Dibebaskan dari Rasa Malu

Derek Prince
*First Published: 2008
*Last Updated: Maret 2026
2 min read
Perasaan terhina adalah perasaan yang kejam dan sungguh tidak enak, dan masih juga ada orang Kristen yang mengalaminya. Rasa terhina itu seringkali diakibatkan oleh pelecehan seks atau pelecehan secara emosional, misalnya karena ditertawakan teman-teman di sekolah.
Pernah saya membaca cerita bagaimana seorang bocah lelaki yang disuruh berdiri di depan kelas oleh kepala sekolahnya, kemudian kepala sekolah itu berkata kepada seluruh kelas: “Semua kamu telah lulus ujiannya, kecuali dia.” Betapa malunya perasaan anak itu sesudah kejadian tersebut.
Banyak pengalaman kita semasa kecil dapat menimbulkan rasa malu. Hal-hal yang paling lama terjadi seringkali meninggalkan rasa malu yang paling sulit untuk dibuang dan dilupakan. “First In, Last Out,” istilahnya dalam bahasa komputer. “Yang paling lama masuk, keluarnya yang terakhir.”
Boleh jadi, sumber yang paling utama dari rasa malu dalam masyarakat Barat adalah pelecehan seksual (bahkan di kalangan Kristiani). Saya sudah berhadapan dengan sekian banyak korban pelecehan seperti itu. Mereka hanya akan bisa terbebas dari rasa malu itu setelah mereka datang tersungkur di kaki salib.
Ucapan nubuat yang berikut ini menggambarkan apa yang sesungguhnya telah dilakukan Yesus bagi umat manusia:
“Tuhan ALLAH telah membuka telingaku, dan aku tidak berontak, tidak berpaling ke belakang. Aku memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku, dan pipiku kepada orang-orang yang mencabut janggutku. Aku tidak menyembunyikan mukaku ketika aku dinodai dan diludahi.”
(Yesaya 50:5–6)
Yesus berkata: “Aku memberi punggung-Ku.” Sesungguhnya Yesus tidak perlu disalibkan. Sebenarnya mudah bagi-Nya untuk memanggil 12 pasukan malaikat untuk menyelamatkan diri-Nya.
“(Lihat Matius 26:53.)”
Tetapi Ia tidak melakukannya. Ia memberikan punggung-Nya. Kita sudah melihat pencambukan yang dialami oleh Yesus seperti digambarkan orang, tetapi gambaran itu jauh dari kenyataan yang sebenarnya.
Sesungguhnya yang terjadi sungguh mengerikan, karena dalam cambuk yang dipakai diselipkan pecahan-pecahan tulang atau logam. Apabila terkena di punggung pasti akan merobek kulitnya dan dagingnya tercabik-cabik. Itulah yang dialami oleh Yesus untuk kepentingan kita.
Dan Ia tidak menyembunyikan wajah-Nya ketika dipermalukan dan diludahi orang. Yesus menanggung rasa malu kita ketika tergantung di kayu salib.
*Prayer Response
Terima kasih, Yesus, untuk karya-Mu di kayu salib. Ku-deklarasikan, di kayu salib Yesus telah membebaskan diriku dari rasa malu – sebab Ia telah menanggung rasa malu yang kualami, supaya diriku dapat ambil bagian dalam kemuliaan-Nya. Amin.
Kode: WD-B097-134-IND