Logo
Logo
Learn
Buku-bukuKursus AlkitabSumber
PenjangkauanTentang
Indonesia Flag Icon

Menu

  • Home
  • Learn +
    • Penjangkauan
    • Tentang +
      • Bergabung +
        • Kontak +

            Dapatkan eBook Gratis

            Mulailah koleksi Derek Prince anda dengan eBook gratis berjudul Bagaimana Beralih Dari Kutuk Kepada Berkat saat anda berlangganan buletin kami.

            Pengajaran Alkitab Gratis
            Logo
            Logo
            HomeLearnPenjangkauanTentangBerikan Donasi

            Hak Cipta © 2026 Pelayanan Derek Prince. Seluruh hak cipta

            KontakKerahasiaan PribadiHak CiptaLicensesPeta Situs
            Rumah
            Sumber
            Memutuskan untuk Menyembah dan Menikmati Istirahat

            Memutuskan untuk Menyembah dan Menikmati Istirahat

            Derek Prince

            Derek Prince

            Menyukai
            Membagikan
            Bahasa Indonesia

            *Article Language

            Kirimkan Kesaksian

            Menawarkan

            Memberi

            *First Published: 2008

            *Last Updated: Maret 2026

            2 min read

            Kita dipanggil untuk menyembah Tuhan karena Dia adalah Allah kita dan kita adalah umat gembalaan-Nya. Tindakan yang indah ini adalah cara kita mendengar suara-Nya, dan ketaatan kitalah yang menjaga hati kita agar tidak menjadi keras dan memungkinkan kita masuk ke dalam perhentian-Nya.

            Di

            “Mazmur 95:7”
            disebutkan dua alasan mengapa kita sepantasnya menyembah Tuhan:

            “Sebab Dialah Allah kita, dan kitalah umat gembalaan-Nya dan kawanan domba tuntunan tangan-Nya”

            Alasan pertama untuk menyembah Tuhan adalah sebab Ia adalah Tuhan – Allah kita, yaitu satu-satunya Oknum di jagat raya ini yang pantas untuk disembah. Boleh saja kita memuji-muji sesama manusia, tetapi tentu tidak boleh kita puja atau sembah. Ibadah penyembahan merupakan cara khusus untuk berhubungan dengan Dia sebagai TUHAN (Yang Berdaulat).

            Saya sungguh yakin bahwa pada akhirnya kita akan ditaklukkan dan dikuasai oleh apa pun yang kita sembah dan puja. Semakin kita menyembah atau memuja suatu obyek, semakin kita akan menjadi mirip dengannya – dan semakin ia akan berkuasa atas kita. Jika kita tidak menyembah Tuhan, bisakah dikatakan bahwa Ia benar-benar Allah kita?

            Alasan yang kedua mengapa kita patut menyembah-Nya adalah karena kita adalah “kawanan domba tuntunan tangan-Nya.” Melalui penyembahan, kita mengakui-Nya sebagai Allah kita. Dan memang itulah respon yang sepantasnya, karena sedemikian besarnya keperdulian-Nya kepada kita. Namun mazmur ini kemudian ditutup dengan sebuah peringatan yang membuat kita berpikir dengan lebih serius:

            “Pada hari ini, sekiranya kamu mendengar suara-Nya! Janganlah keraskan hatimu seperti di Meriba. .... Empat puluh tahun Aku jemu kepada angkatan itu, maka kata-Ku: ‘Mereka suatu bangsa yang sesat hati, dan mereka itu tidak mengenal jalan-Ku.’ Sebab itu Aku bersumpah dalam murka-Ku: ‘Mereka takkan masuk ke tempat perhentian-Ku.’ (ayat 7–8, 10–11)”

            Ayat ini memberikan dua pilihan kepada kita, yaitu apakah kita akan melakukan penyembahan atau menolak untuk berbuat demikian. Saat kita menyembah, di situlah kita akan mendengar suara Tuhan. Setelah mendengar dan menaati suara-Nya, kita pun akan memasuki perhentian/ menjadi teduh. Akhirnya mau tak mau, kita harus menyadari betapa pentingnya mendengar suara Tuhan.

            Seperti kita baca di

            “Yeremia 7:23”
            :

            “Hanya yang berikut inilah yang telah Kuperintahkan kepada mereka: ‘Dengarkanlah [patuhi] suara-Ku, maka Aku akan menjadi Allahmu.’ “

            Inilah sebuah pernyataan yang paling sederhana mengenai apa yang sesungguhnya diharapkan oleh Tuhan:

            “Dengarkanlah [patuhi] suara-Ku, maka Aku akan menjadi Allahmu.”

            *Prayer Response

            Terima kasih, Tuhan, atas janji bahwa kami dapat memasuki istirahat-Mu. Ku-deklarasikan, aku memutuskan untuk melakukan penyembahan yang benar, mendengarkan dan mematuhi suara-Mu, serta masuk ke dalam istirahat-Mu. Aku akan berjaga jangan sampai tidak mendapatkan istirahat/ keteduhan di dalam Kristus. Amin.

            Aku Sudah Berdoa
            Menyukai
            Membagikan
            Expand Content

            What People Say

            See how Memutuskan untuk Menyembah dan Menikmati Istirahat has impacted lives across the globe.

            "I've applied the Biblical principles on family relationships from this teaching, and it has completely restored harmony in our home. My teenagers and I now have meaningful conversations about faith, and my marriage has been strengthened in ways I never thought possible."
            Elena R., Brazil
            "The teachings on spiritual warfare completely transformed my approach to daily challenges. I used to feel overwhelmed by life's obstacles, but now I understand how to stand firm in faith. This teaching gave me practical tools I use every single day."
            Sarah K., California
            "After 20 years of struggling with unforgiveness, the Biblical principles shared in this teaching helped me release the bitterness I had been carrying. The step-by-step approach to forgiveness wasn't just theory—it actually worked in my life when nothing else had."
            Michael T., United Kingdom
            "As a new Christian, I was confused about many aspects of faith. These teachings provided clear, Scripture-based explanations that helped build my foundation. I'm especially grateful for how the content made complex concepts accessible without watering down the truth."
            Priya M., India
            "The teaching on God's sovereignty during difficult times came to me exactly when I needed it most. After losing my job and facing health challenges, this message reminded me that God remains in control. It gave me hope when I had none left."
            James L., Australia
            "I've applied the Biblical principles on family relationships from this teaching, and it has completely restored harmony in our home. My teenagers and I now have meaningful conversations about faith, and my marriage has been strengthened in ways I never thought possible."
            Elena R., Brazil
            "The teachings on spiritual warfare completely transformed my approach to daily challenges. I used to feel overwhelmed by life's obstacles, but now I understand how to stand firm in faith. This teaching gave me practical tools I use every single day."
            Sarah K., California

            Kode: WD-B097-283-IND

            Hadiah
            Memberi
            Kirim Masukan