Melangkah Maju Menuju Kedewasaan

Derek Prince
*First Published: 2008
*Last Updated: Maret 2026
2 min read
Ajakan “Marilah kita” yang satu ini sangat cocok untuk disampaikan kepada warga Ibrani dalam era Perjanjian Baru. Karena sesungguhnya orang-orang Yahudi Kristen itu telah gagal untuk hidup sesuai dengan kaidah-kaidah Perjanjian Baru. Mereka terlalu mengandalkan ke-Yahudi-an mereka dengan segala hak-hak istimewanya dan sudah merasa mapan dengan itu. Sejujur-jujurnya, mereka telah menjadi “malas” dan acuh-tak-acuh. Mereka tidak serius lagi dalam menanggapi kehidupan iman.
“Tentang hal itu banyak yang harus kami katakan, tetapi yang sukar untuk dijelaskan, karena kamu telah lamban dalam hal mendengarkan. Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras. Sebab barangsiapa masih memerlukan susu ia tidak memahami ajaran tentang kebenaran, sebab ia adalah anak kecil. Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa, yang karena panca indera yang terlatih [NIV: yang karena sering memakainya, telah melatih diri] untuk membedakan yang baik daripada yang jahat.”
(Ibrani 5:11–14)
Secara terus terang, tanpa tedeng aling-aling, penulis surat ini mengatakan bahwa orang-orang Kristen Yahudi itu sebenarnya masih bayi secara rohani. Padahal sudah sekian lama mereka menjadi orang Kristen. Semestinya mereka sudah bukan bayi lagi, tetapi mengalami kemajuan dalam kehidupan Kristiani. Sekian tahun lamanya mereka telah mendapat banyak kesempatan, sehingga semestinya sudah cukup dewasa rohani.
Penulis surat Ibrani itu kemudian menunjukkan satu-satunya jalan untuk mencapai kedewasaan. Mereka harus berlatih terus supaya bisa membedakan antara yang baik dan hal-hal yang tidak baik (yang sesat). Dalam praktik, di jalan orang yang benar kemajuan dalam mencapai kedewasaan atau kematangan rohani hanya akan dicapai dengan berlatih terus. Hal itu tidak akan terjadi secara otomatis, sebab diperlukan disiplin. Itu sebabnya, salah satu langkah awal adalah: “Marilah kita bersungguh-sungguh [rajin].” Kita harus melatih diri sehingga bisa membedakan antara yang baik dan yang jahat.
Seringkali, banyak gereja besar bahkan tidak bisa membedakan lagi antara hal-hal yang sungguh rohani/ alkitabiah dan sekadar penampilan yang menarik secara emosional. Cara satu-satunya untuk mengatasi kekurangan ini adalah dengan melatih diri dalam praktik yang sungguh-sungguh dan terus-menerus.
*Prayer Response
Terima kasih, Tuhan, karena Engkau terus memimpin aku untuk maju. Ku-deklarasikan, aku tidak mengandalkan hak-hak istimewa atau bersandar padanya, tetapi aku melatih diriku sendiri untuk maju menuju kedewasaan. Aku akan maju terus menuju kedewasaan. Amin.
Kode: WD-B097-310-IND