Menyingkirkan Setiap Kendala

Derek Prince
*First Published: 2008
*Last Updated: Maret 2026
2 min read
Alkitab berkata:
“Sebab jika kita dituduh olehnya [oleh hati kita], Allah adalah lebih besar daripada hati kita serta mengetahui segala sesuatu” (1 Yohanes 3:20).
Janganlah kita merahasiakan apapun terhadap Tuhan. Kita harus bersikap jujur dan terbuka dengan Dia, dan secara terus terang mengakui setiap pelanggaran dosa, setiap pikiran yang tidak baik, dan setiap kekurangan kita. Tetapi sesudah itu, setelah semuanya diakui, kita harus benar-benar menerima baik pengampunan dan penyucian-Nya yang sempurna. Karena kita tahu bahwa Allah takkan mengingat lagi dosa atau mencari-cari kesalahan kita. Demikianlah, kita dapat menghampiri Dia dengan bebas dari rasa tertuduh.
Di 1 Timotius 2:8 Paulus berbicara mengenai doa:
“Oleh karena itu aku ingin, supaya di mana-mana orang laki-laki berdoa dengan menadahkan tangan yang suci, tanpa marah dan tanpa perselisihan.” (1 Timotius 2:8)
Kita harus membuang jauh-jauh perasaan atau sikap hati yang secara diam-diam menghalangi kita untuk mendekati Tuhan. Kita harus membuang jauh-jauh rasa geram dan kebimbangan dalam hati. Menurut Alkitab, jika sedikit pun masih ada kebimbangan, sesungguhnya kita sudah salah.
(Lihatlah Roma 14:23.) Mengapa? Karena kita tidak dapat memasuki hadirat Tuhan dengan perasaan tertuduh. Alkitab berkata:
“Sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian kemari oleh angin. Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan. Sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya.” (Yakub 1:6–8)
Apapun keraguan yang masih ada mengenai kesalahan yang mungkin telah dilakukan, setiap sikap negatif atau keliru mengenai diri kita dan orang-orang lain, kita harus menepisnya. Kita harus datang dengan penuh keberanian. Seperti dikatakan dalam Ibrani 4:16:
“Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rakhmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.” (Ibrani 4:16)
Ingat, yang akan kita dekati adalah sebuah takhta kasih karunia, takhta kemurahan, dan yang duduk menyertai Tuhan di atas takhta itu adalah kasih karunia. Kita menghampiri Tuhan bukan untuk menerima keadilan, melainkan kasih karunia.
*Prayer Response
Terima kasih, Tuhan, karena aku dapat menghampiri Engkau dengan penuh keberanian. Ku-deklarasikan, aku membuang dan membersihkan diri dari setiap roh penuduh dan setiap hal lain yang menghalangiku untuk datang dengan penuh keberanian menghadap takhta kasih karunia. Aku akan menghadap kepada takhta kasih karunia. Amin.
Kode: WD-B097-304-IND