Membanggakan Kayu Salib

Derek Prince
*First Published: 2008
*Last Updated: Maret 2026
2 min read
Pada suatu hari Roh Kudus berbicara kepada saya melalui karunia bahasa roh dan karunia penafsirannya: “Perhatikanlah apa yang dikerjakan di Bukit Kalvari, suatu pekerjaan yang sempurna; sempurna dalam segala hal, sempurna dalam segala segi.” Saat itu Tuhan menunjukkan kepadaku, seandainya aku bisa saja mengerti sepenuhnya apa yang dikerjakan oleh Yesus di Bukit Kalvari itu, pasti aku akan mendapati betapa sempurna karya-Nya itu. Tidak perlu ditambahkan apa-apa lagi, tidak ada apa-apa yang masih kurang. Setiap kebutuhan telah dipenuhi.
Setelah mendapat pengalaman ini, saya menjadi semakin rajin untuk mencari tahu lebih banyak mengenai salib itu. Dan secara berangsur-angsur, selama sekian tahun Roh Kudus pun membukakan Alkitab kepadaku lebih jauh.
“Tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah [membanggakan diri], selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab oleh-Nya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia.”
(Galatians 6:14 kjv)
Hanya satu hal saja yang paling dibangga-banggakan oleh Paulus, yaitu salib Tuhan kita, Yesus Kristus. Kalimat yang diucapkan Paulus itu sungguh luar biasa! Bayangkan, di zaman Paulus kayu salib itu bukanlah sesuatu yang patut dibangga-banggakan. Justru ia adalah simbol dari segala sesuatu yang memalukan dan membuat orang merasa jijik.
Pierre Barbet, seorang Katolik yang berprofesi sebagai ahli bedah menulis sebuah buku yang berjudul A Doctor at Calvary (Seorang Dokter yang “Mampir” di Bukit Kalvari). Dalam bukunya ahli bedah itu berusaha menjelaskan apa yang akan terjadi dengan tubuh jasmani seseorang apabila disalibkan. Persoalannya, selama dua abad belakangan ini belum pernah ada orang yang melihat orang dipakukan pada sebuah salib, dan karena itu tidak ada buku referensi yang dapat dijadikan acuan. Di situlah saya menyadari betapa kita sendiri pun kurang tahu-menahu soal salib itu, sehingga kita sendiri juga masih belum bisa memahami bagaimana kayu salib itu merupakan suatu simbol penyiksaan yang sedemikian memalukan.
Paulus tidak pernah membangga-banggakan silsilah Yahudinya atau gereja-gereja yang pernah dirintisnya atau mukjizat-mukjizat yang pernah disaksikannya. Yang dibangga-banggakannya hanyalah kayu salib itu. Semoga roh dan semangat yang sama juga ada dalam diri kita – sikap yang bersedia untuk melepaskan segala kebanggaan, kesombongan dan perasaan serba mapan – supaya kita dapat menyanjung salib Yesus itu dengan penuh kerendahan hati.
*Prayer Response
Terima kasih, Yesus, untuk karya-Mu di kayu salib. Ku-deklarasikan, aku akan selalu membanggakan salib Kristus, karena Yesus telah menanggung rasa malu yang ku alami, supaya diriku dapat ambil bagian dalam kemuliaan-Nya. Amin.
Kode: WD-B097-139-IND