Perintah Tuhan untuk Berhenti dengan Kesibukan

Derek Prince
*First Published: 2008
*Last Updated: Maret 2026
2 min read
Di Ulangan pasal 28 kita melihat suatu daftar yang terdiri dari serangkaian kutuk dan berkat.
Berkat-berkat dimulai dengan ucapan berikut:
“Jika engkau baik-baik mendengarkan suara TUHAN, Allahmu … segala berkat ini akan datang kepadamu” (ayat 1-2).
Daftar kutukan dimulai dengan ucapan sebagai berikut:
“Tetapi jika engkau tidak mendengarkan suara TUHAN, Allahmu … maka segala kutuk ini akan datang kepadamu” (ayat 15).
Yang menentukan apakah kita menerima berkat atau kutuk, ialah sejauh mana respon kita, yaitu apakah mendengarkan atau mengabaikan suara TUHAN.
Untuk benar-benar bisa mendengar suara Tuhan, yang penting adalah sikap dan hubungan kita dengan Dia, dan yang menentukan hal itu adalah ketaatan kita untuk selalu rajin beribadah. Dengan kata lain, kita tidak akan pernah mendengar suara Tuhan kecuali kita sungguh-sungguh bersikap menyembah. Kemudian, setelah mendengar suara Tuhan, barulah kita dapat memasuki perhentian atau istirahat-Nya. Jadi, ibadah penyembahan merupakan jalan menuju perhentian (ketenangan) tersebut. Hanyalah orang-orang yang benar-benar mengerti bagaimana menyembah, merekalah yang bisa benar-benar menikmati perhentian atau keteduhan itu (waktu untuk berhenti dari segala kesibukan).
“Jadi masih tersedia suatu hari perhentian, hari ketujuh, bagi umat Allah. Sebab barangsiapa telah masuk ke tempat perhentian-Nya, ia sendiri telah berhenti dari segala pekerjaannya, sama seperti Allah berhenti dari pekerjaan-Nya. Karena itu baiklah kita berusaha untuk masuk ke dalam perhentian itu, supaya jangan seorang pun jatuh karena mengikuti contoh ketidak-taatan itu juga.” (Ibrani 4:9–11)
Alkitab menunjukkan bahwa dahulu umat Tuhan gagal memasuki perhentian (istirahat) itu karena mereka memang tidak taat. Saya mengatakan ini bukan dengan maksud untuk menganjurkan kita semua untuk mulai mengadakan hari Sabat atau untuk membuat hari Minggu menjadi hari Sabat. Yang saya ingin tunjukkan, hanyalah bahwa boleh jadi kita tidak menyadari, bahwa Tuhan sesungguhnya memerintahkan umat-Nya untuk berhenti dari segala kesibukan.
Akhir-akhir ini saya mulai meyakini, bahwa saya kurang menyenangkan hati Tuhan apabila saya bekerja terus selama tujuh hari dalam seminggu, dan minggu lepas minggu. Dengan kesibukan seperti itu bisa saja saya malah membahayakan kesehatan sendiri. Tuhan sedang mengubah sesuatu dalam hatiku berkenaan perhentian pada hari Sabat. Saya percaya Tuhan bisa juga mengubah sesuatu di hati saudara, sehingga akan timbul kemauan sendiri untuk patuh kepada hukum-hukum abadi Tuhan yang sesungguhnya tidak pernah berubah.
*Prayer Response
Terima kasih, Tuhan, atas janji bahwa kami dapat memasuki istirahat-Mu. Ku-deklarasikan, aku akan “sungguh berusaha untuk memasuki istirahat itu.” Aku akan berjaga jangan sampai tidak mendapatkan istirahat/ keteduhan di dalam Kristus. Amin.
Kode: WD-B097-281-IND