Betapa Besarnya Kuasa dari Disiplin Puasa

Derek Prince
*First Published: 2008
*Last Updated: Maret 2026
2 min read
“Sesungguhnya, pada hari puasamu engkau masih tetap mengurus urusanmu, dan kamu mendesak-desak [mengeksploitasi, teks bahasa Inggris] semua buruhmu. Sesungguhnya, kamu berpuasa sambil berbantah dan berkelahi serta memukul dengan tinju dengan tidak semena-mena [dengan tinju kejahatan, teks bhs Inggris] … Sungguh-sungguh inikah berpuasa yang Kukehendaki, dan mengadakan hari merendahkan diri, jika engkau menundukkan kepala seperti gelagah …?” (Isaiah 58:3–5)
Bagi masyarakat Yahudi yang digambarkan di sini, puasa tidak lebih dari suatu ritual agama yang sudah menjadi tradisi/ kebiasaan, seperti cara berpuasa yang dilakukan oleh kaum Farisi pada zaman Yesus. Semestinya orang benar-benar bertobat dari dosa dan merendahkan diri, tetapi mereka tetap saja meneruskan kegiatan duniawi mereka yang biasa dan mereka tetap saja serakah, mementingkan diri, sombong dan suka menindas orang kecil.
Sebaliknya, puasa yang menyenangkan hati Allah lahir dari motivasi serta sikap yang sama sekali berbeda:
“Supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya, dan mematahkan setiap kuk” (ayat 6).
Menurut Alkitab dan juga dari berbagai pengalaman, kita tahu bahwa ada banyak ikatan belenggu yang sulit untuk dipatahkan, beban yang sulit untuk diringankan. Begitu juga, banyak penjajahan yang tidak mungkin untuk diakhiri, serta banyak orang tertindas yang takkan pernah dilepaskan pergi. Kecuali umat Tuhan – dan khususnya para pemimpin mereka – mulai patuh kepada seruan Tuhan untuk melakukan puasa yang sejati dan berdoa.
Selanjutnya Nabi Yesaya menunjukkan bagaimana sikap yang seharusnya terhadap orang-orang yang berkekurangan dan tertindas itu:
“Supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!” (ayat 7).
Puasa perlu disertai tindakan sosial yang tulus dan praktis sehubungan dengan orang-orang yang ada di sekeliling kita – terutama orang-orang yang memerlukan pertolongan kita dalam hal materi dan keuangan.
*Prayer Response
Terima kasih, Tuhan, karena darah Yesus. Aku akan menaati seruan Tuhan untuk berpuasa dan berdoa, sebagai cara yang ditetapkan Tuhan untuk melepaskan ikatan-ikatan, melepaskan beban yang berat , membebaskan orang yang tertindas, dan mematahkan belenggu. Ku-deklarasikan, Iblis tidak lagi mempunyai tempat pijakan dan tidak lagi mempunyai kuasa atas diriku, dan tidak lagi ada sangkutan perkara denganku. Semuanya telah dibereskan oleh darah Yesus!
Kode: WD-B097-054-IND