Tubuh yang Hina

Derek Prince
*First Published: 2008
*Last Updated: Maret 2026
2 min read
Setelah anak manusia memberontak terhadap Tuhan, seluruh kepribadiannya turut menanggung akibatnya. Istilah yang digunakan dalam Alkitab untuk menggambarkan keadaan ini adalah korup (bejat). Setiap aspek kepribadian manusia terkena dampaknya – rohani, moral dan jasmani. Apabila secara jasmani kebejatan itu sudah terjadi, akhirnya adalah kematian.
Paulus berkata:
“… sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut [kematian], demikianlah maut [kematian] itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa” (Roma 5:12).
Melalui dosa, racun kebejatan/kebobrokan mulai memasuki kehidupan kita.
Satu Korintus 15:56 berkata:
“Sengat maut [kematian] ialah dosa.”
Untuk menyengat tubuh manusia dengan sebuah sengatan cukup ada seekor kumbang atau tawon. Demikian juga Iblis dapat menyuntikkan racun kebejatan/kebobrokan dan kematian itu melalui sengat dosa.
Semua manusia kini telah berubah menjadi makhluk-makhluk yang bejat. Di Filipi 3:21, menyebut tubuh kita:
“tubuh kita yang hina ini”.
Kita dalam kondisi “hina,” direndahkan, karena sudah memberontak terhadap Pencipta yang membuat kita. Sekalipun kita cukup sehat, kuat, kaya atau terkenal, semua kita harus berada dalam tubuh kehinaan. Boleh saja kita makan makanan yang paling wah dan minum minuman yang paling lezat, tetapi bagaimana pun juga kita akhirnya harus ke w.c. Boleh saja kita ini kuat dan sehat, tetapi ketika benar-benar sudah “warming up” maka tubuh kita mulai berkeringat, Kaya atau miskin, semua kita tetap berkeringat. Semua fungsi tubuh yang sudah ada pada kita itu mengingatkan kita bahwa kita semua adalah keturunan pemberontak dan pelanggar hukum. Akibatnya kita semua mengalami korupsi atau pembusukan.
Saya pernah lima tahun lamanya menjadi guru yang melatih calon-calon guru di Afrika, dan saya sungguh tertarik melihat kemampuan atletis warga Afrika itu. Lalu sering saya berkata kepada pemuda-pemudi yang berbadan kuat itu: “Jangan lupa, cukup seekor saja nyamuk anopheles hinggap pada kalian dan menyuntikkan jarumnya dalam tubuhmu, maka kamu akan menderita demam malaria yang mengerikan sekali.” Itulah tubuh manusia yang hina.
Untung ada berita gembira, bahwa Yesus telah mati di kayu salib untuk menebus diri kita, dan bukan hanya jiwa kita saja. Yesus telah menebus dan menyelamatkan seluruh insan manusia, yaitu tubuh, jiwa dan rohnya.
*Prayer Response
Terima kasih untuk tubuhku yang Kau sediakan, Tuhan. Ku-deklarasikan, Yesus mati untuk menebus kembali diriku dengan seutuhnya. Oleh sebab itu, tubuhku adalah untuk Tuhan dan Tuhan untuk tubuhku. Amin.
Kode: WD-B097-083-IND