Percaya dan Memasuki Perhentian

Derek Prince
*First Published: 2008
*Last Updated: Maret 2026
2 min read
“Sebab kita yang beriman, akan masuk ke tempat perhentian seperti yang Ia katakan: ‘Sehingga Aku bersumpah dalam murka-Ku: Mereka takkan masuk ke tempat perhentian-Ku’ [kutipan dari Mazmur 95], sekalipun pekerjaan-Nya sudah selesai sejak dunia dijadikan. Sebab tentang hari ketujuh pernah dikatakan di dalam suatu nas: ‘Dan Allah berhenti pada hari ketujuh dari segala pekerjaan-Nya.’ Dan dalam nas itu kita baca: ‘Mereka takkan masuk ke tempat perhentian-Ku.’ (Ibrani 4:3–5)”
Di ayat ini, dalam teks bahasa Yunani kata ‘beriman” atau “percaya” merupakan kata kerja dalam bentuk lampau (artinya, sudah percaya). Tetapi “masuk” merupakan kata kerja dalam bentuk sekarang (present tense). Jadi, sebelum bisa memasuki perhentian Tuhan, kita harus sudah menjadi orang percaya terlebih dahulu. Kita tidak disuruh lagi untuk mulai percaya. Kita telah memutuskan untuk percaya, dan atas dasar itulah kita dapat memasuki perhentian tersebut. Orang yang setiap kali harus dibangkitkan lagi imannya, tidak memenuhi syarat untuk masuk. Hanya kita yang sudah percaya dapat memasuki perhentian/ keteduhan itu.
Mengenai tema perhentian ini, marilah kita membuka PL sejenak. Di Kejadian 2:2 tertulis:
“Ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya itu, berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu.”
Tuhan berhenti dari segala pekerjaan-Nya. Tentu itu bukan karena Tuhan mengalami kelelahan. Tidak, Ia memang senang dan suka untuk relaks. Sepertinya Ia “duduk menyandarkan badan” dan memandang kembali semua yang telah dibuat-Nya, dan mengambil waktu untuk menikmati hasil ciptaan-Nya.
Berapa banyak kita yang suka meluangkan waktu untuk menikmati hal-hal yang telah kita kerjakan atau yang kita buat? Hari-hari ini, begitu selesai mengerjakan sesuatu, kebanyakan orang sudah sibuk lagi memulai sesuatu yang lain. Tetapi Tuhan memberi contoh, bahwa Ia mengambil waktu untuk menikmati pekerjaan-Nya setelah selesai. Apapun yang mungkin telah kita kerjakan, adalah sesuatu yang saleh (meniru Tuhan) untuk bersantai dan menikmatinya. Sesungguhnya, kemampuan untuk relaks merupakan suatu kemampuan ilahi.
*Prayer Response
Terima kasih, Tuhan, atas janji bahwa kami dapat memasuki istirahat-Mu. Ku-deklarasikan, salah satu kenikmatan yang Tuhan ingin bagikan adalah istirahat-Nya – Ia ingin agar aku juga memasuki istirahat yang Ia nikmati. Aku akan berjaga jangan sampai tidak mendapatkan istirahat/ keteduhan di dalam Kristus. Amin.
Kode: WD-B097-285-IND