Jalan yang Tidak Pernah Berhenti

Derek Prince
*First Published: 2008
*Last Updated: Maret 2026
2 min read
Sejauh ini kita telah membahas empat ajakan “Marilah kita” yang terdapat dalam kitab Ibrani. Sekarang kita beralih ke ajakan yang kelima, yaitu pernyataan yang mungkin merupakan suatu kebulatan tekad yang baru bagi kita.
Ibrani 6:1 berbunyi:
“Sebab itu marilah kita tinggalkan asas-asas pertama dari ajaran tentang Kristus dan beralih kepada perkembangannya yang penuh”.
Entah mengapa, tampaknya banyak orang Kristen berpikir bahwa pada suatu saat dalam kehidupan Kristianinya mereka akan bisa berkata: “Aku sudah mencapainya.” Mereka merasa sudah mapan sehingga berpikir mereka bisa santai-santai saja mulai sekarang. Tetapi sesungguhnya itu kesalahan besar. Dalam kehidupan rohani yang mencapai kedewasaan tidak mungkin untuk berhenti, lalu tidak bergerak maju lagi.
Dikatakan di Amsal 4:18:
“Tetapi jalan orang benar itu seperti cahaya fajar, yang kian bertambah terang sampai rembang tengah hari”.
Ungkapan “jalan orang benar” itu tidak mengacu kepada orang atau kelompok orang percaya tertentu. Yang dimaksudkan adalah setiap orang yang benar/ saleh, tanpa terkecuali.
Jadi, “kebenaran” atau “kesalehan” itu sesungguhnya merupakan sebuah “jalan”. Jalan tidak dibuat untuk orang berdiri di atasnya tanpa bergerak maju. Apalagi untuk duduk diam di situ. “Jalan kebenaran” mengisyaratkan suatu perjalanan, di mana harus ada kemajuan dan perkembangan.
Saat kita mulai mengenal Tuhan dalam kemuliaan-Nya sebagai Juruselamat dan Tuhan yang berdaulat, maka jalan itu seperti cahaya sinar pagi yang mulai menyinari kita. Keadaannya seperti ketika matahari terbit sehabis melewati malam hari yang gelap, atau seperti fajar yang menyingsing di dalam hati. Tetapi fajar itu bukanlah tujuan akhir yang hendak dicapai oleh Tuhan. Itu baru suatu permulaan.
Apabila kita berjalan terus di jalan kebenaran, cahaya yang menerangi kita semestinya semakin lama semakin terang. Dengan setiap langkah, setiap hari cahaya itu harus menjadi lebih terang daripada sebelumnya. “Sampai rembang tengah hari”, itulah tujuan yang hendak dicapai, yaitu terangnya siang pada tengah hari.
Tuhan tidak puas kalau kita berhenti sebelum benar-benar mencapai tingkatan sinar surya pada tengah hari. Fajar yang menyingsing hanyalah permulaan, jalan yang ditempuh itu mestinya membawa kemajuan, dan sinar cahayanya semakin lama semakin terang. Tetapi kita tidak boleh berhenti sampai mencapai “rembang tengah hari”, yaitu puncak hari itu.
*Prayer Response
Terima kasih, Tuhan, karena Engkau terus memimpin aku untuk maju. Ku-deklarasikan, aku harus menempuh jalan menuju kesalehan, dan Tuhan mengharapkan adanya gerakan, kemajuan dan perkembangan pada diriku sendiri. Aku akan maju terus menuju kedewasaan. Amin.
Kode: WD-B097-309-IND