Keluarga: Sumber Khidupan Bersama

Derek Prince
*First Published: 2008
*Last Updated: Maret 2026
2 min read
Semua kita adalah anggota dari keluarga Allah, karena kita semua berasal dari satu Bapa. Yesus adalah kakak kita yang sulung, dan kita semua adalah anggota dari keluarga yang sama.
Baiklah, ijinkan saya bercerita kepada saudara sebuah peristiwa yang langsung ku ingat setiap kali saya mulai berpikir mengenai keluarga Allah. Kejadiannya itu adalah beberapa abad yang lalu. Pada waktu itu ada sejumlah umat Kristen keturunan bangsa Skotlandia yang tinggal di daerah pegunungan. Mereka sedang mengalami aniaya yang cukup sengit dari serdadu-serdadu Inggris.
Pada waktu itu ada seorang gadis Skotlandia ditangkap oleh serdadu Inggris dan ia ditanyai ke mana perginya. Sebenarnya anak perempuan itu sedang pergi menuju sebuah pertemuan rahasia dari sesama umat yang percaya. Tentu saja anak perempuan itu takut untuk berdusta, tetapi ia juga tidak ingin membocorkan informasi dan mengkhianati saudara-saudara seiman itu. Maka ia langsung berdoa dan meminta supaya Tuhan menolongnya memberi jawaban yang tepat.
Jawaban anak perempuan itu akhirnya begini, ketika ia bicara dengan serdadu itu:
“Saudaraku yang sulung telah meninggal dunia, dan aku sedang ke rumah ayah untuk mendengar pembacaan surat wasiatnya.”
Betapa indahnya jawaban tersebut. Saudara yang sulung itu adalah Yesus, Tuhan-lah Ayah kita, dan pertemuan itu dilakukan di rumah Bapa.
Apakah ciri utama sebuah keluarga? Saya percaya, ciri utamanya adalah sama-sama berbagi kehidupan dari sumber yang sama. Allah Bapa adalah sumber kehidupan kita semua, dan kita semua bersama-sama dalam keluarga-Nya. Keluarga Allah bukanlah sebuah institusi, bukan juga sebuah organisasi, melainkan sumber kehidupan yang boleh kita nikmati bersama-sama.
Sebagai sesama anggota dari keluarga Allah, apakah yang dituntut dari kita? Kalau saya boleh menjawabnya, saya akan katakan: kita harus saling menerima satu sama lain. Yesus menyebut kita saudara, karena Tuhan menyebut kita semua anak-anak-Nya. Jika sesama saudara seiman dipanggil Tuhan sebagai putra-putra-Nya, semestinya kita menyapa mereka sebagai “kakak” dan “adik”. Hal itu tidak selalu mudah. Teman boleh saja kita pilih sendiri, tetapi bukan kita yang bisa memilih siapa keluarga kita. Namun demikian, kita diharuskan untuk menerima satu sama lain.
*Prayer Response
Terima kasih, Bapa, bahwa aku ini anak-Mu. Ku-deklarasikan, akulah anggota keluarga Tuhan, dan Tuhan adalah Bapaku dan Yesus saudara tuaku. Dalam kasih-Nya Bapa telah menetapkan dari dahulu supaya aku diangkat menjadi anak-Nya. Amin.
Kode: WD-B097-241-IND