Pentingnya Perjamuan Kudus

Derek Prince
*First Published: 2008
*Last Updated: Maret 2026
2 min read
Kita sudah melihat bahwa nyawa makhluk adalah dalam darahnya. (Lihat Imamat 17:11.) Jika kita menghendaki kehidupan (nyawa), memang perlu untuk mendapatkan darahnya. Hal itu kita lakukan dengan turut ambil bagian (makan dan minum) dalam Komuni, demikian juga dalam memberikan kesaksian.
Bagi saya, sekarang ini soal makan dan minum dalam upacara Komuni ini menjadi sangat penting. Paulus mengutip kata-kata Yesus di 1 Korintus 11:25 di mana Ia berkata,
“Perbuatlah ini, setiap kali [sesering kalian] menimumnya, menjadi peringatan akan Aku.”
Ada banyak gereja yang menafsirkan seolah-olah ayat itu mengatakan: “Sejarang kalian meminumnya.” Di antara semua kebaktian, yang paling indah yang pernah kuhadiri adalah kebaktian Perjamuan Kudus, dan saya telah mengikuti kebaktian demikian beberapa kali. Mengapa kebaktian tersebut begitu indah? Karena perjamuan kudus sesungguhnya menggarisbawahi kebenaran tadi.
Pada suatu hari saya dan Ruth, istriku, berkesimpulan bahwa kami mestinya sesering mungkin merayakan Perjamuan Kudus itu, tetapi kami merasa masih kurang sering melakukannya. Akhirnya, sebagai imam dan kepala keluarga, saya memutuskan untuk ber-Komuni tiap pagi hari, ketika kami berdua bersaat teduh. Dengan ini saya tidak mengatakan, semestinya semua orang Kristen pun harus demikian. Tetapi sebagai keluarga, kami bersyukur bahwa kami telah melakukannya. Kami merasa ada sesuatu yang hilang, seandainya tidak kami lakukan.
Setiap hari saat kami ber-Komuni, kami pun berkata: “Kami menerima roti ini sebagai daging tubuh-Mu dan air anggur ini sebagai darah-Mu.” Hal ini kulakukan dengan sederhana namun secara spesifik, dengan berkata: “Tuhan, kami melakukan ini untuk memperingati Engkau. Kami memproklamasikan kematian-Mu sampai Engkau datang lagi.” Di dalam ber-Komuni, yang kami ingat mengenai masa lalu kami tiada lain kecuali hanya kayu salib, dan tidak ada masa depan lain kecuali kedatangan Yesus nanti. Kami merayakan Perjamuan Kudus dengan mengenang akan kayu salib sampai Yesus datang kembali.
Mudah-mudahan apa yang kami sampaikan ini mendorong semua untuk merenung kembali, benarkah kita sudah sungguh-sungguh memanfaatkan kehidupan (nyawa) yang terdapat dalam darah Yesus bagi diri kita sendiri?
*Prayer Response
Terima kasih untuk darah Anak Domba, ya Tuhan. Melalui Perjamuan Kudus aku menerima kehidupan yang terdapat dalam darah Yesus dan ku-deklarasikan: akan kukalahkan Iblis melalui darah Anak Domba dan perkataan kesaksianku, dan aku pun tidak menyayangi nyawaku sendiri sampai ke dalam maut. Amin.
Kode: WD-B097-074-IND