Iman/Masa Kini – Pengharapan/Masa Mendatang

Derek Prince
*First Published: 2008
*Last Updated: Maret 2026
2 min read
Dalam Ibrani pasal 11 kita membaca definisi iman, yaitu satu-satunya hal yang didefinisikan dengan begitu gamblang dalam Alkitab.
“Iman adalah dasar [zat, dalam teks bahasa Inggris] dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat” (Ibrani 11:1).
Di ayat ini kita melihat ada suatu hubungan antara iman dan pengharapan. Iman itu adanya sekarang, sedangkan harapan adalah sesuatu yang ada di masa mendatang. Iman merupakan sesuatu yang nyata – sedemikian nyatanya, sehingga disebut suatu zat. Zat itu ada di dalam hati kita. Atas dasar iman, kita dapat berharap ke depan dengan dasar yang kuat. Tetapi harapan yang tidak didasarkan atas iman yang sungguh, tidak lebih dari mimpi kosong belaka.
“Jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya … dan diselamatkan.” (Roma 10:9–10)
Dalam PB kata percaya adalah sebuah kata yang menandakan suatu gerakan. Ia bukan sesuatu yang statis atau hanya ada di dalam pikiran. Ia adalah sesuatu di hati kita yang membawa kita kepada sesuatu yang baru. Iman merupakan kata kerja yang menandakan suatu gerakan: dengan beriman kita percaya, sehingga kita dibenarkan dan diselamatkan. Bisa saja kita memiliki iman yang hanya intelektual (di dalam pikiran), tetapi karakter kita tidak pernah berubah. Boleh saja kita menerima baik semua ajaran Alkitab dengan akal budi kita, tetapi tetap saja tidak berubah. Tetapi apabila iman itu ada di dalam hati kita, maka ia akan membawa kepada keselamatan.
Iman itu adanya saat ini, sekarang. Harapan adalah di masa mendatang. Iman yang Alkitabiah adalah di dalam hati; harapan adalah di dalam pikiran. Paulus bicara mengenai kedua hal itu dalam suatu gambaran yang cukup menarik:
“Tetapi kita yang adalah orang-orang siang, baiklah kita sadar, berbaju zirahkan iman dan kasih, dan berketopongkan pengharapan keselamatan” (1 Tesalonika 5:8).
Di ayat itu disebutkan dua jenis perlengkapan perang. Iman adalah sebuah “baju zirah” (rompi) yang melindungi hati, sedangkan harapan adalah sebuah “ketopong” (topi helm) yang melindungi kepala. Iman itu adanya di dalam hati, harapan ada di dalam pikiran.
*Prayer Response
Terima kasih, Tuhan, karena Engkau setia – Engkau memberi harapan kepadaku. Ku-deklarasikan, sekarang aku akan mengenakan iman, baju zirah (rompi) yang melindungi hatiku, dan pengharapan, topi helm yang melindungi pikiranku. Aku akan berpegang teguh pada harapanku. Amin.
Kode: WD-B097-329-IND