Hidup dalam Takut akan Allah

Derek Prince
*First Published: 2008
*Last Updated: Maret 2026
2 min read
Dalam surat Ibrani sampai 12 kali kita menemukan ajakan “marilah kita” atau “baiklah kita” dst. dst. Pernyataan “marilah kita” yang pertama di kitab Ibrani adalah:
“Sebab itu, baiklah kita waspada [takut, dalam teks bahasa Inggris]” (Ibrani 4:1).
Apakah saudara terkejut membaca kalimat itu? [Marilah kita “takut”] Kebanyakan orang menolak untuk merasa takut.
Ada sepasang suami-istri yang pertama kali memperkenalkan saya kepada Tuhan (sebelum Perang Dunia). Mereka tinggal di daerah Yorkshire di Inggris. Setelah Perang Dunia II usai saya kembali mengunjungi mereka, tetapi saya dapati kondisi rohani mereka kurang begitu baik. Sang suami itu berkukuh mengatakan, orang Kristen tidak boleh takut sama sekali. Lalu saya jawab, tergantung “takut” semacam apa yang dimaksudkan oleh Alkitab.
Di Mazmur pasal 19 dikatakan:
“Takut akan TUHAN itu suci, tetap ada untuk selamanya” (ayat 10).
Takut yang semacam ini harus terus ada pada kita. Rupanya, meskipun dalam keadaan sakit, bapak ini bertekad untuk sama sekali tidak memakai obat apapun. (Menurut saya, sedikit banyak ada unsur kesombongan dalam sikap ini.) Saya melihat bahwa sikapnya itu disebabkan karena ia menolak untuk merasa takut dalam bentuk apapun.
Akhirnya menyedihkan juga nasibnya, karena ia terkena diabetes (kencing manis) dan kakinya terpaksa diamputasi. Bapa ini sungguh shock. Ia hampir tidak dapat mengatasi keterkejutannya, karena tidak bisa menerima mengapa imannya tidak menyembuhkan. Menurut saya, masalah mendasar adalah bahwa ia kurang mengerti bahwa ada unsur “takut” tertentu yang semestinya juga ada pada setiap orang Kristen.
Ungkapan “marilah kita takut” dalam bahasa Ibrani itu sesungguhnya ditujukan kepada umat Kristen yang percaya, bukan kepada kalangan yang tidak/ belum percaya. Hendaknya diingat bahwa selalu saja ada kemungkinan bahwa kita tidak akan meraih apa yang sebenarnya Tuhan sudah sediakan bagi kita. Secara keseluruhan ayat itu berkata:
“Sebab itu, baiklah kita waspada [takut], supaya jangan ada seorang di antara kamu yang dianggap ketinggalan, sekalipun janji akan masuk ke dalam perhentian-Nya masih berlaku.”
Setiap janji itu ada dua kemungkinannya. Ia menawarkan suatu kebaikan, tetapi jikalau kita tidak sungguh menyambut dan meraih apa yang ditawarkan, bisa saja kita kehilangan sesuatu. Dalam kehidupan orang Kristen pun demikian halnya. Hal yang baik itu selalu tersedia, tetapi ada saja kemungkinan kita tidak mendapatnya. Saya percaya untuk bisa memasuki perhentian Tuhan kita harus datang dengan sikap “takut” semacam ini.
*Prayer Response
Terima kasih, Tuhan, atas janji bahwa kami dapat memasuki istirahat-Mu. Ku-deklarasikan, kudatang menghadap Tuhan dengan sikap takut yang sepantasnya untuk dapat memasuki istirahat-Nya. Aku akan berjaga jangan sampai tidak mendapatkan istirahat/ keteduhan di dalam Kristus. Amin.
Kode: WD-B097-284-IND