Logo
Logo
Learn
Buku-bukuKursus AlkitabSumber
PenjangkauanTentang
Indonesia Flag Icon

Menu

  • Home
  • Learn +
    • Penjangkauan
    • Tentang +
      • Bergabung +
        • Kontak +

            Dapatkan eBook Gratis

            Mulailah koleksi Derek Prince anda dengan eBook gratis berjudul Bagaimana Beralih Dari Kutuk Kepada Berkat saat anda berlangganan buletin kami.

            Pengajaran Alkitab Gratis
            Logo
            Logo
            HomeLearnPenjangkauanTentangBerikan Donasi

            Hak Cipta © 2026 Pelayanan Derek Prince. Seluruh hak cipta

            KontakKerahasiaan PribadiHak CiptaLicensesPeta Situs
            Rumah
            Sumber
            Hubungan dengan Bapa Kita

            Hubungan dengan Bapa Kita

            Derek Prince

            Derek Prince

            Menyukai
            Membagikan
            Bahasa Indonesia

            *Article Language

            Kirimkan Kesaksian

            Menawarkan

            Memberi

            *First Published: 2008

            *Last Updated: Maret 2026

            2 min read

            Dalam doa terakhir-Nya sebelum salib, Yesus menyingkapkan tujuan Injil yang begitu menakjubkan. Ia berdoa agar kita dapat masuk ke dalam hubungan kasih yang sama dengan Bapa seperti yang Ia miliki, sehingga kita dimampukan mengasihi Allah sebagaimana Anak mengasihi-Nya.

            Di dalam dua ayat terakhir dari Yohanes pasal 17 kita menemukan ucapan Yesus yang terakhir kepada para pengikut-Nya sebelum Ia akan menderita dan wafat di kayu salib. Saya percaya kedua ayat terakhir ini merupakan titik puncak dari tujuan Injil yang sebenarnya. Beginilah sebagian doa yang dipanjatkan Yesus saat itu.

            “Ya Bapa yang adil, memang dunia tidak mengenal engkau, tetapi Aku mengenal Engkau, dan [para pengikut-Ku] ini tahu, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku; dan Aku telah memberitahukan nama-Mu kepada mereka.”
            “(Yohanes 17:25–26)”

            Nama yang hendak diperkenalkan Yesus adalah Bapa. Dalam PL sedikit sekali kita menemukan kata Bapa dipakai sebagai sebuah julukan atau gelar Tuhan. Satu-satunya pribadi yang dapat mengungkapkan Bapa dengan seutuhnya adalah Sang Putra. Saat itu Yesus berkata:

            “Aku telah memberitahukan nama-Mu kepada mereka, supaya kasih yang Engkau berikan kepada-Ku ada di dalam mereka dan Aku di dalam mereka.”
            “(ayat 26)”

            Tujuan paling utama yang sesungguhnya hendak dicapai oleh Injil adalah hubungan cinta kasih antara kita dengan Tuhan ini. Sesungguhnya, Tuhan mengasihi kita sama seperti Ia mengasihi Yesus (sampai sekarang pun), dan kita pun bisa mengasihi Tuhan sama seperti Yesus mengasihi Dia. Itulah tujuannya – untuk membawa kita masuk ke dala, keluarga Allah, supaya kita berhubungan dengan Tuhan sebagai Bapa, sama seperti Yesus berhubungan dengan Dia. Hal ini memungkinkan kita untuk mengasihi Tuhan dengan kasih yang sama seperti kasih Yesus. Kita tidak bisa meminta lebih lagi dari itu, karena hal itu sulit untuk dibayangkan. Otak manusia tidak bisa membayangkannya. Tetapi itulah sasaran tujuannya, itulah tujuan akhir. Semua hal lain bersifat sekunder.

            *Prayer Response

            Terima kasih, Tuhan, karena Engkau telah memilihku dalam kasih. Ku-deklarasikan, tujuan akhir hidupku adalah untuk menjalin hubungan cinta kasih dengan Tuhan sebagai Bapaku, karena aku telah diadopsi menjadi anak Tuhan. Amin.

            Aku Sudah Berdoa
            Menyukai
            Membagikan
            Expand Content

            What People Say

            See how Hubungan dengan Bapa Kita has impacted lives across the globe.

            "I've applied the Biblical principles on family relationships from this teaching, and it has completely restored harmony in our home. My teenagers and I now have meaningful conversations about faith, and my marriage has been strengthened in ways I never thought possible."
            Elena R., Brazil
            "The teachings on spiritual warfare completely transformed my approach to daily challenges. I used to feel overwhelmed by life's obstacles, but now I understand how to stand firm in faith. This teaching gave me practical tools I use every single day."
            Sarah K., California
            "After 20 years of struggling with unforgiveness, the Biblical principles shared in this teaching helped me release the bitterness I had been carrying. The step-by-step approach to forgiveness wasn't just theory—it actually worked in my life when nothing else had."
            Michael T., United Kingdom
            "As a new Christian, I was confused about many aspects of faith. These teachings provided clear, Scripture-based explanations that helped build my foundation. I'm especially grateful for how the content made complex concepts accessible without watering down the truth."
            Priya M., India
            "The teaching on God's sovereignty during difficult times came to me exactly when I needed it most. After losing my job and facing health challenges, this message reminded me that God remains in control. It gave me hope when I had none left."
            James L., Australia
            "I've applied the Biblical principles on family relationships from this teaching, and it has completely restored harmony in our home. My teenagers and I now have meaningful conversations about faith, and my marriage has been strengthened in ways I never thought possible."
            Elena R., Brazil
            "The teachings on spiritual warfare completely transformed my approach to daily challenges. I used to feel overwhelmed by life's obstacles, but now I understand how to stand firm in faith. This teaching gave me practical tools I use every single day."
            Sarah K., California

            Kode: WD-B097-217-IND

            Hadiah
            Memberi
            Kirim Masukan