Ke-bapaan Tuhan Bersifat Abadi

Derek Prince
*First Published: 2008
*Last Updated: Maret 2026
2 min read
Marilah kita menyimak lebih teliti lagi mengenai hubungan Allah Bapa dengan anak-anak-Nya ini:
“Itulah sebabnya aku sujud kepada Bapa, yang daripada-Nya semua turunan yang di dalam surga dan di atas bumi menerima namanya” (Efesus 3:14–15).
Ayat 15 dalam terjemahan Alkitab bahasa Inggris oleh J. B. Phillips demikian bunyinya, “From whom all fatherhood, earthly or heavenly, derives its name.” [Yang daripada-Nya semua ke-bapaan baik di bumi maupun di surga mendapatkan namanya.] Ayat ini sesungguhnya mengandung suatu pewahyuan yang luar biasa: bahwa kebapaan itu adalah sesuatu yang bernilai kekal abadi, karena yang disebut “bapa” di bumi ini pun berasal dari kebapaan Tuhan di surga [bahwa Tuhan itu sesungguhnya adalah “seorang” bapa]. Kesakralan dan wibawa/ otoritas seorang bapa di dunia ini merupakan suatu proyeksi dari kebapaan Tuhan di surga yang bersifat ilahi dan kekal abadi.
Sebelum menciptakan langit dan bumi pun Tuhan sudah (berpredikat) “seorang” Bapa, karena Ia adalah Bapa dari Tuhan Yesus Kristus. Kaitan hubungan antara kebapaan dan ke-anak-an [keputraan] di dalam Allah itu bersifat kekal abadi. Sebelum adanya penciptaan, di dalam keabadian pun Allah itu adalah “seorang” Bapa dan dalam keabadian Kristus itu adalah Anak-Nya. Setiap yang dinamakan “bapa” pada makhluk-makhluk ciptaan Allah sesungguhnya dinamakan demikian (merupakan “turunan”) dari kebapaan Tuhan yang abadi.
Ada sebuah ayat terkenal dalam Injil Yohanes di mana Yesus berkata:
“Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal” (Yohanes 14:2).
Ayat ini mengungkapkan kebenaran bahwa Allah itu “seorang” Bapa, dan Ia pun mempunyai sebuah “rumah”. Dalam Alkitab kata “rumah” itu tidak hanya mengacu kepada sebuah gedung yang dibangun dari material. Tidak, kata “rumah” itu biasanya mengacu kepada sebuah keluarga dan tempat tinggal keluarga itu. Jadi, ketika Yesus berkata “Di rumah Bapa-Ku”, sesungguhnya Ia sedang berbicara mengenai keluarga Allah di surga. Dalam keabadian, Tuhan adalah “seorang” Bapa, dan kehidupan kekeluargaan sesungguhnya berawal di alam yang kekal abadi, yaitu dalam hubungan bapa-anak yang dimiliki oleh Allah tritunggal.
*Prayer Response
Terima kasih, Bapa, bahwa aku adalah anak-Mu. Ku-deklarasikan, ke-bapaan Tuhan bersifat abadi dan aku telah menjadi sebagian dari keluarga Tuhan yang di surga. Aku telah menerima Roh (yang menjadikanku) seorang Putra, dan karena kuasa Dia aku memanggil Tuhan: “Ya Abba, ya Bapa.” Amin.
Kode: WD-B097-266-IND