Menurunkan Diri Sendiri dari Takhta

Derek Prince
*First Published: 2008
*Last Updated: Maret 2026
2 min read
Bicara mengenai kesediaan untuk melayani orang-orang lain, saya ingin menunjuk kepada sebuah ayat lain yang ditulis oleh Rasul Paulus, yaitu sesuatu yang ditulisnya kepada umat Kristen di jemaat Korintus. Karena latar belakangnya, Paulus itu adalah seorang warga Yahudi yang taat sekali mengikuti semua peraturan agama. Ia juga seorang dari kaum Farisi, dan memenuhi syarat untuk mengajar sebagai seorang rabbi atau guru agama Yahudi. Karena kesalehannya pada waktu itu ia menolak untuk bergaul dengan orang lain yang dianggapnya najis atau lebih rendah derajatnya.
Tetapi begitu ia mulai mengenal akan Yesus, suatu perubahan yang radikal terjadi dalam karakternya. Bayangkan! Dari sudut pandangan Yahudi, penduduk kota Korintus itu sesungguhnya adalah sampah masyarakat. Dalam suratnya ini Paulus berkata bahwa sebagian mereka dahulunya adalah pelaku homoseks, sebagian mereka itu pelacur dan pemabuk, dan yang lainnya adalah orang yang sering bicara kotor. Pendeknya, mereka itu tidak bisa dianggap orang yang baik. Korintus merupakan salah satu kota pelabuhan besar di dunia pada masa itu. Dan seperti banyak kota pelabuhan, ada segala macam manusia di antara penduduknya.
Tetapi, tidakkah saudara akan terkejut membaca apa yang dikatakan Paulus sekarang?
“Sebab bukan diri kami yang kami beritakan, tetapi Yesus Kristus sebagai Tuhan, dan diri kami sebagai hambamu karena kehendak Yesus” (2 Korintus 4:5).
Di sini mantan orang Farisi yang tadinya begitu angkuh berkata: “Demi Yesus kami mau menjadi budak-budak yang melayani kalian” – bahkan melayani orang-orang semacam warga kota Korintus!
Perhatikanlah tiga langkah yang disebutkannya. Pertama, turunkan “sang aku” dari takhtanya: “bukan diri kami.” Kedua, dudukkanlah Kristus di atas takhta: “Yesus Kristus sebagai Tuhan”. Ketiga, mengabdilah kepada orang-orang yang lain: “[Kami adalah] hambamu karena kehendak [demi] Yesus.” Ketiga langkah itu penting sekali. Layanilah orang-orang lain dengan semangat cinta kasih. Itulah pesan Rasul Paulus: berhentilah mementingkan diri dan bebaskan dirimu dari penjara ke-egoisan.
*Prayer Response
Terima kasih, Tuhan, karena Engkau menolongku untuk mengasihi orang-orang lain. Ku-deklarasikan, aku menurunkan diriku sendiri dari takhta, dan menaikkan Kristus di atas takhta, serta melayani orang-orang lain. Aku akan memperhatikan orang-orang yang lain. Amin.
Kode: WD-B097-332-IND