Apakah yang Memotivasi Kita?

Derek Prince
*First Published: 2008
*Last Updated: Maret 2026
2 min read
Salah satu masalah terbesar dalam gereja dewasa ini adalah ambisi pribadi yang banyak sekali terlihat di antara para hamba Tuhan sendiri. Rasul Paulus membahas masalah tersebut dalam suratnya kepada jemaat Filipi, dan di situ ia berkata:
“Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan, karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini, hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri [KJV: jangan melakukan apa-apa karena ambisi yang mementingkan diri] atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri. (Filipi 2:1–3)”
Kata-kata itu sesungguhnya cukup keras. Paulus bukan sekadar membahas perasaan yang bersifat dangkal, yang dirasakan pada permukaannya saja. Perasaan-perasaan yang dikemukakan itu sangat mendalam.
Saya sudah banyak bertemu hamba-hamba Tuhan yang luar biasa, tetapi menurut hemat saya, pada waktu ini hal yang paling banyak memotivasi orang-orang di lingkungan gereja adalah ambisi. Ambisi untuk mendirikan gereja yang lebih besar, untuk mengadakan KKR dengan hadirin terbanyak, mengumpulkan banyak nama dalam daftar alamat untuk majalah gereja, atau bagaimana bisa menjadi lebih terkenal. Boleh jadi sikap saya ini mungkin agak sinis, tetapi menurut saya, nampaknya ambisi merupakan salah satu motivasi terbesar dalam kekristenan dewasa ini. Namun Paulus berkata: “Jangan melakukan apa-apa karena ambisi yang mementingkan diri”.
Saya ada sebuah pertanyaan buat Anda sekalian yang melayani Tuhan. Sebenarnya, ini juga pertanyaan buat semua orang, karena semestinya semua orang percaya juga sama-sama melayani Tuhan. Apakah motivasi saudara yang sesungguhnya? Apa sebenarnya yang mendorong saudara untuk melakukan apa yang saudara lakukan? Untuk menyampaikan kata-kata yang saudara ucapkan? Untuk berhubungan dengan orang-orang sebagaimana yang saudara lakukan sekarang? Sungguhkah saudara termotivasi oleh kasih akan Tuhan dan oleh belas kasihan?
Di 1 Yohanes 4:7-8 kita dinasihati:
“Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah.”
*Prayer Response
Terima kasih, Tuhan, karena Engkau sedemikian memperhatikan. Ku-deklarasikan keinginanku untuk digerakkan oleh cinta kasih dan belas kasihan Tuhan. Seperti seorang bapa berbelas-kasihan akan anak-anaknya, demikian juga Allah berbelas-kasihan kepadaku. Amin.
Kode: WD-B097-255-IND