Cinta Kasih yang Sulit untuk Ditampik

Derek Prince
*First Published: 2008
*Last Updated: Maret 2026
2 min read
“Sebab di dalam [Kristus] Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya.” (Efesus 1:4–5)
Ayat itu dalam terjemahannya bisa dialihbahasakan dengan dua cara (dengan memindahkan posisi dari titiknya): “supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Dalam kasih ...” atau bisa juga: “supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya dalam kasih ...” Tetapi entah di mana saudara mau menaruh titiknya, dua-dua terjemahan itu mengatakan bahwa kasih Allah itu sudah ada dalam kekekalan, sebelum ada yang disebut “waktu” itu.
Sebelum dunia ini diciptakan, Allah mengasihi dan memilih kita, dan menetapkan masa depan kita. Perjalanan hidup-Nya sendiri Dia atur sebegitu rupa, sehingga pada suatu saat kita akan berjumpa dengan Dia dan mengalami cinta kasih-Nya.
Ada sebuah kalimat yang sangat sederhana yang tertulis dalam Kidung Salomo:
“Cinta [itu] kuat seperti maut” (8:6).
Maut (kematian) adalah sesuatu yang tidak terelakkan. Apabila kematian tiba, tak seorang pun dapat menolak kedatangannya. Tak ada yang bisa berkata: “Saya belum siap, silahkan datang lain kali saja.” Tidak ada manusia yang mempunyai kekuatan atau kemampuan untuk melawan kematian.
Tetapi PB membawa kita satu langkah lebih jauh lagi. Ketika Yesus wafat dan kemudian bangkit lagi dari kematian, Ia membuktikan bahwa cinta kasih itu ternyata lebih kuat daripada kematian. Kematian, suatu perkara yang paling kuat dan ampuh yang ada di jagat raya, ternyata berhasil ditaklukkan oleh cinta kasih Tuhan, yaitu kekuatan positif yang paling sulit untuk ditampik di jagat raya ini.
Cinta kasih selalu berhasil mencapai tujuannya, ia benar-benar tidak terkalahkan. Ia tidak mau menerima pembatasan apa pun. Kendala apapun yang menghadangnya, pasti akan dilewatinya demi mencapai tujuannya.
Cinta kasih Allah itu bersifat pribadi dan kekal abadi. Cinta itu sudah ada sebelum “waktu” mulai ada, dan ia tidak dapat dibendung. Selanjutnya, bayangkanlah diri saudara seperti sebutir mutiara yang berada di tangan Yesus.
Katakanlah kepada dirimu sendiri: “Cinta Tuhan kepadaku bersifat pribadi namun kekal abadi. Ia sudah ada sebelum ada waktu. Cinta itu tidak mungkin ditolak.” Sesudah itu, cobalah ingat kembali berapa mahalnya harga yang Ia bayarkan. Ia memberikan segala-galanya. Karena itu, berhentilah sejenak sekarang untuk berkata kepada-Nya: “Terima kasih, Tuhan.”
*Prayer Response
Terima kasih, Tuhan, karena Engkau telah memilihku dalam kasih. Ku-deklarasikan, sebelum dunia diciptakan Tuhan telah mengasihiku, memilihku, dan menetapkan aku terlebih dahulu oleh cinta kasih-Nya yang tidak mungkin untuk ditolak. Aku telah diadopsi menjadi anak Tuhan. Amin.
Kode: WD-B097-212-IND