Salib yang Tidak Mengenal Ampun

Derek Prince
*First Published: 2008
*Last Updated: Maret 2026
2 min read
Ada orang-orang yang tidak pernah berhenti bergumul dengan rasa takut, depresi, rasa kesepian, hawa nafsu atau pun rasa marah. Penasihat yang memberi konseling paling-paling bisa membantu sampai batas tertentu. Tetapi pada akhirnya solusi sebenarnya ada di tangan kita sendiri, yaitu di kayu salib. Kita harus mengenali sifat-sifat yang disebut tadi yang terdapat dalam diri kita, serta kapan dan di mana ia itu mulai ada.
Dalam pelayanan pelepasan biasanya ada dua setan yang berfungsi sebagai penjaga pintu. Merekalah yang membukakan pintu untuk setan berikutnya yang ingin masuk. Para penjaga pintu tersebut adalah roh “kasihan terhadap diri sendiri” dan roh “jengkel.” Rasa kasihan kepada diri sendiri merupakan suatu senjata Iblis yang sangat kuat, sedangkan kejengkelan (rasa “sebal”) itu jangan sekali-kali kita biarkan dalam diri kita.
Pada suatu saat tertentu kita harus bersikap keras dan tidak mengenal ampun. Kayu salib memang tidak mengenal ampun, tak ada sesuatu yang menyenangkan, menarik atau manis mengenai kayu salib itu. Tetapi kita bersyukur kepada Tuhan atas kayu salib itu, karena memang itulah jalan keluarnya. Itulah persediaan dari Tuhan.
Sebagian besar kita mempunyai “dosa yang tidak pernah mau lepas dari diri kita”. Itulah dosa yang sudah begitu terbiasa dilakukan, sehingga kita mengira hal itu memang sudah menjadi bagian dari diri kita. Sulit bagi kita untuk membenci dosa itu, karena itu sama seperti membenci diri sendiri. Yang menarik, dosa yang menghinggapiku adalah juga masalah yang dihadapi oleh ayahku, sebelum aku lahir. Anak memang mewarisi banyak hal dari orang tua mereka, dan beberapa pola perilaku tertentu sudah berurat akar. Saya melihat perilaku-ku persis sama seperti perilaku ayahku sendiri.
Kita perlu minta Roh Kudus untuk menunjukkan sifat dari masalah yang kita hadapi. Langsung sebut saja namanya yang tepat (boleh jadi namanya kurang begitu sedap didengar) – entah itu hawa nafsu, dusta, atau kesombongan. Lalu kita harus berkata: “Melalui Yesus (hal tersebut) telah dipakukan di kayu salib. Aku menaruhnya pada kayu salib. Aku menolak untuk terus dikuasai olehnya. Sekarang aku sudah bebas karena salib itu.”
*Prayer Response
Terima kasih, Tuhan, karena darah Yesus. Ku-deklarasikan, dosa yang menguasai hidupku selama ini (sebutkan di sini) telah disalibkan melalui Yesus. Aku telah menggantungkannya di kayu salib. Aku takkan mengijinkannya menguasai diriku lebih lama lagi. Iblis tidak lagi mempunyai tempat pijakan dan tidak lagi mempunyai kuasa atas diriku, dan tidak lagi ada sangkutan perkara denganku. Semuanya telah dibereskan oleh darah Yesus! Amin.
Kode: WD-B097-055-IND