Logo
Logo
Learn
Buku-bukuKursus AlkitabSumber
PenjangkauanTentang
Indonesia Flag Icon

Menu

  • Home
  • Learn +
    • Penjangkauan
    • Tentang +
      • Bergabung +
        • Kontak +

            Dapatkan eBook Gratis

            Mulailah koleksi Derek Prince anda dengan eBook gratis berjudul Bagaimana Beralih Dari Kutuk Kepada Berkat saat anda berlangganan buletin kami.

            Pengajaran Alkitab Gratis
            Logo
            Logo
            HomeLearnPenjangkauanTentangBerikan Donasi

            Hak Cipta © 2026 Pelayanan Derek Prince. Seluruh hak cipta

            KontakKerahasiaan PribadiHak CiptaLicensesPeta Situs
            Rumah
            Sumber
            “Mengabaikan Rasa Malu”

            “Mengabaikan Rasa Malu”

            Derek Prince

            Derek Prince

            Menyukai
            Membagikan
            Bahasa Indonesia

            *Article Language

            Kirimkan Kesaksian

            Menawarkan

            Memberi

            *First Published: 2008

            *Last Updated: Maret 2026

            2 min read

            Seringkali, berat penuh penderitaan Kristus di kayu salib terlewatkan, mulai dari mahkota duri yang ditekan ke kepala-Nya hingga rasa malu total karena ketelanjangan-Nya. Kenyataan yang begitu kejam ini justru menyingkapkan betapa dalam kasih-Nya dan mengapa Ia mengabaikan kehinaan itu demi kita.

            Berikut ini adalah sebuah laporan singkat mengenai apa yang terjadi sesudah Yesus ditangkap pihak yang berwajib di taman Getsemane. Pontius Pilatus menyerahkan Yesus kepada para prajurit tentara untuk dibawa pergi dan dihukum hati.

            “Kemudian serdadu-serdadu wali negeri membawa Yesus ke gedung pengadilan, lalu memanggil seluruh pasukan berkumpul sekeliling Yesus. Mereka menanggalkan pakaian-Nya dan mengenakan jubah ungu kepada-Nya. Mereka menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala-Nya, lalu memberikan Dia sebatang buluh di tangan kanan-Nya. Kemudian mereka berlutut di hadapan-Nya dan mengolok-olokkan Dia, katanya: ‘Salam, hai Raja orang Yahudi!’ Mereka meludahi-Nya dan mengambil buluh itu dan memukulkannya ke kepala-Nya. [Tentu saja, dengan setiap pukulan itu mahkota duri itu makin tertancap di kepala-Nya.] Sesudah mengolok-olokkan Dia mereka menanggalkan jubah itu daripada-Nya dan mengenakan pula pakaian-Nya kepada-Nya. Kemudian mereka membawa Dia keluar untuk disalibkan. … Sesudah menyalibkan Dia mereka membagi-bagi pakaian-Nya dengan membuang undi. Lalu mereka duduk di situ menjaga Dia.”

            (Matius 27:27–31, 35–36)

            Dalam kejadian ini sesungguhnya Yesus dua kali ditelanjangi. Lalu orang-orang itu duduk dan menonton Dia ketika tergantung di kayu salib selama tiga jam. Umumnya Yesus digambarkan tergantung di kayu salib dengan masih mengenakan kain cawat. Tetapi sesungguhnya ia tidak memakai kain cawat sama sekali. Ia digantung dalam keadaan telanjang bulat. Kemaluan-Nya dipertontonkan kepada semua orang yang lewat, yang semuanya mengejek Dia.

            Surat kepada warga Ibrani menegaskan kebenaran ini:

            “Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan [malu] tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia”

            (Ibrani 12:2).

            *Prayer Response

            Terima kasih, Yesus, untuk karya-Mu di kayu salib. Ku-deklarasikan, Yesus telah menderita malu demi diriku, karena mengalami penyaliban dan “mengabaikan rasa malu” – sebab Ia telah menanggung rasa malu yang ku alami, supaya aku dapat ambil bagian dalam kemuliaan-Nya. Amin.

            Aku Sudah Berdoa
            Menyukai
            Membagikan
            Expand Content

            What People Say

            See how “Mengabaikan Rasa Malu” has impacted lives across the globe.

            "I've applied the Biblical principles on family relationships from this teaching, and it has completely restored harmony in our home. My teenagers and I now have meaningful conversations about faith, and my marriage has been strengthened in ways I never thought possible."
            Elena R., Brazil
            "The teachings on spiritual warfare completely transformed my approach to daily challenges. I used to feel overwhelmed by life's obstacles, but now I understand how to stand firm in faith. This teaching gave me practical tools I use every single day."
            Sarah K., California
            "After 20 years of struggling with unforgiveness, the Biblical principles shared in this teaching helped me release the bitterness I had been carrying. The step-by-step approach to forgiveness wasn't just theory—it actually worked in my life when nothing else had."
            Michael T., United Kingdom
            "As a new Christian, I was confused about many aspects of faith. These teachings provided clear, Scripture-based explanations that helped build my foundation. I'm especially grateful for how the content made complex concepts accessible without watering down the truth."
            Priya M., India
            "The teaching on God's sovereignty during difficult times came to me exactly when I needed it most. After losing my job and facing health challenges, this message reminded me that God remains in control. It gave me hope when I had none left."
            James L., Australia
            "I've applied the Biblical principles on family relationships from this teaching, and it has completely restored harmony in our home. My teenagers and I now have meaningful conversations about faith, and my marriage has been strengthened in ways I never thought possible."
            Elena R., Brazil
            "The teachings on spiritual warfare completely transformed my approach to daily challenges. I used to feel overwhelmed by life's obstacles, but now I understand how to stand firm in faith. This teaching gave me practical tools I use every single day."
            Sarah K., California

            Kode: WD-B097-135-IND

            Hadiah
            Memberi
            Kirim Masukan