Apakah Kekudusan itu?

Derek Prince
*First Published: 2008
*Last Updated: Maret 2026
2 min read
Betapa banyaknya orang yang salah kaprah pengertiannya mengenai kekudusan! Banyak orang Kristen berusaha menjadi kudus dengan mengharamkan hal-hal tertentu. Mereka berpikir, Jika saja aku tidak melakukan hal ini atau hal itu, maka pasti aku akan kudus. Padahal pantangan itu sama sekali tidak ada urusannya dengan kekudusan. Memang, ada hal-hal tertentu yang memang tidak boleh dilakukan jika kita benar-benar kudus. Tetapi tidak benar juga untuk berpikir bahwa kita hanya akan kudus apabila bisa mengurangi hal-hal tertentu yang pantang untuk dilakukan. Kekudusan itu tidaklah bersifat negatif.
Paulus menulis dalam Kolose 2:20:
“Apabila kamu telah mati bersama-sama dengan Kristus dan bebas dari roh-roh dunia, mengapakah kamu menaklukkan dirimu pada rupa-rupa peraturan, seolah-olah kamu masih hidup di dunia?”
Begitulah pandangan kebanyakan orang mengenai kekudusan. Mereka mengira mereka harus menundukkan diri kepada peraturan-peraturan tertentu. Selanjutnya Paulus memperlihatkan sekian banyak peraturan yang sering dituruti untuk mencoba menjadi orang kudus:
“Jangan jamah ini, jangan kecap itu, jangan sentuh ini”; semuanya itu hanya mengenai barang yang binasa oleh pemakaian dan hanya menurut perintah-perintah dan ajaran-ajaran manusia. Peraturan-peraturan ini, walaupun nampaknya penuh hikmat dengan ibadah buatan sendiri, seperti merendahkan diri, menyiksa diri, tidak ada gunanya selain untuk memuaskan hidup duniawi. (ayat 21–23)
Dengan kata lain, orang-orang itu berpantang terhadap hal-hal tertentu, tetapi ternyata hal itu sendiri tidaklah menjadikan mereka kudus. Itu bukanlah kekudusan dari Tuhan.
Di Matius 5:16 Yesus memperlihatkan kaitan hubungan antara kekudusan dan perilaku:
“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga.”
Apabila “terangmu bercahaya”, itu berarti kita melakukan hal-hal yang baik supaya orang-orang lain dapat melihat Tuhan. Hal itu tidak berarti kita harus berpantang dari hal-hal tertentu. Cara seperti ini justru lebih bersifat positif. Sesungguhnya saya percaya bahwa kekudusan merupakan kekuatan positif yang paling dahsyat yang sedang bekerja di jagat raya ini. Kita hanya menipu diri apabila mengasingkan diri dan menempuh cara hidup yang negatif (tidak boleh ini, tidak boleh itu) lalu menyebutnya “kekudusan”. Itu sama sekali bukan yang dimaksudkan oleh Tuhan dengan kekudusan.
*Prayer Response
Terima kasih, Tuhan, karena Engkau telah memanggilku. Ku-deklarasikan, aku akan membiarkan “terangku bercahaya” sebagai suatu kekuatan yang positif dan dahsyat, sebab aku ini orang yang kudus. Amin.
Kode: WD-B097-204-IND