Harga Diri yang Benar

Derek Prince
*First Published: 2008
*Last Updated: Maret 2026
2 min read
Saya sudah melayani banyak orang yang masalah utamanya adalah, kurang atau tidak cukup menghargai dirinya sendiri, dan jumlah yang kulayani itu tidak terhitung banyaknya. Harga diri mereka begitu rendah, sehingga mereka sangat menderita secara rohani maupun emosional.
Dalam 1 Yohanes 3:1 dikatakan:
“Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah.”
Harga diri kita akan meningkat dengan luar biasa, sekali saja kita mulai mengerti bahwa manusia, kita-kita ini sesungguhnya adalah anak-anak Tuhan yang dicintai-Nya secara intim dan secara pribadi, dan bahwa Tuhan sungguh berminat pada kita; bahwa Ia tidak pernah terlalu sibuk untuk kita, dan sungguh mendambakan hubungan pribadi yang bersifat langsung dengan kita masing-masing.
Sekali waktu saya bertabrakan dengan seorang ibu ketika sedang berjalan cepat menuju kebaktian, tempat saya harus berkhotbah. Kami dua-duanya berjalan dengan cepat sekali dalam arah yang berlawanan. Setelah tabrakan itu ibu itu bangun lagi, membenahi tampilannya, lalu berkata: “Mr. Prince, tahukah Anda? Saya sempat berdoa kepada Tuhan, bahwa seandainya Ia benar-benar menghendaki Anda bicara dengan saya, pasti kita akan berjumpa satu sama lain.”
“Nah,” jawabku. “Kalau begitu doanya terkabul, dong, karena sekarang kita telah benar-benar berjumpa. Tetapi maaf, saya hanya mempunyai waktu dua menit saja untuk Anda. Saya sedang buru-buru sekarang ini.” Lalu ibu itu mulai bercerita mengenai masalah yang dihadapinya, dan setelah beberapa saat saya terpaksa menghentikan pembicaraannya. “Maaf, Ibu, saya masih punya sisa waktu satu menit saja. … tetapi kurasa aku mengerti apa masalah Ibu. Maukah Ibu mengulangi doa yang kupanjatkan sekarang, kalimat demi kalimat?”
Saya langsung memimpin doa. Dalam doa itu saya katakan, Ibu itu bersyukur, karena Tuhan adalah Bapanya dan bahwa ia adalah anak-Nya; bahwa Tuhan sungguh mencintainya dan perduli padanya, bahwa ia adalah seorang anak yang istimewa bagi-Nya dan bahwa ia adalah anggota dari keluarga yang paling indah yang ada di dunia. Sesudah itu, kami pun berpisah.
Kira-kira sebulan kemudian saya menerima sepucuk surat dari ibu tersebut. Di dalamnya ia menulis: “Saya hanya mau kasih tahu, sesudah bertemu dan berdoa bersama Anda sikapku terhadap kehidupan ini sungguh berubah total. Untuk pertama kali dalam hidupku, aku baru merasakan betapa berharganya aku ini.”
*Prayer Response
Terima kasih, Yesus, karena Engkau telah menebus dan menyelamatkanku. Ku-deklarasikan, harga diriku-lah yang menentukan hubungan pribadiku secara langsung dengan Tuhan. Ku-deklarasikan, aku ini anak Tuhan. Amin.
Kode: WD-B097-163-IND