatihan. Kita harus mempelajari orang-orang lain untuk mengetahui bagaimana kita bisa memperoleh respon positif, bukan respon negatif. Kita harus mempelajari orang lain, untuk dapat mendorong mereka kepada cinta kasih dan perbuatan-perbuatan yang baik, bukan sebaliknya. Untuk dapat melayani kita perlu praktik, pelatihan dan disiplin.
Untuk bisa melayani, juga diperlukan lingkungan yang baik. Setelah mengatakan:
“Marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik” (Ibrani 10:24)
penulis surat Ibrani itu seterusnya berkata:
“Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat” (ayat 25).
Kita perlu belajar untuk melayani dalam lingkungan yang tepat. Lingkungan itu dijelaskan dengan kata-kata “pertemuan-pertemuan ibadah kita”. Yang dimaksudkan di sini adalah suatu persekutuan yang dilakukan secara teratur di antara saudara seiman yang berhubungan dekat dan saling berkomitmen.
Dalam ayat selanjutnya, penulis menjelaskan hal sebaliknya yang dapat terjadi dengan segala akibatnya yang buruk. Langsung sesudah itu ia mengingatkan kita untuk jangan lalai berhimpun bersama, dan ia berkata:
“Sebab jika kita sengaja berbuat dosa, sesudah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran, maka tidak ada lagi kurban untuk menghapus dosa itu. Tetapi yang ada ialah kematian yang mengerikan akan penghakiman dan api yang dahsyat yang akan menghanguskan semua orang durhaka” (ayat 26–27).
Yang disiratkan di sini adalah bahwa apabila tidak tinggal terus dalam lingkungan yang baik, bisa saja kita akan kembali kepada kehidupan dosa. Itu dapat terjadi jikalau kita tidak bersekutu secara teratur dalam suasana akrab dan saling berkomitmen. Satu-satunya cara yang aman adalah tetap menjalankan persekutuan, memperhatikan orang lain, dan belajar untuk melayani mereka dengan hati yang gembira.
*Prayer Response
Terima kasih, Tuhan, karena Engkau menolongku untuk mengasihi orang-orang lain. Ku-deklarasikan, tetap berada dalam persekutuan, belajar untuk melayani, dan berfokus untuk memperhatikan orang-orang lain. Aku akan memperhatikan orang-orang yang lain. Amin.
Kode: WD-B097-333-IND