Tekanan Apapun yang Akan Dialami

Derek Prince
*First Published: 2008
*Last Updated: Maret 2026
2 min read
Kalau Alkitab menyuruh kita untuk berpegang teguh pada pengakuan iman (lihat Ibrani 4:14), sesungguhnya itu suatu peringatan bahwa pada suatu waktu akan ada tekanan yang memaksa kita untuk menarik kembali apa yang pernah kita ucapkan. Tetapi kita tidak boleh menarik kembali ucapan itu. Kita harus memegang erat-erat pengakuan iman kita.
Yang pertama-tama kita lakukan adalah membuat pengakuan iman yang benar, sehingga ucapan mulut kita mengaminkan apa yang dikatakan oleh Alkitab. Kita mengatakan dengan jelas apa yang telah dikerjakan oleh Yesus bagi kita, persis seperti yang dikatakan Firman Tuhan. Misalnya,
“Oleh bilur-bilur-Nya kita menjadi sembuh” (Yesaya 53:5).
“Ia yang oleh karena kamu menjadi miskin, … supaya kamu menjadi kaya” (2 Korintus 8:9).
“Ia dapat mati untuk seluruh umat manusia.” (Lihat Ibrani 2:9, BIMK.)
“Kristus telah menebus kita dari kutuk … dengan … menjadi kutuk karena kita.” (Lihat Galatia 3:13–14.)
Itulah pengakuan/ pernyataan yang benar. Kita mengaminkannya, dan tekanan apapun yang mungkin akan kita alami, tidak soal berapa banyak hal yang kurang baik yang terjadi dengan kita, kita akan tetap berpegang teguh pada pengakuan iman itu. Di situlah iman kita akan benar-benar dinyatakan, dan di situlah pelayanan Yesus sebagai imam besar kita di surga akan mulai bekerja bagi kita.
Melalui iman, kita mengalami hal-hal yang tidak dapat dideteksi oleh panca indra kita sendiri. Selama kita masih terpengaruh oleh panca indra sendiri, sebenarnya kita tidak bisa melangkah dalam iman. Paulus mengatakan hal ini dengan jelas sekali di 2 Korintus 5:7:
“Sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat.”
Dengan kata lain, apa pun yang kita lakukan, dan cara hidup kita sebagai orang Kristen seluruhnya didasari oleh iman, yaitu apa yang kita imani. Bukan didasari apa yang bisa kita lihat atau ketahui dengan panca indra kita. Panca indra kita mengatakan sesuatu, tetapi iman kita berkata lain. Di situlah akan terjadi konflik. Oleh sebab itulah, penulis kitab Ibrani ini menyuruh kita membuat pengakuan iman dahulu, kemudian berpegang teguh padanya. Sekalipun panca indra kita mengatakan salah, jika Firman Tuhan mengatakan itu benar, maka pasti itu benar.
*Prayer Response
Terima kasih, Yesus, karena Engkau adalah Imam Besar pengakuan iman kita. Ku-deklarasikan, aku akan membuat pengakuan iman yang benar tanpa pernah mundur, tidak perduli tekanan yang akan dialami. Aku akan berpegang teguh pada pengakuan imanku. Amin.
Kode: WD-B097-301-IND