Hubungan Pernikahan dengan Tuhan

Derek Prince
*First Published: 2008
*Last Updated: Maret 2026
2 min read
Di kitab Roma pasal 7, Paulus berkata bahwa karena hukum Taurat sesungguhnya kita (orang-orang kudus) ini seperti suami-istri yang menikah. Hukum Taurat itu adalah seperti suatu ikatan janji pernikahan, dan ikatan itu sifatnya untuk seumur hidup.
Dengan siapakah – atau dengan apakah – kita dikawinkan? Kita dikawinkan dengan tabiat daging (sifat duniawi) kita. Pada hakikatnya, ikut hukum Taurat berarti harus mematuhi semua peraturannya sesuai kemampuan kita. Untuk melakukan ini kita bergantung kepada sifat kita yang manusiawi (daging). Tidaklah mengherankan, mengapa tak pernah berhasil.
Ketika masih berada di bawah peraturan hukum (Taurat) itu seperti upacara, di mana kita dinikahkan dengan sifat manusiawi (kedagingan) kita. Kalau sifat kedagingan itu masih hidup, kita harus tetap bersatu dengan dia. Kita tidak boleh menceraikannya lalu menikah dengan “suami” yang lain.
Syukurlah … karena suami yang pertama ini kemudian meninggal dunia. Kapankah suami kita yang pertama itu meninggal dunia? Ketika Yesus mati di kayu salib, karena saat itu manusia (tabiat) lama kita turut disalibkan bersama Dia.
Bila kita dapat mengerti hal ini, maka kita akan berkata: “Puji Tuhan! Sekarang aku sudah bebas. Sekarang aku tidak perlu bersama-sama lagi dengan pasanganku yang payah itu, yang membuat hidupku menjadi susah begini dan tak pernah memberikan berkat, damai sejahtera atau pun kebenaran kepadaku. Sekarang aku tidak terikat lagi dengan pasangan hidupku yang lama. Sekarang aku boleh menikah dengan yang lain.”
Kini ada pilihan untuk menikah dengan Dia yang sudah bangkit dari kematian, yaitu Kristus yang telah dibangkitkan dan dimuliakan. Tidak soal apakah saudara seorang lelaki atau pun perempuan, Kristus dapat menjadi suamimu. Di sini kita bicara mengenai suatu hubungan di dalam Roh.
Dalam
“1 Korintus 6:15-16”Paulus memberikan contoh mengenai hubungan seorang lelaki dan seorang pelacur yang menjadi satu secara seksual. Paulus menggunakan ilustrasi mengenai “persatuan” demikian untuk membantu orang-orang Kristen memahami suatu “persatuan” lain yang dapat mereka nikmati, yaitu persatuan dengan Kristus. Persatuan ini tidak bersifat seksual, tetapi spiritual (rohani). Itulah hubungan nikah kita dengan Tuhan.
“Orang yang menyatukan dirinya dengan Tuhan, Roh Tuhan dan roh orang itu menjadi satu” (1 Korintus 6:17, BIMK)
– bukan secara kejiwaan atau tubuhnya, tetapi di dalam rohnya.
*Prayer Response
Terima kasih, Yesus, untuk karya-Mu di kayu salib. Ku-deklarasikan, diriku telah menikah dalam Roh dengan Dia yang telah bangkit dari kematian, yaitu Kristus yang telah dibangkitkan dan dimuliakan. Ku-deklarasikan, kehidupan Yesus terputus oleh kematian, supaya diriku dapat berhubungan dengan Allah untuk selama-lamanya. Amin.
Kode: WD-B097-153-IND