Mengukur Komitmen

Derek Prince
*First Published: 2008
*Last Updated: Maret 2026
2 min read
Seperti tercatat di kitab Kejadian pasal 15, Tuhan mengadakan suatu ikatan janji dengan Abraham. Dari kedua pihak, baik Tuhan maupun Abraham, membuat sebuah komitmen yang bersifat total. Pada suatu saat Tuhan meminta kepada Abraham untuk menepati janji komitmennya itu. Abraham disuruh mempersembahkan Ishak, anaknya, sebagai kurban sembelihan. Tetapi di sisi Tuhan sendiri komitmen-Nya sama total seperti komitmen Abraham. Demikianlah ceritanya, dua ribu tahun kemudian kita melihat sisi lain dari ikatan janji tadi: Tuhan sendirilah yang pada gilirnya harus mempersembahkan Yesus Kristus, Anak-Nya yang tunggal sebagai kurban agung.
Jangan lupa, biasanya komitmen kita sendiri terhadap Tuhan itulah yang menentukan seberapa jauh komitmen Tuhan terhadap saudara. Komitmen yang total terhadap Tuhan menuntut komitmen yang total juga dari pihak Tuhan. Itulah hakikat sesungguhnya dari suatu hubungan yang didasarkan atas ikatan janji. Tetapi tahukah saudara, bahwa ikatan janji Abraham dengan Tuhan itu juga mempunyai suatu dampak praktis yang lain lagi atas hubungan pribadi Abraham dengan Tuhan? Dalam surat kirimannya, Yakobus berbicara mengenai apa yang dilakukan Abraham ketika mempersembahkan Ishak sebagai kurban, dan apa pula akibatnya karena ia rela berbuat demikian.
“Bukankah Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah? Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna. Dengan jalan demikian genaplah nas yang mengatakan: “Lalu percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.” Karena itu Abraham disebut “sahabat Allah”.” (Yakobus 2:21–23)
Oleh karena komitmennya terhadap ikatan janji itu dan mempersembahkan Ishak, anaknya sebagai kurban, pada akhirnya Abraham dijuluki “sahabat Allah”. Julukan tersebut sungguh signifikan dan suatu kehormatan. Apa yang kita belajar dari semua ini? Bahwa untuk mempunyai persahabatan yang sejati pintu gerbangnya adalah ikatan janji. Apabila dua pribadi mengadakan suatu ikatan perjanjian satu dengan yang lainnya dan kemudian memenuhi persyaratan yang dituntut dalam ikatan janji itu, maka kita akan menemukan suatu persahabatan yang sejati.
*Prayer Response
Terima kasih, Yesus, karena Engkau telah menebus dan menyelamatkanku. Ku-deklarasikan komitmen yang sepenuhnya terhadap Tuhan, dan mengaminkan komitmen Tuhan yang sepenuhnya terhadapku – sesungguhnya, hubungan ikatan janji merupakan dasar dari persahabatan yang sejati. Ku-deklarasikan, aku ini sahabat Kristus. Amin.
Kode: WD-B097-173-IND