Menghampakan Diri

Derek Prince
*First Published: 2008
*Last Updated: Maret 2026
2 min read
Di Filipi pasal 2 Paulus berkata bahwa kita harus mengikuti teladan Yesus. Sejak dahulu saya selalu berkata, bahwa sikap-sikap kita akan menentukan pola pendekatan kita, dan pola pendekatan kita akan menentukan hasil yang akan dicapai. Berikut inilah sikap yang semestinya perlu dikembangkan:
“Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba” (Fiipi 2:5–7).
Istilah “hamba” di sini (bond-servant, artinya hamba yang terikat) dalam bahasa Yunaninya sesungguhnya berarti “budak.” Jadi, kita melihat Yesus itu sebenarnya adalah Tuhan yang berdaulat atas segala-galanya, tetapi suatu saat Ia “mengosongkan diri” dan bersedia menjadi seorang budak. Kita harus belajar meniru sikap-Nya ini.
Di kitab Galatia Paulus menulis sebuah perikop yang indah sekali, dan yang isinya kurang lebih sama:
“Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa [KJV: ‘untuk memuaskan keinginanmu sendiri yang bersifat kedagingan dan mementingkan diri’], melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih. Sebab seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini, yaitu: ‘Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri’.” (Galatia 5:13–14)
Dengan melihat dan memperhatikan orang-orang lain sesungguhnya kita dapat membebaskan diri dari kebiasaan mengikuti hawa nafsu atau mementingkan diri sendiri. Sesungguhnya kita harus melayani satu sama lain dalam semangat cinta kasih. Saya percaya bahwa pada waktu ini Roh Kudus semakin mengingatkan umat Tuhan untuk memiliki sifat kasih sayang dan tidak mementingkan diri ini.
Banyak orang suka bicara mengenai melayani Tuhan, tetapi nyatanya mereka tidak pernah melayani sesama manusia. Saya tidak yakin, bahwa kita bisa benar-benar melayani dan mengabdi kepada Tuhan tanpa pernah mau melayani saudara-saudara seiman. Sebab pada kenyataannya Tuhan sering mendatangi kita melalui anak-anak-Nya, yang semuanya adalah sesama anggota dalam tubuh-Nya. Sebenarnya, sikap kita terhadap sesama anggota tubuh Kristus itulah sikap kita terhadap Tuhan sendiri.
*Prayer Response
Terima kasih, Tuhan, karena Engkau menolongku untuk mengasihi orang-orang lain. Ku-deklarasikan, aku akan melayani sesama orang percaya sebagai suatu cara untuk melayani Tuhan. Aku akan memperhatikan orang-orang yang lain. Amin.
Kode: WD-B097-331-IND