Memutuskan untuk Menyembah dan Menikmati Istirahat

Derek Prince
*First Published: 2008
*Last Updated: Maret 2026
2 min read
Di
“Mazmur 95:7”disebutkan dua alasan mengapa kita sepantasnya menyembah Tuhan:
“Sebab Dialah Allah kita, dan kitalah umat gembalaan-Nya dan kawanan domba tuntunan tangan-Nya”
Alasan pertama untuk menyembah Tuhan adalah sebab Ia adalah Tuhan – Allah kita, yaitu satu-satunya Oknum di jagat raya ini yang pantas untuk disembah. Boleh saja kita memuji-muji sesama manusia, tetapi tentu tidak boleh kita puja atau sembah. Ibadah penyembahan merupakan cara khusus untuk berhubungan dengan Dia sebagai TUHAN (Yang Berdaulat).
Saya sungguh yakin bahwa pada akhirnya kita akan ditaklukkan dan dikuasai oleh apa pun yang kita sembah dan puja. Semakin kita menyembah atau memuja suatu obyek, semakin kita akan menjadi mirip dengannya – dan semakin ia akan berkuasa atas kita. Jika kita tidak menyembah Tuhan, bisakah dikatakan bahwa Ia benar-benar Allah kita?
Alasan yang kedua mengapa kita patut menyembah-Nya adalah karena kita adalah “kawanan domba tuntunan tangan-Nya.” Melalui penyembahan, kita mengakui-Nya sebagai Allah kita. Dan memang itulah respon yang sepantasnya, karena sedemikian besarnya keperdulian-Nya kepada kita. Namun mazmur ini kemudian ditutup dengan sebuah peringatan yang membuat kita berpikir dengan lebih serius:
“Pada hari ini, sekiranya kamu mendengar suara-Nya! Janganlah keraskan hatimu seperti di Meriba. .... Empat puluh tahun Aku jemu kepada angkatan itu, maka kata-Ku: ‘Mereka suatu bangsa yang sesat hati, dan mereka itu tidak mengenal jalan-Ku.’ Sebab itu Aku bersumpah dalam murka-Ku: ‘Mereka takkan masuk ke tempat perhentian-Ku.’ (ayat 7–8, 10–11)”
Ayat ini memberikan dua pilihan kepada kita, yaitu apakah kita akan melakukan penyembahan atau menolak untuk berbuat demikian. Saat kita menyembah, di situlah kita akan mendengar suara Tuhan. Setelah mendengar dan menaati suara-Nya, kita pun akan memasuki perhentian/ menjadi teduh. Akhirnya mau tak mau, kita harus menyadari betapa pentingnya mendengar suara Tuhan.
Seperti kita baca di
“Yeremia 7:23”:
“Hanya yang berikut inilah yang telah Kuperintahkan kepada mereka: ‘Dengarkanlah [patuhi] suara-Ku, maka Aku akan menjadi Allahmu.’ “
Inilah sebuah pernyataan yang paling sederhana mengenai apa yang sesungguhnya diharapkan oleh Tuhan:
“Dengarkanlah [patuhi] suara-Ku, maka Aku akan menjadi Allahmu.”
*Prayer Response
Terima kasih, Tuhan, atas janji bahwa kami dapat memasuki istirahat-Mu. Ku-deklarasikan, aku memutuskan untuk melakukan penyembahan yang benar, mendengarkan dan mematuhi suara-Mu, serta masuk ke dalam istirahat-Mu. Aku akan berjaga jangan sampai tidak mendapatkan istirahat/ keteduhan di dalam Kristus. Amin.
Kode: WD-B097-283-IND