Alam yang Tidak akan Berubah

Derek Prince
*First Published: 2008
*Last Updated: Maret 2026
2 min read
Antara iman dan penglihatan tidak selalu ada kesinambungan. Manusia yang jiwani hidup berdasarkan penglihatan dan mengandalkan semua indranya, dan ia hanya percaya akan apa yang dikatakan oleh indranya. Tetapi dalam kehidupan Kristiani, yaitu kehidupan rohani, kita justru tidak boleh mengandalkan indra.
Di 2 Korintus 5:7 dikatakan:
“Sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat.”
Kita hidup tidak mengandalkan indra, tetapi iman kita. Iman itu mengacu kepada sebuah dunia yang abadi dan tidak kasat mata, dan yang tidak pernah mengalami perubahan. Dunia yang dirasakan oleh semua indra kita senantiasa berubah. Sifatnya sementara, tidak stabil, tidak permanen dan tidak bisa dipercaya. Dengan iman kita berhadapan dengan suatu dunia yang berbeda, suatu dunia yang terdiri dari realita yang kekal dan kebenaran yang abadi.
Bagaimana kita meresponi tekanan-tekanan yang diijinkan Tuhan dalam kehidupan akan menentukan apakah kita lebih mengandalkan semua indra kita atau lebih mengandalkan iman. Apabila kita mencabut kembali pengakuan kita karena kegelapan yang melanda, maka itu berarti kita lebih mengandalkan indra kita. Sebab di dalam iman tidak ada sedikit pun kegelapan. Iman tidak mengandalkan indra kita, karena ia melihat dengan mata batin yang rohani ke dalam suatu dunia yang tak pernah berubah dan mengandalkan seorang Imam Besar yang tidak pernah berubah.
Berikut ini adalah komentar Yakobus mengenai hal tersebut:
“Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian kemari oleh angin. Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan. Sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya.” (Yakobus 1:6–8)
Ayat ini menggambarkan orang yang bimbang ragu. Pada mulanya ia siap untuk meminta, dengan meyakini dan tidak ragu-ragu. Tetapi ia tidak berpegang teguh. Akibatnya ia terhempas ke sana ke mari, terombang-ambing oleh angin dan gelombang. Obat penawarnya adalah berpegang teguh pada pengakuan kita tanpa menjadi ragu-ragu.
*Prayer Response
Terima kasih, Tuhan, karena Engkau setia – Engkau memberi harapan kepadaku. Ku-deklarasikan, aku akan hidup bukan dengan mengandalkan indraku, tetapi dengan iman. Aku akan berpegang teguh pada harapanku. Amin.
Kode: WD-B097-325-IND